Melawan Ego

2028 Kata
Sering kali, ketika kita berada pada titik merasa kehilangan. Kita selalu memaksakan diri untuk sembuh lebih cepat. Meski kadang luka itu sebenarnya masih sangat basah di permukaan. Di ruangan lain, Devasya terbaring tidak nyaman. karena saking khawatirnya, Eka meminta dokter untuk kembali memeriksa keadaan Devasya, bagaimanapun dia baru saja keluar dari rumah sakit. Padahal kali ini Devasya tidak kenapa-kenapa. Pintu ruangan dimana Devasya dirawat terbuka, Maxel masuk dengan terburu-buru. "Sayang, kamu nggak apa-apa?" tanyanya dengan wajah cemas. Melihat Maxel datang, Devasya tidak bisa lagi menyembunyikan rasa haru dan tangisnya. Maxel segera mendekat dan memeluk Devasya, kali ini tidak ada perlawanan. "Sudah, tenang, aku disini. Maaf aku baru datang." Maxel menciumi puncak kepala Devasya berkali-kali, dan itu semakin membuat Devasya terisak. Maxel mengurai pelukan, kedua tangannya menangkup pipi Devasya, matanya menatap lekat pada istri yang begitu dicintainya itu. "Jadi sekarang kamu udah ngerti kan, kenapa aku kayak gitu ke kalian?” Maxel bertanya tapi lebih seperti memohon Devasya untuk mengerti dengan keadaannya. Devasya masih diam, dia menunduk, air matanya terus menetes walau kini tanpa isakan. Maxel kembali menegakkan pandangan Devasya. “Maafin aku, harusnya dari awal aku bilang sama kamu.” Maxel kembali memeluk Devasya. “Kamu maafin aku kan?” pintanya lagi dan lagi. Dalam dekapan Maxel, sempat-sempatnya Devasya berpikir. Sebenarnya masalah Maxel apa? Kenapa pria yang menurutnya manis ini bisa memiliki musuh sekejam itu? "Sya." Maxel mengusap punggung Devasya. Kini tangisnya sudah mereda. "Kok diem aja?" Devasya mendorong Maxel. Memberi jarak pada tubuh mereka. “Perempuan tadi siapa?” tanya Devasya lalu memajukan bibirnya. Refleks, Maxel terbahak. "Jadi kamu marah karena, Sintya?" Devasya kembali diam dan kini malah memalingkan pandangan ke arah luar jendela. “Hey, Baby. Jangan cemburu dengan dia. Sintya itu hanya teman bisnis, nggak lebih." “Hanya teman? Terus, ngapain pegang-pegang? Mesra lagi." Devasya merajuk. "Kamu tahu sendiri aku tadi mau ngelepasin, tapi nggak bisa. Dia emang gitu orangnya." "Iya, kamu pengen ngelepas karena ada aku, tapi tadi pas belum tahu kalau ada aku, kamu nyaman-nyaman aja." Maxel terkekeh geli. "Astaga, Sayang. Aku gemas. Sini peluk." "Nggak mau, masih ada bau parfum tante itu,” tolak Devasya. "Tante?" "Iya, dia terlihat seperti tante-tante." Maxel kembali tergelak. “Iya, deh. Suka-suka kamu. Tapi, sekarang udah nggak marah lagi kan?” Devasya menunduk, tentu saja dia malu untuk berkata iya. “Sya...” Maxel menatap mata Devasya. “Aku sayang banget sama kamu, selain untuk keselamatan kalian aku nggak akan pernah ngelakuin hal ini. Asal kamu tahu, aku juga tersiksa dengan keadaan ini, Sya.” Devasya menatap mata Maxel, dia benar, tidak ada kebohongan disana. “Aku menahan rindu selama ini. Aku tersiksa sendiri saat bisa lihat kamu tapi nggak bisa meluk bahkan nyapa kamu.” Devasya kembali terisak. “Udah jangan nangis. Kamu pulangnya ikut aku, ya? Jangan ke rumah kontrakan lagi." Devasya akhirnya mengangguk lemah, tak memungkiri jika dia juga sangat tersiksa jika berjauhan dengan Maxel. Maxel kembali memeluk Devasya. "Ah, Sya. Aku beneran kangen sama kamu." Devasya membalas pelukan itu. “Aku juga,” katanya dengan suara super lirih. "Beneran?" tanya Maxel tidak percaya, sekaligus menggoda Devasya. "Ya udah, nggak jadi." Devasya mencebik. Maxel terbahak, lagi dan lagi. Kehadiran Devasya