Dua tahun sudah, aku dan Juan menjalin kasih, sejak pertahananku Jebol di malam itu. banyak burung berkicau di sekelilingku, hubunganku dan Juan sudah bukan rahasia lagi, kami memang tidak ingin menyembunyikan hubungan ini, sudah sering kali Juan memintaku untuk menikah dengannya, aku belum siap, aku masih mau bersama Ayah.
"Beri aku waktu Juan, sampai ayse masuk TK, aku akan menikah denganmu '" itulah janji dan jawabanku atas permintaan Juan.
Juan menjadi pria yang sangat manja dan posesif, dari pagi sampai malam gak bosen dia sama aku, bahkan aku tidak diperbolehkannya. menemui sahabat - sahabatku yang lain, aku sih senang saja, terkadang aku juga bosan, aku mau punya waktu untuk sendiri.
Ayah, pria yang sangat pengertian, tidak sekalipun ayah menanyakan keseriusan hubungan kami.
"Sayang .... temui aku di parkiraan, sekarang ya.... " perintah Don Juan di seberang saluran telfon.
Jangan berharap aku menuruti permintaannya, ini kantor apa aku harus bolos di jam kerja? gak akan.
Biarkan saja dia marah, dia memang atasanku, dia memang kekasihku, tapi aku tidak bisa bertingkah semauku saja, aku harus tetap profesional.
"mba Rindu .... di panggil bapak di ruangannya, sekarang mba, katanya berkas yang kemaren harus di serahkan sekarang " Delima mengabariku.
Aku tahu Juan, ini hanya akal - akalannya saja, biarlah gak akan aku gubris toh gak ada berkas yang harus aku serahkan.
" Mba. ... please temui bapak dulu ... jika Mba tidak ke sana saya akan di pecat Mba "
"Hmmm baiklah.... kembalilah kerja " dengan segan aku mengambil asal beberapa berkas di hadapanku, kasihan juga Delima jika harus di pecat karena aku
"Mba, sudah di tunggu dari tadi, bapak sudah uring - uringan " susan sekertaris yang baik dan Cantik
aku mengetuk pintu tiga kali, tak ada jawaban, ku buka pintu, JUAN ayik di meja kerjanya. baiklah..., aku pun sedang banyak kerjaan lebih baik aku kembali ke mejaku saja.
"Sayang... mau kemana ?"
"kembali ke mejaku, kau sedang sibuk kan ?" aku berbalik nanya
"Sayang .... aku mau.... " bisiknya di relingaku
"gila kamu ini kantor sayang "
" Aku sudah mengajakmu, tapi kamu tidak mau "
"Aku .... "
kami b******u di atas meja kerja, di mana pun kami bisa b******u, kami kecanduan, nikmat yang tak terkira, bahkan aku selalu ketagihan, Juan cukup gila mempermainkan Tubuhku.
"Sayang .... peganglah " jemarinya menuntun jemariku ke celana yang tengah tegang, aku faham, dia nagih, ku tatap mata kekasihku. pelan tapi pasti Juan membuka retsleting celana pantalonnya.
"kulum sayang. ... ini nikmat, kau pun akan suka. " Juan sudah benar - benar h***y, kasihan juga melihatnya... ini pengalaman pertamaku mengulum pisang Juan.
"Sayang .... ini terlalu besar gak akan muat sayang ..... " belum juga selesai bicaraka, pusaka itu sudah masuk ke dalam mulut ku, benar kata Juan ini nikmat.
kami Pindah ke dalam kamar kantor, di ruang Juan memang tersedia kamar untuk istirahat, entah berapa jam kami bergulat namun tidak bisa memuaskan Juan, di selalu nangih minta tambah, tubuhku sudah terkulai lemas.
"nikmat sayang ? " tanyaku, setelah satu jam kami bertempur
"Kamu hebat sayang, membuatku kurang dan ketagihan "
Aku bangun dan membersihkan diri di kamar mandi, mandi Junub, sudah dua tahun ini kami berdua menjadi pendosa, di setiap kesempatan kami selalu berzina, sebenarnya, sejak malam pertama itu, aku berjanji pada diriku sendiri, aku tak mau mengulangi perbuatan haram itu lagi.
