Gallen kembali menyelimuti istri cantiknya sambil menatap penuh penyesalan. Dibelainya rambut Quintessa dengan penuh kasih. Seperti perlakuan seorang kakak pada adiknya. "Maaf. Seharusnya aku mendengarkan pendapat Villana," sesalnya sambil merapatkan diri. Mendekap tubuh Quintessa yang dingin. Tangannya terus saja bergerak memberikan belaian, dengan harapan gadis itu lekas sadar. Gallen takut kalau Quintessa tidak terselamatkan. Tujuh menit berlalu. Belum ada tanda-tanda Villana akan kembali. Gallen mulai merasa risau. Berkali-kali dia memandang pada bagian dalam gua yang gelap. Satu-satunya penerangan adalah cahaya elf milik Villana. "Apa dia menemui masalah?" batin Gallen khawatir. Satu penyesalan belum usai, datang penyesalan lain. Dia menyesal karena telah meminta Villana untuk ma

