"Gue mau kita putus." Tubuh Jihan bagai di sangat listrik, mendengar kalimat yang barusan Ares ucapkan. Gadis itu membeku di tempat, dengan wajahnya yang terlihat terkejut. "Pu--putus?" ulang Jihan dengan kedua matanya yang sudah memerah. "Gue rasa udah cukup, Han. Apa yang gue mau udah terwujud. Jadi, gue mau kita putus." "Salah aku apa, Res? Kenapa kamu tiba-tiba kayak gini sama aku? Bukannya kamu bilang, kalo aku itu adalah penyemangat hidup kamu? Tapi apa sekarang? Kenapa kamu kayak gini sama aku?" lirih Jihan. Air matanya sudah lolos keluar, membasahi pipi. Ares terdiam di tempat. Ia menatap Jihan yang sudah menangis. Hatinya ikut sakit, melihat Jihan terluka seperti ini. Namun, ia juga tak mau terus menyakiti Jihan. Jihan memajukan satu langkah, lebih dekat dengan Ares. Ia