Bukan tanpa sebab aku berjanji pada diriku sendiri, aku tak ingin hamil, aku tak ingin menikah, aku tak ingin mengalami hal yang sama seperti Ayah, Ayah di tinggalkan ibu demi pria lain, pria yang lebih tajir dari Ayah. apalah dayaku jika Juan meninggalkan aku dan anak kami, aku gak sanggup, bahkan membayangkan saja membuatku sakit.
Adzan dzuhur, sudah tiba, kami berdua pendosa .... tapi kami tidak pernah melewati shalat berjamaah ketika kami bersama, biarlah dosa dan pahala kami menjadi hitungan Allah saja. jika aku yang harus menghitung sendiri, aku gak akan sanggup.
Juan menggelar sejadah, di ruang kerjanya.
Susan, sekertaris cantik Juan masuk ketika kami selesai sholat berjamaah.aku sedang melipat mukena dan Juan melipat sajadah
"maaf mengganggu,,, saya kira.... "
"jangan terlalu banyak berfikir yang negatif tentang kami, jika masih mau bekerja di sini"
" maaf Pak, tolong di tanda tangani saja pak"
"berikan .... nanti saya tanda tangan. "
"Juan tanda tangani sekarang, jangan menundanya, nanti lupa"
"siap bu bos,.... oh ya beresin menjamu, kita jemput ayse"
****
Jalanan Kota Jakarta di Jam segini macetnya ampuun, panas enggap, aku gak tahan lagi benar-benar gak bisa bernafas, dadaku serasa sesak. Juan asyik dengan laptopnya..... Pak Hendra fokus dengan stir mobil.
"Sayang, kamu beli motor deh, aku bosan duduk lama -lama di mobil nga bisa nafas, panas, gerah, aku gak sanggup"
"Tumben cerewet, .... kamu hamil sayang ? " Juan memelukku dan mengusap perut datarku.
"entahlah ..... dan jangan sok tahu " jawabku sambil mendorong dadanya.
"Hei .... kenapa ?" Juan protes
"Bau.... " jawabku
Juan yang sabar, dia kembali asyik dengan pekerjaannya, aku semakin sesak, hari ini benar-benar macet dan panas, ac di dalam mobil tidak bisa membuatku nyaman, tetap saja aku kepanasan. ini bukan merambat pelan tapi benar-benar berhenti jalan, aku sudah ga kuat lagi, akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari mobil, Juan memanggil Ku seperti orang gila,dan aku gak perduli.
Pohon besar dan rindang jadi Tujuanku, lega....lega sekali rasanya, aku bisa bernafas, paru -paruku seperti terisi lagi oleh oksigen yang baru, sejurus ku perhatikan beberapa pasukan orange sepertinya sedang istirahat. mereka asyik berbincang - bincang, mereka orang -orang kecil yang berjiwa besar, buat mereka apapun pekerjaan yang mereka jalani dan berapapun upah yang mereka terima, adalah suatu anugerah bagi mereka yang penting kerja halal.
"hayo ...kembali ke mobil, banyak debu, asap, jangan banyak tingkah " Juan menarik lenganku kasar sekali
" aiish, lepaskan sakit, lihat Juan lenganku jadi merah"
"Dengar .... jangan buat aku gila dan hilaf, paham."
" Dengar ya Tuan Juan, saya gak akan ikut dengan anda, saya tidak bisa bernafas di dalam mobil, jantung dan paru -paruku serasa saling berhimpitan, perutku keram, kamu gak ngerti kan kalo aku gak bisa bernafas, kamu terlalu asik dengan pekerjaan kamu. aku mau naik ojek saja, pergilah, jangan mendekat kamu terlalu bau " Aku benar-benar marah, aku gak mau jika harus balik ke dalam mobil.
"astagfirullah, kan kamu tahu sendiri kalo aku sudah mandi, apa kurang banyak aku pakai parfum? Juan bertanya dengan nada yang masih tinggi.
Aku tak tahan di marahi seperti itu, hatiku terasa sakit Juan tak pernah membentakku seperti saat ini, air mataku meleleh.... Juan memelukku membawaku ke dadanya. para pengguna jalan sesekali melirik ke arah kami.
