Apa Maunya Hati?

1934 Kata
Jika aku bebanmu, letakkan! Jika aku tanggung jawabmu, pastikan! Bunyi klakson mobil terdengar keras dan panjang. Devasya menghentikan langkahnya. Tubuhnya gemetar, lututnya lemas. Hampir saja dia tertabrak. Untuk saja pemilik mobil sigap menginjak rem, kalau tidak pasti sEkarang Devasya sudah … "Devasya? Kamu ngapain disini?" Posisi Devasya yang sedang berlutut membuatnya menengadah untuk mengetahui siapa yang telah mengenalnya itu. "Ka-kamu?" Ya, si pemilik mobil itu adalah Sandy. Kebetulan? Entahlah. "Kamu ngapain?" Sandy mengulangi pertanyaannya. Devasya melihat sekeliling, dia baru menyadari sesuatu. "A-aku, aku…" "Ya udah. Kamu minggir dulu, ini banyak yang mau lewat." Sandy menuntun tubuh gemetar Devasya ke pinggir jalan, ada kursi besi di sana. Kemudian Sandy kembali ke mobilnya untuk menepikannya. Sandy kembali ke tempat Devasya dengan membawa sebotol air mineral. "Minum dulu." Sandy menyerahkan botol itu. Devasya ragu menerima pemberian Sandy, ya ... bagaimanapun dia harus tetap waspada. Sandy mendengus. "Ayolah! Ini hanya air putih, nggak ada racun," sindirnya. Devasya meraih botol itu, tapi dia kesulitan membuka tutupnya karena tangannya gemetar. Sandi menyahut kembali botol itu. "Sini aku bantu." Devasya meminum air yang terasa segar itu hingga tandas setengahnya. "Makasih," ucapnya kemudian. Sandy kembali memusatkan perhatiannya, posisi duduk juga sudah condong ke arah Devasya. "Oke, sekarang kamu jawab. Ngapain kamu bisa sampai disini? Bukannya rumah kamu di jalan anggrek ungu." Ops! Bagaimana bisa Sandy keceplosan. Devasya mengernyit. "Kok kamu tahu rumah aku di anggrek ungu?" Sandy salah tingkah. "Ah, a-aku kapan jari tanya sama temanmu. Saat kamu nggak masuk kerja aku ke toko." Sandy menahan nafasnya. "Ya, karena itu … makanya aku tahu." Devasya membetulkan posisi duduknya, kini dia menyandar pada punggung kursi." Iya, aku abis dirawat di rumah sakit," jawabnya lesu. Sandy mengangguk. "Hmm, ya… temanmu juga bilang begitu. Lalu kenapa sekarang kamu ada di sini?" Devasya diam, memilih tidak menjawab dan menunduk. "Ah, maaf. Sepertinya, aku nggak seharusnya bertanya lebih jauh." Kembali hening. Sandy berdehem. "Mau aku antar pulang?" tanyanya canggung. Devasya menggeleng lemah. "Nggak usah, makasih. Tapi, bisa tolong bantu aku untuk pesankan taksi online?" tanyanya yang terdengar lebih seperti sebuah permintaan. "Taksi? Apa nggak sebaiknya aku anter aja?" usul Sandy meyakinkan. Devasya kembali menggeleng "Nggak usah. Aku nggak mau ngerepotin dan juga … aku nggak kenal sama kamu." Nah, Lo! Langsung kena mental Sandy. Sandy meringis. "Oke, baiklah. Aku bantu pesankan, sebentar." Sandy kemudian sibuk dengan ponselnya. Sebenarnya Sandy tidak memiliki aplikasi ojek online, tapi demi Devasya dia buru-buru menginstalnya. Selagi menunggu taksi datang, mereka saling diam, tentu saja karena Sandy salah tingkah, sedang Devasya diam karena merasa tubuhnya sangat lelah. "Ponselmu kemana?" tanya Sandy penasaran. "Ponsel?" Devasya menggantung kata. "Hmm, hilang," lanjutnya lagi. "Hilang? Kok bisa?" Belum sempat membahas lebih, Taksi yang dipesan Sandy datang. Sandy segera membantu Devasya untuk mendapatkan duduk yang nyaman. "Tolong antarkan dengan selamat, jangan ngebut karena dia sedang hamil, jangan terlalu besar AC-nya nanti dia kedinginan, dan jang-" "Sandy!" Sudah amat sangat lama Sandy