Samuel menggaruk kepalanya, seperti mencoba mengusir awan kelabu yang mendadak menggantung di benaknya. Ocehan Mark, yang sedari tadi berkutat pada cara melenyapkan orang-orang yang mengancam keluarga Evander, terasa seperti badai yang terus berputar tanpa henti. Setiap kata yang keluar dari mulut ayahnya seperti serpihan pisau, menusuk-nusuk pikirannya yang sudah lelah. “Sam! Apa kau mendengarkanku?” suara Mark memecah lamunannya, diiringi dengan sebuah pulpen yang melayang cepat dan mendarat tepat di bahunya. Samuel mendesah panjang, mengusap bahunya yang terkena lemparan, lalu memutar bola matanya dengan malas. “Jika aku tidak mendengarkanmu, mana mungkin kepalaku tiba-tiba pening, Dad? Rencanamu seperti labirin, kau tahu? Tidak ada ujungnya, hanya berputar-putar dan membuatku p

