Fahri memberanikan diri untuk memasuki rumah orang tuanya hanya bermodalkan nekat. Keringat dingin sudah menjalar keseluruh tubuh dan jantungnya terpacu dengan kencang. Ada firasat yang buruk akan terjadi. Kedatangannya di sambut hangat oleh sang mama. “Fahri, Naja mana?” tanya sang mama dengan mata yang berbinar. Fahri yang mengetahui bagaimana kebahagiaan terpancar di mata sang Mama tak tega apa bila harus mengatakan masalah yang sesungguhnya. “Pasti kamu capek. Ayo masuk dulu.” Sang mama mengapit lengan Fahri membawa masuk sang anak menuju ruang makan. “Pasti kamu laper banget ya? Kok tubuh kamu kurusan sih? ini lagi, kenapa jambang kamu jadi tebel banget kek bulu keteknya mang ujang?” canda sang mama. Fahri hanya tersenyum tipis. “Mama ambilin nasinya ya?” tiga centong nasi sekalig