tidak memperhatikan seseorang secara detail seperti saat ini. "Ah, maaf. Aku hanya khawatir." Sandy meringis malu, itu juga hal yang sangat jarang dia lakukan. "Berapa tarifnya?" tanya Devasya memastikan. Tentu saja memastikan dengan kondisi dompetnya sekarang. Dia sudah terlalu lemas untuk naik bus. "Tarif sudah aku bayar." "Tapi aku nggak bis-" "Sudahlah," potong Sandy. "Berangkat sekarang ya, Pak. Hati-hati," tambahnya lalu menutup pintu mobil. Bahkan sampai lama sekali Sandy berdiri, memperhatikan mobil itu sampai benar-benar menghilang. Ah, kenapa dengan aku? Di dalam taksi, Devasya kembali memeluk kesedihannya, ada sedikit sesal telah meninggalkan Maxel seperti tadi. Biarlah, saat ini dia hanya ingin sendiri, untuk kemudian memikirkan ulang semuanya. *** "Sya, hari ini waktunya kontrol, kan ya?" Eka sedang asik memasak di dapur Devasya. Dia membawa bahan masakan dari rumahnya untuk dia masak di sini. Membuat tumis brokoli, wortel dan udang sebagai menu sarapan. Beruntungnya, rumah kontrakan Devasya ini sudah dilengkapi dengan kitchen set sederhana, dan sedikit perabotan dapur. Juga ada tempat tidur dan lemari. Hanya memang tidak ada produk elektroniknya. "Iya, mbak," jawab Devasya lesu. Eka mengecilkan api kompor lalu menuju Devasya "Kenapa lagi, Sya?" Devasya menggeleng lemas. "Semalam, aku mimpiin Maxel, dan dia terlihat sedang menangis." Devasya menunduk. "Aku jadi sedih. Apa aku terlalu tega?" Eka menghela nafas pelan. Syukurlah, jika Devasya mulai melunak. Hal itu membuat perasaan Eka sedikit lega. Selama ini Eka memang tidak pernah memaksa atau mendoktrin tindakan Devasya yang keras kepala, dia hanya terus mendengarkan dengan sabar segala keluh kesahnya dan berdoa, agar kemudian hati Devasya bisa melembut. Sejak di rumah sakit dan sejak Devasya meninggalkan ponselnya, Maxel terus berkomunikasi dengan Eka. Tentu saja untuk memantau keadaan Devasya. Sedang Nendra, Devasya seperti enggan bertemu lagi dengannya. Ah, dasar Devasya! "Bisa jadi, sebenarnya kamu kangen, Sya," canda Eka, lalu dia terkekeh, tapi Devasya malah diam. "Mungkin, Mbak. Bisa jadi." Aku memang merindukannya. Bahkan sangat merindukannya. Tapi, apa ada yang bisa menjamin jika kehangatan yang ditawarkan Maxel akan bertahan selamanya? gumamnya dalam hati. "Sya, kalau perasaan kamu sudah sedikit lebih baik. Izinkan dia menghubungimu. Nendra pernah bilang, Jika Maxel juga terlihat tidak bersemangat." Eka berkata jujur, bukan hanya dari Nendra tapi dia juga mengetahuinya sendiri. mereka berdua sama-sama terluka, sama-sama egois, sama-sama ketakutan dan bingung. Tidak sepenuhnya Devasya salah dalam hal ini, mengingat apa yang telah dilakukan Maxel. Terlepas dari apa niat maxel sesungguhnya yang sampai saat ini, Devasya belum bisa sepenuhnya memahami. "Yuk sarapan, udah jadi, nih. Jangan sedih-sedih lagi." Eka segera angkat bicara. Tidak mau membuat perasaan Devasya menjadi semakin buruk. Devasya tersenyum. "Wah, kelihatannya enak, Mbak." Tidak memungkiri, kehadiran Eka dalam hidupnya bagai sebuah keajaiban, ya ... seperti yang pernah dia minta saat dulu. Mungkin jika dia tidak bermasalah dengan Maxel, dia tidak akan bertemu dengan Eka. Dalam hati Devasya berdoa, agar persahabatannya ini berlangsung langgeng dan selalu dalam ketulusan. Bagaimanapun keadaannya, Devasya bersyukur masih dikelilingi oleh orang baik. Sekilas Devasya mengingat Sandy, orang yang dia kira menyebalkan itu, ternyata lembut dan perhatian. Tidak sekaku penampilan dan kata-katanya. "Pasti, dong! Siapa lagi yang masak? Eka," puji Eka pada dirinya sendiri yang disambut tawa renyah oleh keduanya. Saat akan menyuap sarapannya, tiba-tiba Eka terdiam. Devasya ganti bertanya. "Kenapa, Mbak? Kenapa gantian Mbak yang lesu?" Eka menggeleng-geleng kecil sambil tersenyum. Senyum yang mencurigakan si mata Devasya. "Hmm...nggak apa-apa," jawab Eka sekenanya. Devasya mencebik. "Mbak nggak mau cerita sama aku?" Eka terkekeh. "Bukan hal penting, dan juga kalau mbak cerita takutnya nanti kamu marah." "Marah? Enggak lah, Mbak." Eka menghembus nafas berat. "Nggak tahu kenapa … aku ngerasa, nggak ada Nendra nggak enak." Ya, tentu saja, karena selama sebulan belakangan mereka bertiga sering bersama. Devasya sendiri sudah mengundurkan diri dari toko kue Nendra, antara sebal dengan Nendra dan karena kondisinya yang tidak sekuat dulu. Sedang Eka sendiri masih tetap bekerja disana. Hanya saja, belakangan Nendra sering tidak ada di kantor. Entah dia sibuk apa. "Emang nggak ketemu di toko, Mbak?" "Dia lagi sok sibuk," jawab Eka ketus. Devasya tersenyum tipis. Dari awal memang Devasya merasa mereka dekat. Sepulangnya Eka setelah sarapan, pelan-pelan, Devasya mulai membersihkan rumah. Devasya hendak membuang sampah di depan rumah, saat matanya bersitatap dengan Nendra. Ada perasaan canggung. Nendra mendekat. Devasya tidak memperdulikannya, dia terus menuju kotak sampah. Saat akan berbalik, Nendra menyapanya. "Nyonya … maafkan saya." Devasya menarik nafas dalam, lalu mengamati Nendra yang menunduk. "Aku juga minta maaf, aku tahu niatmu baik," katanya. "Aku hanya berharap, bagaimanapun keadaannya, pertemanan kita tulus." Mendengar itu, perasaan Nendra lega. "Saya tidak akan berkata kalau saya tulus, tapi, saya akan buktikan, kalau saya akan selalu ada buat, Nyonya. Terlepas dari itu pekerjaan saya atau bukan." Nendra menjawab dengan mantap. Devasya tersenyum. "Baiklah. Lakukan tugasmu dengan baik. Laporkan pada bosmu bahwa aku baru saja membuang sampah,"katanya kemudian terkekeh. Nendra pun sama, dia kembali bisa melihat Devasya tersenyum. "Kalau seperti itu tidak perlu saya laporkan, Nyonya." Nendra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Jangan panggil aku nyonya. Aku tidak suka. Panggil aku seperti biasanya,"pinta Devasya. "Tidak bisa, Nyonya. Bagaimana jika, Mbak saja?" "Mbak?" Huft! Devasya mencebik. "tu membuatku terlihat lebih tua darimu." Nendra tergelak. "Setidaknya panggilan itu aman bagi saya, Mbak." "Ya...ya...ya...turuti saja apa mau bosmu itu. Aku mau masuk dulu." Ada perasaan lega di hati Devasya, ternyata tidak nyaman menyimpan amarah dan dendam terlalu lama. Siang hari, Devasya dan Eka telah selesai menjalani kontrol pasca Devasya keluar dari rumah sakit. "Yakin, Sya kamu nggak bakalan capek?" Devasya menggeleng yakin "Enggak, Mbak. Aku juga pengen jalan-jalan, walau nggak beli apa-apa juga," jawabnya sambil mengelus perutnya. Syukurlah, kata dokter Zeni semua baik-baik saja. "Oke lah kalau gitu, nanti aku traktir si kembar makan." Lagi, dengan menaiki taksi online pesanan Eka mereka menuju ke sebuah Mall terbesar di pusat kota. Karena bukan weekend, jadi suasananya tidak terlalu ramai. "Kalau kamu capek bilang ya, Sya. Kita cari tempat duduk." *** Di kantornya, Maxel sedang fokus membaca berkas