dalam hidupnya memang membuatnya ‘hidup’ kembali. "Iya-iya ... istriku, ibu dari anak-anakku." Maxel terus menggoda Devasya yang wajahnya terlihat mulai merona. "Apa sih? Norak!" Hening, mereka sama-sama diam untuk menyesapi rasa damai yang kembali menyapa hati masing-masing. "Berarti nanti malam ... aku udah bisa ketemu anak-anak aku?" Maxel mengelus pelan dan lembut perut Devasya. "Nggak bisa, masih harus nunggu dua minggu lagi," jawab Devasya polos sambil ikut mengelus perutnya sendiri. "Kok dua minggu lagi?" "Kata dokter aku disuruh kembali USG dua minggu lagi, tapi tenang aja, aku punya fotonya, fotonya ada di-" Cup! Maxel membungkam mulut Devasya dengan bibirnya. "Bukan ketemu lewat USG, tapi …. " Maxel mengecupnya sekali lagi. Blush! Devasya kini mengerti apa maksud Maxel. Dia refleks mencubit perut Maxel. "Nggak boleh, kata dokter nggak boleh nanana dulu!" Nanana? Hmm… siapa yang tidak paham Nanana? "Kenapa? Dokter siapa yang bilang?" tantang Maxel tak terima. "Dokter Zeni, beliau bilang jangan nanana dulu, kalau aku masih sakit." Mendengar itu, Maxel hanya mampu menahan diri. "Baiklah. Aku tahu ini semua demi keselamatan kalian." Maxel mengerucutkan bibirnya, lalu mengecup berkali-kali perut Devasya. Syukurlah, Devasya dan Maxel akhirnya bisa saling memahami kesalahpahaman ini. Mereka saling berpelukan, lalu tiba-tiba pintu dibuka. Mereka refleks saling menjauh. Tapi, tetap saja itu masih tertangkap mata oleh si pembuka pintu. Adalah Dini, mama Maxel yang datang dengan tergesa-gesa setelah Maxel menghubunginya beberapa saat lalu. Wanita itu datang dengan perasaan was-was yang luar biasa, tapi seketika rasa was-was itu hilang entah kemana saat melihat Maxel dan Devasya bahkan saling memeluk. Dini mendekat ke arah Devasya, kemudian memeluknya singkat, lalu mengusap perut Devasya yang semakin lama kian membesar. "Mama senang kalian baik-baik aja." Dini menangis haru. "Mama, maafin Devasya, ya." Dini menggeleng, kemudian menggenggam tangan Devasya dengan lembut. "Nggak, Sayang. Kamu nggak salah. Kami yang salah, Nak." "Udah dong, kalian jangan sedih-sedihan lagi," pinta Maxel. Kemudian memeluk mereka berdua. Apa pun yang terjadi nanti, Maxel bertekad akan tetap membawa Devasya berada dalam dekapannya. "Sya, mau kan pulang sama kami?" tanya Dini yang lagi-lagi, ini bukan lah pertanyaan. Melainkan sebuah permohonan. Devasya melihat pada Maxel, Maxel mengangguk, detik kemudian Devasya kembali melihat ke Dini dan dia pun mengangguk tanda setuju. Sedangkan pada belahan kota lain, seseorang merasa sedikit geram karena aksinya untuk mencelakai Devasya kali ini mengalami kegagalan. "Sebenarnya aku tidak tega, tapi karena aku sudah memulainya, maka aku pun harus menyelesaikannya," gumam seseorang itu. "Setidaknya … aku sudah tunjukkan, kalau dari awal aku nggak pernah main-main." Seseorang itu memegang selembar foto Devasya. "Kamu cantik tapi, tapi kamu nggak pantas buat Maxel." *** Mobil yang membawa Eka dan Nendra berhenti di depan rumah Eka. Baik Nendra juga Devasya tadi tidak perlu menginap di rumah sakit. Kondisi mereka cukup baik untuk menjalani rawat jalan. Eka belum juga turun dari mobil, dia kini menunduk lesu. "Kamu nggak turun?" Nendra melihat pada Eka. Eka menarik nafas dalam lalu menghembuskan secara kasar. "Aku nggak nyangka bakalan terlibat dalam masalah serumit ini." "Kamu takut?" tanya Nendra memastikan. Eka mengangguk lalu menatap Nendra. "Tentu saja aku takut." Nendra tersenyum, meski wajahnya babak belur, tapi tidak mengurangi ketampanannya. Setidaknya itu yang Eka pikirkan. "Apa yang kamu takutkan?" tanya Nendra lagi. Eka mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, yang pasti aku nggak suka melihat kalian terluka," katanya, setelah itu Eka melepas seatbelt dan turun. "Makasih," katanya sebelum akhirnya melesat masuk. Setelah membersihkan diri, kini Eka merebahkan tubuhnya di kasur, lelah sekali rasanya hari ini. Kemudian Eka menyalakan ponselnya yang sedari tadi mati karena kehabisan daya. Dia tadi tidak memikirkan apa pun selain keadaan teman-temannya. Saat ponsel Eka sudah menyala, ada banyak pesan masuk, berasal dari grup chat jualannya, Devasya maupun … Nendra. Deg! Entah sejak kapan, nama Nendra bisa menggetarkan hatinya. Meski Nendra sama single dengannya, tapi jelas saja status mereka berbeda. Eka tidak bisa mengelak, jika dia adalah seorang janda. Eka membuka sebuah pesan dari Devasya, ibu hamil itu mengucapkan terima kasih, dan malah berkata merindukannya. Eka tersenyum sendiri. "Dasar! Udah sama suami masih aja mikirin aku." Meski jujur jauh di lubuk hatinya, Eka merasa kehilangan jika Devasya harus tinggal jauh darinya. Bagaimanapun beberapa bulan belakangan mereka memang sangat dekat. Ada satu pesan lagi yang menarik perhatiannya. Sebuah pesan singkat dari Nendra yang sanggup membuat jantungnya seolah dipaksa berdetak lebih cepat, rasa lelah dan kantuknya mendadak hilang. [Jangan takut, aku selalu ada buat kamu.] Kalimat sederhana yang bisa membuat sebuah kesalahpahaman baru. [Makasih banyak, Ndra. (Emoticon senyum)] Send. "Aku nggak akan berharap, meski aku nyaman dengan segala perhatian yang kamu berikan. Aku berdoa semoga semua rasa ini berhenti sampai di sini, ya … hanya sebatas teman," gumam Eka. *** Devasya duduk dengan gelisah malam ini, malamnya tak lagi sama seperti lalu-lalu. Ya, karena sekarang dia sudah kembali tinggal bersama Maxel. Perasaan canggung karena masalah sebelumnya belum 100 persen hilang. Devasya merasa malu saat harus berdekatan dengan Maxel. Pintu kamarnya diketuk pelan, Devasya yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang sedikit menegakkan tubuh. "Iya," jawab Devasya. Pintu sedikit terbuka, menampakkan sosok Dini dengan senyum yang selalu terlihat menenangkan. "Sya, sebelum tidur. Minum ini dulu." Dini memberi Devasya segelas penuh s**u hamil rasa mangga kesukaannya. "Ya ampun, Ma. Nggak usah repot-repot, Devasya bisa buat sendiri nanti." Dini menggeleng. "Biarin mama bantu kamu, ya. Jangan sungkan. Mama senang bisa merawat kamu lagi." Devasya tersenyum haru, jika dipikir-pikir, saat yang lainnya merasakan drama menyedihkan antara mertua dan menantu, berbeda dengannya. Justru, Dini sama sekali tidak pernah membuat Devasya merasa tidak nyaman, pun begitu sebaliknya. Mereka dekat, selayaknya ibu dan anak kandung, bahkan mungkin kasih sayang Dini saat ini lebih besar untuk Devasya ketimbang Maxel. "Makasih banyak, Ma." Devasya menenggak habis s**u itu. "Sama-sama, Sayang. Sekarang kamu istirahat, ya. Maxel masih di ruang kerjanya. Kalau nanti-nanti Maxel nakal, langsung bilang mama, ya." Devasya terkekeh. "Iya, Ma. Mama juga istirahat, ya." Dini mengangguk, mengusap sekilas perut dan puncak kepala Devasya lalu keluar kamar. Memang tadi Maxel sudah bilang jika dia harus menyelesaikan pekerjaannya, Devasya mengerti, Maxel memiliki sebuah tanggung jawab besar, maka dari itu dia tidak menahan Maxel untuk terus menemaninya. *** Devasya yang kelelahan, kini telah tertidur pulas, saat Maxel masuk ke kamar mereka. Pemandangan Devasya yang sedang tidur ini begitu Maxel rindukan, wajah original nan polos milik Devasya begitu menarik di mata Maxel. Maxel mengecup pelan dan lama kening Devasya. "I love you, Sya," bisiknya. Lalu Maxel turun menuju perut Devasya, dia singkirkan sejenak selimut tebal yang menutupinya. Maxel mengusap lembut perut Devasya, mengecupnya pelan beberapa kali. "I love you, anak-anak papa. Sehat-sehat ya, kalian. Jangan nakal." Terasa di tangannya sebuah pergerakan lembut dari dalam sana. "Kalian belum tidur? Ayo tidur, sudah malam, biarkan mama istirahat dengan nyenyak." Devasya bergerak-gerak gelisah, usapan Maxel di perut membuatnya merasa geli. "Maxel, kamu ngapain?" "Kamu kebangun, ya?" Maxel meringis. "Maaf, aku lagi ngobrol sama mereka." Devasya tersenyum. "Emang kalian ngobrolin apa?" Maxel merapikan kembali selimut Devasya. "Rahasia," katanya lalu mengecup gemas pipi Devasya. Devasya mencebik. "Rahasia lagi." Maxel terkekeh pelan. "Enggak-enggak, aku tadi cuma minta mereka buat bobok, biar nggak ganggu mamanya, gitu." Sekarang justru kamu yang ganggu aku, Maxel! batin Devasya. "Makasih udah maafin aku," ucap Maxel lirih. Maxel merengkuh Devasya dalam pelukannya. Devasya mengangguk, dia kesulitan membalas pelukan Maxel karena terganjal perutnya yang besar. "Aku juga minta maaf kalau aku sempat egois." "Aku nggak masalah, yang penting sekarang kita sama-sama. Apa pun yang terjadi nanti, satu hal yang kamu harus tahu. Aku sayang banget sama kamu." Maxel memiringkan posisi tidurnya untuk menghadap Devasya. Maxel menatap lekat mata itu, satu tangannya memainkan rambut Devasya. "Apa aku masih harus bersembunyi?" tanya Devasya polos. Mendengar itu, Maxel kemudian menghela nafas berat. "Aku akan berusaha yang terbaik," jawab Maxel yang menyiratkan makna 'iya' bagi Devasya. Devasya mengangguk, kali ini dia bertekad untuk menuruti apa mau Maxel, mengingat kejadian yang baru terjadi, membuat Devasya menyadari, ini bukan waktunya untuk mendahulukan ego. "Sekarang kamu tidur lagi, ya," pinta Maxel. Maxel tidak bisa melibat Devasya menatapnya seperti itu, apalagi mata itu mengerjap-ngerjap menggemaskan beberapa kali, hanya seperti itu saja bisa membuat sesuatu dalam diri Maxel menjadi tidak terkendali. "Kamu tidur duluan, aku bakalan sulit buat tidur lagi," kata Devasya lirih, tangannya mengusap lembut pipi Maxel. Maxel memejam sesaat, kemudian Maxel mendekatkan wajahnya dengan wajah Devasya, mengecup apa yang menjadi candunya. Kecupan yang lama-kelamaan menjadi sesuatu yang lebih dari itu. Maxel tiba-tiba berhenti, mengingat kata Devasya jika mereka belum bisa … "Aku nggak apa-apa," kata Devasya memotong pemikiran Maxel. Tatapan Maxel sudah berkabut, antara ingin dan tidak ingin menyakiti. Devasya mengangguk, dan itu membuat Maxel tidak bisa lagi menghentikan keinginannya. Keinginan untuk membawa Devasya mencapai rasa yang sama yang selama beberapa waktu belakangan ini begitu dia rindukan. Maxel membawa Devasya dalam irama lembut yang memabukkan, yang membuat Devasya serasa pecah berkeping-keping karena bahagia. Saat sebuah rasa yang menjadi inti perjalanan mereka kali ini datang, Maxel tak menahan dirinya untuk meneriakkan nama yang kini menjadi ratu di hatinya itu, kemudian tersenyum bahagia dengan wajah cerah yang tak nampak kelelahan. "I love you, Sya …" bisiknya lagi untuk penutup malam yang manis ini, sebelum akhirnya mereka sama-sama memejam dengan pulasnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN