Duduk ditaman di sore hari memanglah sangat menenagkan. ditemani musik rilexing dan setumpuk mangga muda di sampingnya. Naja mengunyah tanpa henti, Elrad yang melihatnya saja ngilu. Naja memakannya tanpa beban sama sekali. Dengan di tambah cococlan garam. “Kak Elrad kenapa? Mau mangga?” Elrad menggeleng, “Enggak, Kakak litanya udah ngilu.” “Kan belum di coba.” Naja tetap menyodorkan manga muda itu, memaksa agar Elrad memakannya. “Kakak nggak kuat asem Ja.” “Kakak, makan.” Paksa Naja. “Kakak nggak bias—“ ucapan Elrad terenti karena dering ponsel miliknya, Elrad melihat siapa penelfon itu, “Naja, bentar ya Kakak mau angkat telfon, biar Rose yang nemenin kamu makan mangganya.” Naja hanya mengangguk polos serta tatapan bingungnya punggung Elrad sudah menghilang pun Naja masih tetap bi