kerjasama dengan salah satu resort di pulau Bali, setelah kemarin kerjasamanya dengan resort di wakatobi berjalan sukses. Rencananya, travel milik Maxel akan menyediakan transportasi khusus bagi pengunjung resort, mulai dari pertama kali mereka menginjakkan kaki di Pulau Bali, sampai mereka meninggalkan pulau untuk kembali pulang. Travelnya juga menyediakan paket tour ke beberapa tempat wisata di sekitar resort, atau mungkin hanya untuk sekedar mengelilingi kota. "Permisi, Pak. Ada Bu Sintya." Angel masuk setelah mengetuk pintu. Maxel tidak menoleh. "Biarkan dia masuk," katanya dengan tetap fokus mempelajari berkas kontrak. Angel mengangguk, tak lama Sintya masuk. "Maxel, kenapa aku harus izin dulu?" "Itu berlaku buat semua, tidak hanya kamu." "Maxel, temani aku makan siang. Ak-" "Kapan kamu kembali ke Singapore?" tanya Maxel memotong rengekan Sintya, yang selalu dan selalu membuat geli telinganya. Sintya bersedekap d**a. "Hei, pertanyaanmu seperti mengusirku." "Bukan begitu maksudku, ada satu meeting yang harus kita datangi bersama," jawab Maxel datar. Sintya mengangguk-angguk lalu tampak sedikit berpikir. "Begitu kah? Aku kira kamu nggak suka aku ada disini," sindirnya. Tentu Saja aku tidak suka, batin Maxel memendam emosi. "Tenang, aku akan sedikit agak lama disini. Tapi, kita bahas itu sambil makan siang, ya?" Ck! "Aku sibuk. aku harus memeriksa berkas-berkas ini," tolak Maxel seperti biasanya. "Baiklah kalau begitu, aku akan menunggu sampai kamu selesai." Dan seperti biasanya juga, Sintya akan memaksa dengan berbagai cara. "Sintya, come on. Jangan seperti anak kecil." Tubuh Sintya yang indah, dengan lekuk yang pas pada tempatnya, belum lagi kulit yang bersih terawat juga rambut yang lembut, nyatanya tak membuat Maxel menyukainya. Sintya mengangkat bahu. "Kamu juga, kayak anak kecil yang susah makan." Huft! Entah sudah yang keberapa kali Maxel mendengus. "Berdebat denganmu tidak akan ada habisnya," tuduh Maxel kesal. Mendengar itu Sintya malah terkekeh, jika marah seperti itu, Maxel justru terlihat menggemaskan di matanya. "Maka dari itu jangan berdebat, ini juga demi kebaikanmu." Maxel mengalah dan memilih untuk menuruti keinginan Sintya. *** Eka dan Devasya saat ini berada di food court Mall, Devasya melihat ada penjual takoyaki kesukaan Maxel. Terlintas bayangan bagaimana dulu dengan rakusnya Maxel memakan jajanan itu saat mereka pergi ke pasar malam. "Aku nggak pernah makan jajanan seenak ini, Sya." Kata Maxel saat itu. "Sya, kamu mau itu?" tanya Eka yang melihat Devasya melamun sambil memandangi orang yang sedang membolak balik snack berbentuk bulat itu. Devasya menggeleng. "Enggak, hanya aja, itu makanan kesukaan, Maxel." Eka tersenyum jahil. "Kalau beneran kangen, temui aja, Sya." "Nggak ah, Mbak." Devasya memalingkan pandangan. "Gengsi, ya?" goda Eka lagi. "Ish, nggak. Bukan gitu, Mbak." Eka terbahak, dia menebak, tak lama lagi Devasya akan mengakui perasaannya pada Maxel. Dengan lahap, Devasya mengunyah makan siangnya. Mereka memesan satu piring nasi goreng ayam porsi jumbo untuk mereka makan bersama. Ditemani dengan dua gelas es teh lemon, juga dengan porsi jumbo. Setelah selesai, mereka tidak segera beranjak. Masih duduk diam untuk sekedar mengistirahatkan perut yang terlalu penuh. Tiba-tiba, Ekor mata Eka menangkap sosok yang dia kenali betul. Kayaknya itu ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN