Aku berdiri mematung melihat lelaki yang saat ini duduk di hadapanku. Dia memakai setelan jas berwarna hitam, kemeja putih dipadukan dengan dasi hitam pula. Dia lelakiku, lelaki yang selalu ada di dalam pikiran dan hatiku. Lelaki yang sukses membuat hatiku porak poranda karena pengkhianatan yang dia lakukan terhadapku. Lelaki yang papanya memberi hinaan demi hinaan karena aku bukan si kaya. Akan tetapi, bodohnya aku karena aku masih saja mencintainya. Aku tak bisa mengelak perasaanku ketika berada di dekatnya. Logikaku kalah dengan hatiku, baru saja bibi meneleponku dan menanyakan perihal perasaanku terhadap lelaki yang saat ini masih menatapku dengan tajam. Aku harus bisa melawan perasaan ini, bagiku keluarga lebih penting dibandingkan dengan kekasih. Aku tidak bisa membalas apa pun pad

