Manik Quintessa mengintip dari balik dedaunan semak yang berada di samping pohon. Dia menatap lurus pada tembok yang menjulang tinggi. Terdapat banyak sulur yang merambati. Menambah kesan mengerikan bagi istana Catherine ini. "Bisakah aku melompatinya?" gumam gadis itu seraya meneguhkan hatinya. Quintessa melakukan roll depan. Berakhir di atas rerumputan. Kepalanya nyaris saja membentur dinding terluar istana. "Well done, Quin," bisiknya lirih, lalu merapatkan diri ke tembok. Bagaikan seekor cicak yang tengah merayap. Gadis itu meraba sulur dan menariknya. Dengan cara itu, dia bisa tahu kalau sulurnya sangat kuat. Tidak mudah putus. "Aku bisa memanjat menggunakan ini," ucap gadis berambut pirang sambil mencoba naik. Memang, tangan jadi sedikit sakit. Tapi Quintessa tidak ingin menye

