Tidak ada hambatan berarti yang dilalui oleh mereka hingga hampir mencapai pulau sihir. Serbuk moon flower buatan Neirra pun siap untuk digunakan. Villana juga sudah sadar dari pingsannya. "Kau mau menunggu di kapal atau ikut turun?" tawar Neirra. Elf di depannya berdecak sebal. "Tentu saja aku ikut! Untuk apa jauh-jauh kemari hanya untuk berdiam diri di kapal!" Wajah Villana bersungut-sungut. Dia sungguh kesal karena Neirra seperti meremehkan dirinya. "Jangan membuat kami repot," pesan penyihir cantik tersebut sembari memasukkkan beberapa macam ramuan ke dalam tas. "Hm," sahut Villana singkat sembari bangkit dari tempat tidurnya. Neirra mengembuskan napas kasar. Penyihir itu lalu memandang pada jendela. Terlihat olehnya hamparan laut biru disertai dengan pasir pantai putih bersihnya

