Semenjak kepergian Fahri tadi siang, Naja terus mengurung diri di dalam kamar. Ia menjadi teringat kejadian lalu yang dirinya dan Fahri kepergok sedang tumpang tindih. Kesal dan malu memang, tapi saat ini malah rindu masa-masa itu. Naja menatap keluar jendela rintik-rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Naja beranjak dari ranjangnya dan melangkah menuju meja belajarnya dulu. Ia membuka laci dan mengambil sebuah kotak di dalamnya. Sebuah bola salju Kristal musik di keluarkan dari dalamnya. Terdapat sepasang boneka yang sedang tersenyum. Naja mengusapnya dengan sayang tak terasa bulir air matanya menetes. Ini adalah kado saat Naja berumur sepuluh tahun, saat itu Naja merengek untuk dibelikan, namun Fahri malah acuh tak acuh. Kala itu. “Mas, Naja pengen itu.” Naja menunjuk salah satu

