“Aku pulang!” Samuel menghampiri Julia yang sedang menyiapkan makan malam untuknya. Aroma rempah-rempah yang hangat dan menggugah selera memenuhi ruang dapur, menari-nari di udara seperti kupu-kupu malam yang gemerlap. Cahaya senja yang temaram membasahi rambut Julia, menciptakan halo suci di sekelilingnya. “Hi, Sam! Aku baru saja membuatkan sandwich dan juga burger untukmu.” Julia mengulas senyumnya, senyum yang mampu mencairkan es di kutub utara. Namun, senyum itu memudar bagai lukisan air yang terkena hujan, ketika ia melihat Samuel yang tengah menganga, matanya membesar seperti bulan purnama yang terpesona oleh bintang jatuh. “Sam? Ada apa?” tanya Julia bingung, suaranya lembut seperti bisikan angin malam. “So look … different,” ucap Samuel dengan nada pelannya, suaranya berat

