Quintessa menggulingkan tubuhnya ke kanan. Sesaat kemudian, dia merasakan sesuatu yang keras. Hawa dingin menjalar di bagian tubuh yang terantuk sesuatu itu. Penasaran dengan apa yang ditabraknya, Quintessa membuka mata perlahan. Namun seketika, dia melotot tidak percaya. Ada sebuah dinding yang menjulang tepat di hadapannya. "Bagaimana bisa?" batin gadis itu seraya menaikkan pandangan, beralih memandang atap yang sangat asing. Quintessa mengernyit heran. Ini bukan kamarnya. Jadi, di mana? Bangkit sambil bertanya, "Gallen benar-benar menculikku?" "Mengapa kau terobsesi untuk diculik olehku?" sahut lelaki itu tiba-tiba. Keterkejutan Quintessa lengkaplah sudah. Setelah terbangun di tempat asing, Gallen menyahut tiba-tiba. Sepertinya Quintessa harus melatih jantungnya untuk bertahan leb

