Ares merebahkan tubuhnya di atas kasur. Kedua netranya menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Kata-kata Antariksa tadi jadi berputar dengan jelas di otaknya. "Apa gue, harus kasih tau Papa, soal Jihan?" gumam Ares masih ragu-ragu. Ia takut saja, jika ayahnya tak mengizinkan dan menentang hubungannya dengan Jihan. "Tapi kalo Papa gak ngerestuin gimana?" lanjut Ares seraya memijit keningnya yang terasa pusing. Ia tidak tau harus apa, namun kata-kata Antariksa terus berputar menghantui pikirannya. Bagaimana, jika itu benar-benar terjadi? ••••π•••• "Gue mau minta restu sama Papa," ucap Antariksa tepat di depan wajah Ares. Ares terdiam beberapa saat, dengan ucapan Antariksa. Ia tak percaya, jika Antariksa bisa sampai secepat ini. "Lo serius?" tanya Ares. "Lo pikir gu

