Manik Quintessa terpaku pada permen kapas aneka rasa yang tersaji di hadapannya. Terakhir kali, dia melihatnya saat berusia sepuluh tahun. Rasa yang ditawarkan juga tidak beragam. Bentuknya pun lonjong, tidak aneh-aneh seperti ini. "Mau yang mana?" tanya Gallen saat melihat istrinya hanya diam di tempat. Padahal di belakang, sudah ada orang lain yang mengantri. Quintessa terkesiap sebelum menjawab, "Terserah." Gallen menghela napas kesal. Quintessa yang meminta, tapi malah dia yang harus menentukan. Lelaki itu pun melihat-lihat sebentar. Pilihan pangeran jatuh pada sebuah permen kapas berbentuk buket bunga teratai. Mata Quintessa berbinar senang. Bahkan dia sampai bertepuk tangan, layaknya seorang anak kecil. "Astaga," desis Gallen saat melihat reaksi Quintessa. Penjual permen kapas

