Tidak seperti biasanya, Gallen belum bangun ketika Quintessa membuka mata di pagi hari yang cerah ini. Lelaki tampan itu masih terlihat nyenyak dalam tidurnya. Mata gadis berambut pirang pun memandang pada wajah tampan yang bukan miliknya. Ada rasa sesak di dalam hati karena sebentar lagi, mereka akan berpisah. "Aku pasti akan merindukanmu," bisik Quintessa sambil duduk. Saat itu pula, sebuah ide nakal terlintas di kepalanya. Meski agak ragu, Quintessa akhirnya mendekatkan wajah. Bermaksud meraih bibir Gallen yang tak diberi pengamanan. Cup! Quintessa terkejut ketika merasakan sesuatu yang aneh. Dia langsung membuka mata. Mendapati bahwa dirinya telah berada di tempat lain, mengecup dedaunan semak. "Apa yang terjadi?" tanyanya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Hanya ada pepohonan

