Tidak Baik-Baik Saja

2332 Kata
Jika bukan aku, katakan jangan biarkan. Jika memang aku, yakinkan jangan hentikan. Setelah selesai, mereka tidak segera beranjak. Masih duduk diam untuk sekedar mengistirahatkan perut yang terlalu penuh. Tiba-tiba, Ekor mata Eka menangkap sosok yang dia kenali betul. Gawat! Jangan sampe Devasya lihat! Eka menegakkan posisi duduk, posisinya tidak lagi senyaman sebelumnya. "Kak, kenapa?" tanya Devasya heran. Eka menahan nafas. "Aku kebelet pipis," jawabnya sambil menggigit bibir bawah. “Ya, udah. Ayo!” ajak Devasya. “Aku pergi sendiri aja,” Eka bangkit dari duduknya. “Aku sendirian aja, kamu di sini dan jangan kemana-mana. okey?” pesan Eka, bahkan dia ucapkan sampai dua kali, yang dijawab anggukan oleh Devasya. Eka bergegas menuju ke arah sosok yang dikenalnya tadi, mengendap-ngendap seperti maling. “Nendra! kamu ngapain disini?” Eka menepuk bahu Nendra. “Astaga! kaget aku.” Nendra memegangi dadanya, lalu matanya membulat saat melihat Eka. Lebih tepatnya, tidak menyangka jika akan ketahuan. “Ngapain disini?” tanya Eka lagi. “Kalau Devasya lihat, dia bakalan marah besar.” Eka berpikir, Devasya tidak akan suka jika Nendra yang jati dirinya sudah ketahuan itu mengikutinya sampai ke mall untuk menjadi mata-mata Maxel, yang Eka tidak tahu adalah Nendra sudah berbaikan dengan Nendra tadi pagi. Tak kunjung menjawab, Nendra malah terkekeh. “Kok ketawa?" tanya Eka tak suka. Lalu pandangan Eka menuju meja dimana Devasya dan dirinya duduk tadi, lalu kembali memandang Nendra. "Tenang, Nyonya Devasya udah nggak marah lagi, kok," jawab Nendra santai. Eka mengernyit. " Maksudnya?" Kemudian Nendra menceritakan tentang pembicaraannya dengan Devasya pagi tadi. "Ya tetep aja, baikan bukan berarti kamu bakal ngikutin dia sampe sini. Pas nggak sengaja liat kamu, jantungku rasanya kayak mau copot. Aku takut Devasya stress." Eka menyanggah cerita Nendra dengan panjang lebar dan bibir yang mengerucut lucu. Kali ini, Eka terlihat menggemaskan dimata Nendra. "Kan aku udah bilang, ini sudah tugas aku," sahut Nendra, lalu Nendra agak mendekatkan diri ke Eka. "Sebenarnya, aku …." Kemudian Nendra membisikkan sesuatu pada Eka, dan itu membuat Eka bereaksi sama dengannya saat dia kaget tadi. Melihat reaksi kaku Eka membuat Nendra terbahak. "Oh, jadi gini?" Devasya tiba-tiba datang dari arah belakang mereka. Kemudian Devasya berkacak pinggang, dengan tampang yang sok dibuat marah seperti istri yang memergoki suaminya selingkuh. "Kalian ninggalin aku buat kencan berdua?" tanyanya dengan wajah tak berdosa. "Bukan gitu, aku tadi nggak sengaja liat Nendra, jadi aku samperin, takutnya kamu nggak nyaman." Tentu saja Eka membantah ucapan Devasya. Dia memang tidak sedang berkencan dengan siapapun, apalagi Nendra, dan kenyataan tentang kenyamanan Devasya itu memang benar. Eka tidak mau Devasya kembali masuk rumah sakit karena kandungannya bermasalah lagi. Suasana food court mall yang sedikit lenggang, membuat mereka sedikit banyak jadi pusat perhatian, apalagi posisi mereka tak jauh dengan toilet yang terdapat banyak orang keluar masuk. "Oh, kirain kalian beneran kencan," goda Devasya dengan senyum