Ara dengan sabar menunggu adiknya yang kembali melakukan fitting gaun di sebuah butik ternama milik seorang designer kondang. Ia pasti salah mengira bahwa Kania mengatakan hanya mengambil gaunnya saja namun ternyata ia harus duduk lebih dari setengah jam disana, Ara memainkan layar ponselnya dengan bosan hanya menggesernya kiri atau kanan dan sesekali mengecek history chat seseorang yang tidak kunjung mengirim pesan juga, ia kemudian menyeruput americano yang di suguhkan dengan es di mejanya oleh seorang karyawan pria yang sedikit kemayu. Tiba-tiba saja perkara segelas kopi mengingatkan Ara pada seorang pria di negeri yang berbeda. Yang jaraknya 5.335 KM dari tempatnya kini. Tak perlu sebut nama. Ara jelas sedang tidak ingin membicarakannya. Pria itu, yang juga atasan Ara bahkan tidak mem

