Baru selesai sarapan, Neirra merasakan pergerakan kapal yang cukup aneh. Tanpa berkata-kata, dia bangkit. Keluar untuk mengecek keadaan. Semakin mendekati pintu, guncangan kapal berangsur normal. Hingga akhirnya, tak ada keanehan yang dirasa oleh Neirra. Tapi dia tetap melongok ke luar. Rasanya tak lega kalau belum menengok keadaan sekitar. "Ini aneh," gumamnya sambil memandang lautan. Terlihat tenang dengan ombak kecil yang tak berbahaya sama sekali. Tapi tetap saja, Neirra merasa ada yang mengganjal di hatinya. Penyihir itu lalu mengembuskan napas kasar. "Ada yang usil?" tebaknya sambil memandang pada langit biru. "Atau Catherine tahu kita mau berkunjung," sambung Villana yang mendekat sambil menyesap segelas jus jeruk. Neirra menoleh. Dia lalu menggoyangkan kepala ke kanan dan ke