jahilnya. Duh, kenapa jadi salah paham gini? batin Eka menahan malu. "Tentu aja enggak!" tegas Eka lagi. "Ya … lain kali, kalau mau kencan, pergi aja berdua, kan lebih asik." Devasya melirik Nendra yang entah kenapa wajahnya terlihat memerah. "Sya, tolong dong, nggak gitu konsepnya." Lagi, Eka menyanggah dengan nada bicara yang lucu dan itu membuat Devasya terkekeh geli sambil memegangi perutnya. Wajah Eka berubah masam sedang Nendra kini terlihat seperti orang bingung. "Oke, terus gimana? Gimana konsep pernikahan kalian?" "Lah, kenapa malah jadi ke pernikahan sih, Sya?" Devasya makin terbahak, Nendra sedari tadi hanya melongo sedang Eka kini mencebik kesal. "Udah ah, aku mau pulang. Kalian mau pulang apa lanjut kencan?" goda Devasya lagi, lalu berbalik dan mulai melangkah. Eka segera menyusul Devasya. "Idih, siapa juga yang mau kencan sama dia?" katanya lalu menggandeng lengan Devasya dan berlalu meninggalkan Nendra yang masih terbengong, yang bahkan tidak memiliki kesempatan mengatakan sepatah kata pun sejak tadi. Nendra adalah laki-laki pintar, tapi bertemu dengan Eka dan Devasya seakan kepintarannya hilang tak bersisa. "Mas, ayo!" panggil Devasya yang seketika membuyarkan konsentrasi Nendra. "Nggak usah sok detektif-detektifan. Aku sudah tahu kalau dari tadi kamu ngikutin kita," ucap Devasya santai. "Serius?" Eka dan Nendra memekik bersama karena terkejut. Devasya kembali tersenyum jahil. "Ya udah, kalau kalian sama-sama serius, segera langsung ke pelaminan aja." Eka menepuk keningnya. "Apaan sih kamu, Sya? Efek kekenyangan bikin kamu jadi error, ya?" jawab Eka dengan wajah yang sedikit merona. Di depan sana, Devasya melihat ada sebuah toko pakaian dalam wanita yang cukup besar. Otak jahil Devasya berpikir ingin sedikit mengerjai Nendra. "Mas Nendra, kamu janji sama bosmu bakalan ngikutin kemanapun aku pergi kan?" tanya Devasya sok polos sambil menoleh ke arah Nendra yang berjalan di belakangnya. "Iyaa, Nyonya … eh, Mbak." "Ya udah, pegang janji kamu, pokoknya kamu harus ada dalam radius dua meter dari aku," perintah Eka yang semakin tidak dimengerti Eka. "Siap, Mbak," jawab Nendra mantap. Lalu tiba-tiba Devasya menarik Eka ke toko pakaian dalam wanita tadi. Sekarang Eka baru mengerti maksud Devasya. Terlihat ada berbagai jenis dan warna juga motif pakaian dalam yang dipajang pada manekin-manekin di dalam toko. Nendra berhenti tepat sebelum memasuki pintu masuk toko. “Kenapa, Mas?” tanya Devasya dengan ekspresi yang dibuat bingung, sedang Eka kini sedang menahan tawa. “Mbak … Mbak yakin mau saya ikut masuk?” “Lho, bukannya itu tugas kamu?” "Ta-tapi … cara kerjanya nggak–" "Kamu tadi yang janji sendiri, lho … belum juga ada 10 menit, masa iya udah lupa?" Nada bicara Devasya terdengar kesal, tentu saja itu hanya dibuat-buat. "Tapi, Mbak …." "Turutin aja, Ndra! Daripada bumil ngambek bisa panjang urusan." Eka mencibir, berusaha membantu ide konyol Devasya. Nendra mengalah dan akhirnya ikut masuk, tentu dengan menundukkan pandangan. Devasya dan Eka benar-benar ingin tertawa saat ini juga, tapi mereka urungkan. "Yang bener aja, Nyonya bawa aku masuk ke toko beginian. Kayaknya emang aku sengaja dikerjain, deh," gerutu Nendra dalam hati. Devasya menarik Eka ke bagian baju tidur. "Mbak aku ngerjain Nendra," bisiknya sambil terkekeh. "Iya, aku tahu. Lihat deh mukanya, merah kayak kepiting rebus, mana nunduk lagi, tuh cewek-cewek pada ngeliatin juga." Mereka berkeliling untuk melihat-lihat, "Wah, ini bagus, Mbak! "seru Devasya pada Eka, lalu mengambil satu daster tidur bergambar teddy bear pink berwarna dasar tosca yang memang begitu menggemaskan. "Iya, lucu banget. Kamu mau beli? Kayaknya besar ini, Sya." "Hmm …. " Devasya melihat pada bagian price tag-nya. "Harganya lumayan, Mbak. Sayang banget." Devasya tampak berpikir. Ini sih, seharga dengan service motorku dulu, batinnya lucu. "Kenapa nggak dicoba aja dulu, kali-kali cocok." "Nggak deh, Mbak." Devasya mengembalikan baju itu ke gantungan. "Kemahalan buat ukuran baju yang cuma dipake buat tidur," bisiknya sangat pelan. "Kalau yang itu, gimana, Sya?" bisik Eka sambil menunjuk pada apa yang dia maksud. Seketika wajah Devasya merona. "Ish, Mbak. Itu baju haram," kata Devasya sambil menggeleng. Eka hampir saja memecahkan tawanya. "Itu halal kalau di depan suami, Sya." Eka sedikit membalas godaan Devasya padanya dan Nendra tadi. "Ish, mulai, deh." Devasya mencebik, lalu Devasya ganti berbisik pada Eka. "Kalau gitu, Mbak beli aja, buat persiapan abis nikah sama, Mas Nendra," goda Devasya balik. "Aaaargh, Devasya!" pekik Eka kesal, sedang Devasya tertawa keras sambil menutup mulutnya. Setelah puas saling menggoda, akhirnya mereka keluar toko itu tanpa membeli apapun. Ya, mereka memang sekonyol itu, untung saja penjaga toko di sana sangat ramah dan sabar. Mereka menuju parkiran mobil, karena mereka dipaksa Nendra untuk ikut dengannya. Saat akan menutup pintu mobil, Devasya melihat suaminya, dan sudah bisa ditebak, saat ini Maxel bersama Sintya. Devasya marah? Tidak! Lebih tepatnya belum! Devasya memanggil Nendra yang masih merapikan bagasi belakang. "Mas," panggilnya lirih. Nendra mendekat. "Iya, Mbak?" "Coba lihat ke arah sana, itu bos kamu apa bukan?" tanyanya ketus. Nendra menoleh ke arah yang dimaksud Devasya. Tatapan Eka pun ikut menuju kesana. Gawat! batin Nendra dan Eka. Seakan kompak, Nendra dan Eka pun sama-sama susah payah menelan ludah. "I-iya, Mbak." Nendra terbata. "Panggil!" pinta Devasya. "A-apa??" "Panggil yang keras, perkenalkan aku di depan wanita itu." Nendra menunduk dalam diam. Bingung harus berbuat apa. "Kenapa? Kalian masih mau menyembunyikan aku?" tuduh Devasya. "Atau jangan-jangan, dia wanita simpanan Maxel atau bahkan istri Maxel juga? Iya?" cecarnya lagi. Speechless, Nendra tetap bungkam. Akhirnya Nendra pasrah. "Ba-baik, Mbak." Eka merasa was was di posisi duduknya. Aku akan menonton drama apa lagi kali ini? Tapi sebaliknya, Devasya malah tampak begitu tenang. "Bos!" panggil Nendra. "Bos, Maxel!" panggil Nendra lagi. Maxel yang masih menunggu Sintya memperbaiki penampilannya mencari-cari sumber suara, Begitu tatapannya melihat Nendra, seketika matanya membulat sempurna. Bagaimana tidak? Kini Sintya sedang bergelayut manja di lengannya. Sintya pun ikut menoleh ke arah Nendra. "Nendra!" panggil Sintya, sedang Maxel hanya terpaku di