Antariksa menyeringai puas. Ia yakin, ayahnya akan memukuli Ares. "Percaya sama Anta, Pa. Habis tawuran dia!" Antariksa terus menghasut ayahnya. Ares menatap Antariksa dengan tajam. Ia kemudian melirik ayahnya. "Ares gak tawuran, Pa. Ares bener-bener di keroyok." Iqbal hanya diam saja. Raut wajahnya sangat sulit diartikan. "Ra, ambilin P3K, terus kamu obatin dia. Jangan lupa juga, panggil tukang pijit, supaya kakinya gak terkilir lagi," ucap Iqbal berhasil membuat mereka bertiga tercengang. Antariksa membulatkan kedua matanya. Ia tidak percaya, jika ayahnya mengatakan seperti itu. "Pa! Papa apa-apaan sih, masa gak percaya sama Anta?!" Iqbal melirik Antariksa. "Sana kamu kembali ke kamar." Antariksa menatap ayahnya sangat kesal. Ia melirik Ares serta ibunya sekilas, lalu langsung p

