“Oh, sialan! Kau juga meremehkanku, ya? Julia, aku bisa berdiri tanpa bantuan obat sialan itu, kau tahu?” Samuel menyunggingkan senyum tipis di bibirnya, meski nada gerutunya memancarkan kesal yang tak mampu ia sembunyikan. Ia kembali menyantap pasta di hadapannya dengan gerakan yang sedikit lebih kasar dari biasanya. Julia tertawa kecil, senyuman manisnya terlukis indah, membuatnya tampak seperti lukisan hidup yang sulit untuk tidak dipandang. Ia menatap raut wajah Samuel yang kesal dengan cara yang menurutnya sangat menggemaskan. “Aku percaya,” ucapnya lembut, suaranya mengalun seperti nyanyian yang meredam badai kecil di hati Samuel. Samuel menoleh perlahan, mata tajamnya kini melunak saat menatap wajah Julia. “Benarkah? Maksudku … aku—” Kata-katanya terputus, seperti tersangkut