tempatnya. Sintya menarik paksa Maxel untuk mengikutinya menuju ke arah Nendra. Jantung Maxel, Nendra, juga Eka berdetak tak karuan, takut Devasya akan berbuat brutal kali ini. "Hai, Ndra. Lama banget nggak kelihatan," sapa Sintya ramah dengan senyum cerianya. Nendra menatap Maxel. "I-iya, Bu." Devasya yang sudah duduk dengan nyaman bersusah payah turun dari mobil, disusul kemudian dengan Eka. Sintua tersenyum pada Devasya dan Eka. "Mereka siapa?" tanya Sintya. Devasya menatap Maxel tajam, namun Maxel hanya bisa diam dan memalingkan tatapannya. Maxel terlihat berusaha melepas gandengan Sintya. Aku harus gimana? Nendra menatap Maxel meminta pertolongan, tapi Maxel juga seolah tak bisa berkata-kata. "Me-mereka, mereka adalah-" "Mereka sudah pasti saudaranya Nendra," potong Maxel. Devasya maju selangkah, mengulurkan tangan pada Sintya. "Saya istrinya," jawab Devasya santai dan Ambigu, matanya melirik sekilas pada Maxel. Istri siapa? Jangan tanya bagaimana tegangnya Maxel, Nendra dan Eka. Mereka harus menahan nafas saat Devasya dengan berani mengulurkan tangan. "Apa? Kamu istrinya Nendra? Bisa Devasya tebak, perempuan bernama Sintya itu pasti tidak akan menyangka jika dia adalah istri Maxel. "Sejak kapan kamu nikah, Ndra. Istrimu sudah hamil pula. Jahat kamu nggak ngundang aku," rengek Sintya. "Eh, i-itu." Devasya tiba-tiba menggandeng Nendra. Menempelkan pipinya dengan Mesra di lengan kekar Nendra. "Iya, Bu. Baru delapan bulan kami menikah," jawab Devasya sambil menekan kata 'baru delapan bulan' pada kalimatnya. Devasya! batin Maxel menahan geram. Tentu saja Maxel cemburu dengan Nendra. Sedang Nendra sudah hampir lemas, bahkan tubuhnya yang atletis itu hampir saja gemetar. "Ibu ini bosnya Mas Nendra, ya?" tanya Devasya sok polos. Eka di samping Devasya yang terlupakan itu juga hampir saja lemas. "Bukan, saya kenal Nendra karena dia asisten pribadi teman dekat saya ini," Sintya mengelus lengan Maxel. Maxel tidak bisa berkutik, janjinya untuk melindungi hati Devasya tidak bisa dia penuhi lagi untuk saat ini. Devasya benci hal itu, tapi sama sekali tidak dia tampakkan itu. “Ayo kita pergi!” ajak Maxel pada Sintya. Padahal Devasya hanya ingin menguji Maxel, jika saja kali ini Maxel mengakuinya. Maka Devasya mungkin akan memaafkannya. Tapi nyatanya? Siapa yang tega disini? Maxel atau Devasya? "Kalian pasangan yang sangat serasi, Anda juga sangat cantik," puji Devasya. Sintya terkekeh. "Terima kasih, tapi kami bukanlah pasangan, lebih tepatnya belum. Ya, kami masih penjajakan." Nyut! Sakit! Penjajakan? "Saya harap kamu dan Nendra juga bahagia selalu." Alih-alih mengaminkan, Devasya hanya tersenyum dan mengangguk. Bodohnya, karena terlalu sibuk Maxel tidak memeriksa ponselnya, dimana sudah sejak tadi Nendra sudah mengabarkan posisi Devasya saat ini. Maxel baru saja memeriksa ponselnya saat nendra mengedipkan mata, memberi kode. Kemudian setelah Sintya dan Devasya saling mengucap salam perpisahan, mereka berlalu. Bahkan Maxel sama sekali tidak menatap Devasya sama sekali. Entah kenapa, Maxel merasa pupus sudah kesempatannya untuk mendapatkan maaf dari Devasya. Maxel merasa serba salah, begitupun Nendra. Nendra