"maaf Tuan, ini ada apa ya? " seorang Satpol PP menghampiri kami.
"oh tidak pak, ini isteri saya gak tahan macet" jawab Juan
"Sedang Hamil ya ? kasihan pak naik ojek saja, di depan ada mobil box minuman terbalik kemungkinan akan lama. kasihan. isterinya Tuan.
kami berdua duduk di bangku panjang, angin semilir membuatku merasa senang, Juan entah sedang menelfon siapa, aku ga perduli, palingan juga staf kantornya "
Satu jam, perutku terasa lapar,suaranya sampai terdengar keluar, Juan cukup terpingkal - pingkal mendengar nyanyian dalam perutku.
"Lapar ya ? Anak papah lapar? " di usapnya perut datarku
"Hmmm ..... kamu sih maennya kelamaan, aku jadi lapar" aku mulai menangis lagi. Juan mulai kebingungan, aku sendiri pun tidak mengerti mengapa aku jadi gampang sekali menangis.
"astagfirullah .... oke...oke aku minta maaf ga kan bilang apa- apa lagi " Juan mengecup keningku.
Tidak berapa lama Romi datang dan menyerahkan kunci, aku sudah panik, dadaku bergemuruh, nafasku sudah sangat cepat, aku gak mau naik mobil, aku serasa masuk neraka saja jika di dalam mobil.
"Tenang sayang, kita gak naik mobil, Romi bawa motor dia yang akan pulang sama pak Hendra, tenang ya, tenang" aku masih saja ketakutan dalam pelukan Juan.
"Tidak usah jemput ayse, kalian sudah sangat terlambat, ayse sudah di rumah, tadi dia pesan ice cream tiramitsu, dan kau kakak ipar kenapa? "
" Juan, suruh dia pergi, aku gak tahan baunya" bisikku.
"pergilah, dan kau saja yang belikan ice cream untuk ayse, makanlah, jangan tunggu kami, bilang sama Mamah atur kamarku di bawah"
"Di bawah? kau yakin?apakah Rindu...."
"Romi ..... pergilah aku gak tahan baumu" aku mulai menangis lagi
Akhirnya, kami menyusuri jalanan Ibu Kota dengan motor Bebek, beberapa kali hatus berhenti di jalan karena perutku terasa seperti di aduk-aduk.terkadang berhenti karena Ku mau jajan. jajan pinggir jalan, mangga kupas besar, beserta sambalnya membuat air liurku mengalir, kami makan tahu gejrot di pinggir jalan, minum es cendol, pokoknya semua itu nikmat, sangat nikmat. alhamdulillah Juan tidak entah protes makanan pinggir jalan, bukan karena dia sayang padaku saja, karena dia memang suka jajanan pinggir jalan. bos yang rendah hati. gak sok belagu. ... seperti CEO tampan lainnya.
Kami tidak pulang ke rumah Juan, kami pulang ke rumahku, Ayah hari ini masak sayur asam dan kawan-kawannya, Ayah memang sangat suka memasak, dan masakan Ayahku paling enak deh.
"Rindu .... Juan.... ayah pergi ya.... kalian jangan macam- macam" Ayah berpamitan pada kami, ketika kami baru saja tiba
"ke mana Ayah ?" tanyaku
"Bandung" jawab Ayah
Apa Bandung? mengapa Ayah sering kali pergi ke Bandung? bahkan terkadang menginap sampai beberapa hari, aku jadi penasaran tapi aku tak berani bertanya, takut Ayah tersinggung.
Kami berdua, hanya berdua, senja mulai naik, Juan belum bangun juga dari tidurnya, selepas shalat ashar dia terlelap di kamarku, kamar yang tidak terlalu luas.
wajahnya yang tegas, jambangnya yang sengaja di pelihara, aku suka jambangnya yang rapi, hidung mancungnya, benarkah dia lelakiku? benarkah di mencintaiku, dengan segala kekuranganku? apakah memang dia mampu? ku elus perut datarku, aish. ... kenapa aku mengelus perutku sendiri ?
benarkah aku hamil? Ya Tuhan.jangan kau titipkan. padaku makhluk lucu itu, aku bukan ibu yang baik, besok pagi aku harus periksa tidak boleh tidak.