Pertemuan dengan Villana tidak menghasilkan apa pun kecuali perseteruan. Gallen pun pulang dengan tangan kosong. Wajahnya terlihat sangat kusam, bahkan dapat disamakan dengan benang kusut. Lemas sekali dia saat mengetuk pintu, menunggu Quintessa untuk membukakan. Padahal lebih simpel kalau Gallen mengunci pintu. Pasti akan lebih mudah dan tidak memberatkan istrinya. "Sweetheart, kau sudah tidur?" tanya Gallen dari luar ruangan. Gadis yang sebenarnya tepat berada di balik pintu pun mengembuskan napas kencang. Terselip rasa kasihan di hatinya meski dongkol dengan Gallen seharian ini. Terlebih suara suaminya terdengar lemas, bagaikan orang yang tidak makan seharian. Dengan perasaan yang masih ragu, Quintessa berbalik badan. Sekarang yang perlu dia lakukan hanya memutar kunci dan menarik