tahu, ada seorang lagi yang mengikuti mereka sejak di dalam mall tadi, jaraknya selalu tak jauh dari mereka, mengamati diam-diam. Eka pun sudah diberi tahu Nendra tadi, maka dari itu Eka sempat terkejut. Dalam perjalanan pulang, mereka hanya diam. Nendra dan Eka antara merasa bersalah dan merasa lega akan apa yang baru saja terjadi. Eka meilirik Devasya yang masih tampak tenang, tidak ada tangisan atau bahkan reaksi apa pun. Diam, hening. Bahkan suara nafas pun tak terdengar. "Mbak Devasya dan Eka, tolong pegangan!" perintah Nendra datar. Wajahnya terlihat serius. "Ada apa?" tanya Eka. "Udah, pegangan aja dulu." Kemudian mereka berpegang pada gagang yang berada di atap mobil, di samping atas kepala mereka. "Kenapa, Mas?" Devasya mulai panik. "Maaf saya ngebut sedikit." Nendra berbelok ke arah jalanan sepi, ternyata benar. Mobil yang berada di belakangnya masih mengikuti. Nendra mencoba berbelok ke arah jalan perumahan lain, dan mobil itu juga masih mengikuti. Sampai pada sebuah jalanan di bangunan yang sepi, Nendra tiba-tiba memutar keras setirnya, berusaha menghadang mobil yang mengikuti mereka sejak tadi. Terburu-buru nendra membuka seatbelt. "Jangan turun, kunci pintunya," perintah Nendra pada Eka, Eka mengangguk takut. Devasya juga dibuat bingung. Nendra turun. Si pengemudi mobil di belakang tadi pun ikut turun, mereka berjumlah dua orang, sama-sama memakai jaket kulit hitam. Ini orang yang berbeda dengan yang mengikuti di mall tadi, pikir Nendra. "Apa mau kalian?" teriak Nendra. Salah satu dari mereka bicara, "Mau kami? Tidak ada. Kami hanya mau main-main saja. Apa tidak boleh?" jawabnya lalu disahut tawa keras oleh orang yang satu lagi. "Siapa yang menyuruh kalian mengikuti kami?" "Tidak ada." "Jangan banyak bicara!" Nendra memukul wajah salah satu dari mereka, dan salah satu dari mereka juga balas memukul perut Nendra. Devasya dan Eka hanya bisa histeris di dalam mobil, kemudian Eka berinisiatif menghubungi polisi saat salah satu dari mereka mulai mendekati mobil Nendra. Tangannya gemetar. Biasanya adegan ini hanya ada di sinetron atau Film, tapi kali ini mereka merasakan sendiri ketegangannya. "Buka!" teriak orang itu sambil menggedor pintu. "Jangan ganggu mereka!" teriak Nendra yang masih berusaha berkelahi dengan orang satunya lagi. Tak lama, polisi datang, mereka berdua langsung lari untuk kabur, meninggalkan mobil yang mereka kendarai tadi dengan begitu saja. Nendra yang terluka parah segera dibawa ke rumah sakit dengan mobil polisi. Sedang mobil Nendra dibiarkan juga disana untuk kemudian diurus oleh teman Nendra nanti. Eka dan Devasya jadi ikut merasakan naik mobil polisi, suatu hal yang tidak pernah mereka sangka dan mereka duga sebelumnya. “Ndra, siapa mereka?” tanya Eka saat Nendra sudah selesai dirawat. Nendra juga di visum, hasilnya akan digunakan untuk keperluan laporan kepolisian. “Siapa lagi? Itu pasti suruhan musuh, Bos Maxel. Itulah kenapa aku diminta untuk terus mengikuti, Nyonya." "Kenapa dari awal nggak lapor polisi?" "Terlalu minim bukti." Eka mengangguk ngangguk mengerti. "Ini nggak main-main, lho. Urusan sama nyawa."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN