“Kapal yang membawa senjata kita diblokade oleh pengawas Pelabuhan.” Suara Argus terdengar parau, seperti desah angin yang merayap di antara puing-puing kehancuran. Wajahnya yang pucat memantulkan cahaya lampu redup di ruangan gelap itu, seolah setiap kata yang ia ucapkan menciptakan bayang-bayang lebih kelam di dinding. Ia berdiri di depan Bruno dengan napas tersengal, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan kabar yang membakar. Bruno, seorang pria dengan sorot mata sekeras baja, mendadak terhentak. “Apa? Bagaimana bisa? Bukankah kita sudah membayar mereka untuk jangan memeriksa kapal itu?” Suaranya menggelegar seperti petir yang menyambar, sementara tangannya menghantam meja kayu hingga retakan halus terbentuk di permukaannya. “Pengawas yang sudah kita bayar sudah di

