Keraguan

2166 Kata
Aku tidak membencimu, aku sama sekali tidak meninggalkanmu, yang aku lakukan hanyalah membiarkan hatiku berdarah. Devasya sibuk mengemasi perlengkapannya yang tak begitu banyak, dia sudah diperbolehkan pulang hari ini. Tentu saja, Devasya berpikir untuk kembali ke rumah kontrakan, dia tidak pedulikan jika diawasi oleh Nendra atau siapa pun itu. Harga dirinya benar-benar terluka saat ini. Dia kira Nendra tulus berteman dengannya. Ternyata ketulusannya tak lebih dari sebuah pekerjaan. “Sya, kita pulang ke rumah, ya?” Maxel datang tergesa-gesa dengan membawa beberapa lembar kertas berwarna putih. Devasya tebak itu adalah tagihan rumah sakit. Meski tak nyaman jika Maxel harus membayar biaya perawatannya, Devasya memilih diam, berdebat pun Devasya tetap tak akan menang. Devasya masih bungkam, dan kembali melanjutkan aktivitasnya. Eka yang ikut membantu Devasya berkemas menjadi salah tingkah berada di situasi yang canggung ini. “Sya, please. Maafin aku," lirih Maxel. Dia abaikan keberadaan Eka yang menatapnya dengan tatapan iba. "Aku udah maafin kamu, tapi untuk lupa? Maaf, sayangnya aku nggak bisa." "Sya …." Pintu kamar dibuka, menampakkan sosok yang begitu Devasya rindukan, Mirna, budenya. Devasya setengah berlari meraih tubuh itu, tadinya dia mau bersikap tegar dan tidak lagi menampakkan tangisnya, tapi urung saat Mirna datang. Mirna mengurai pelukan lalu menangkup kedua pipis Devasya, mencari mata Devasya untuk akhirnya bertanya, "Nduk, kenapa?" Devasya terisak. “Devasya kangen, Bude.” Mirna tersenyum. "Kalau kangen nggak perlu nangis, Nduk. Bude di sini sama kamu." Mirna kembali memeluk Devasya. "Mama yang ajak, Jeng Mirna untuk ke sini." Dini mengusap rambut Devasya. Pasti ini cara mama untuk menahanku, bagaimanapun aku memang belum mengatakan apa-apa pada Bude, batinnya nelangsa. "Yuk, kita pulang sekarang," ajak Dini. "Ta-tapi, aku…" "Sya, please." Maxel kembali mengiba. Devasya memejam, sekilas menoleh pada Eka yang berdiri canggung di samping ranjang, kemudian Eka tersenyum lalu mengangguk. Oke aku turuti apa maumu, Xel. Tapi jangan kira kamu sudah menang, gumam Devasya lagi. “Untuk sementara waktu, kalau bisa batasi dulu aktivitasnya ya, Bu. Perbanyak istirahat, perbanyak juga asupan makanan bergizi, terutama zat besi," pesan dokter Zeni. Devasya dan lainnya mengangguk patuh. *** Rumah bercat putih gading yang berdiri megah itu tidak pernah Devasya sangka jika Maxel adalah pemiliknya. Rumah ini jauh lebih besar dari rumah Maxel di desa. Seorang wanita yang Devasya tebak berusia sekitar 30 tahunan terlihat membuka gerbang kokoh itu. Sejenak Devasya terkesima, tapi sebisa mungkin dia sembunyikan. “Makanya kamu betah, Nduk. Disini nyaman, ya," kata Mirna setelah mereka turun dari mobil. Devasya memilih tidak menjawab. Tidak, Bude. Bahkan Devasya baru tahu rumah ini hari ini. Seandainya Bude tahu, di mana selama ini Devasya tinggal, batin Devasya perih. Devasya berjalan pelan mengikuti langkah Dini dan Mirna, dia menepis tangan Maxel yang berusaha membantunya. "Aku masih cukup kuat untuk berjalan sendiri," ketusnya. Lalu Devasya semakin mempercepat langkahnya. "Pelan-pelan, Sya!" pekik Maxel khawatir. Dasar sok perhatian! “Mama udah siapkan kamar tamu di bawah, sementara kalian tidur disana dulu, ya. Kasihan Devasya kalau harus naik turun tangga.” Devasya menebak, jika kamar Maxel berada di lantai dua. “Di sana kamarnya Jeng Mirna, selama berada disini. Mari, Jeng. Saya antar." Dini mengantar Mirna menuju kamarnya, sedang Devasya sendiri ragu untuk mengikuti langkah Maxel. "Ayo masuk," pinta Maxel. Devasya masih diam. "Kita sekamar?" tanyanya masih dengan nada ketus. Maxel mengernyit. "Kenapa?" "Aku nggak mau sekamar." "Sya, kumohon." "Berhenti memohon, berhenti mengatakan, Please! Aku muak!" Maxel mengalah. "Oke, kita bicarakan lagi nanti, sekarang kamu istirahat dulu, kamu butuh apa sekarang?" "Nggak butuh apa-apa." Maxel menghela nafas dalam. Maxel sekarang kehilangan Devasyanya yang manja. Devasya kembali menarik garis batas, seperti saat mereka baru pertama saling mengenal dulu. “Maxel, kamu capek? Aku buatin teh hangat, ya?” “Maxel, jangan berangkat kerja, aku masih kangen.” “Maxel! Jangan cium-cium, geli!” Sekarang, ya ... sejak Maxel memutuskan menjauh, sudah tidak ada lagi rengekan manja Devasya, hanya kesendirian yang memeluk mereka masing-masing. Bahkan untuk saat ini Devasya lebih sering diam dan hanya menjawab saat ditanya saja, itu pun dipaksakan dengan nada ketus. Maxel kehilangan Devasya, bukan karena orang lain, tapi karena dirinya sendiri. Pun saat makan malam tiba, tidak ada gurauan yang biasanya memecah keheningan, Devasya hanya fokus dengan makanan di hadapannya, setelah sebelumnya melayani makan Maxel seperti biasa, walau tanpa ada kata-kata yang berarti. Sedari awal, Mirna sebenarnya sudah menaruh curiga, hanya saja, dia belum berani bertanya, dia menunggu waktu yang tepat. "Biar aku bantu, Mbak." Devasya mengangkat piring kotornya. Buru-buru Yuni mengambilnya. "Nggak usah, Nyonya, biar saya aja." Nyonya? Devasya merasa asing dengan panggilan itu. "Sya, biar Yuni aja yang beresin," kata Dini dengan senyum teduhnya. Tapi, entah kenapa saat ini Devasya tak menyukai senyum itu. Tak ingin berdebat, Devasya mengangguk patuh. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Maxel belum juga memasuki kamarnya, dan itu membuat Devasya gelisah. Dia merasa tidak nyaman jika harus satu kamar lagi dengan Maxel. Devasya membuka pintu, berniat pergi dari kamar sebelum Maxel kembali. Tapi, ternyata itu bertepatan dengan Maxel yang malah mau masuk. Tatapan mereka terkunci beberapa saat, sorot mata keduanya menyimpan begitu banyak rasa rindu, semua itu tersimpan rapi di d**a masing-masing. Maxel mendekat. Devasya refleks mundur dengan waspada. Tiba-tiba Maxel merengkuh lembut pinggang Devasya. Devasya ingin menolak, tapi tubuhnya mengkhianati otak. Nyatanya dia hanya diam saja. "Aku kangen, Sya," bisik Maxel lirih. Mata mereka masih saling mengunci. Devasya seakan tersihir, tidak bisa memungkiri akan wangi tubuh yang begitu dia rindukan, apalagi dekapan hangat yang selama ini dia harapkan, tapi … "Aku nggak akan bosan buat terus minta maaf, Sya. Sampai kamu benar-benar maafin aku." Maxel semakin mendekatkan wajahnya, mengecup sekilas bibir Devasya, Devasya terkejut, tubuhnya seketika kaku. Dia juga merindukan kebersamaan ini, tapi sayangnya kali ini ada sakit hati yang ikut campur di dalamnya. Mendapati Devasya yang masih terdiam, Maxel kembali mengecup, kali ini bibirnya bertahan, tak memberi jarak. Maxel memagut sekali, dua kali, tiga kali, mencoba membuka bibir Devasya. Devasya memejam, entah pagutan yang keberapa kali, yang akhirnya membuat Devasya sadar, lalu mendorong keras tubuh Maxel. "Maaf, aku tidur sama Bude malam ini," katanya sambil berlalu. Devasya tak langsung menuju kamar budenya, tapi memilih ke taman di samping rumah Maxel yang tadi sore tak sengaja dia liat. Devasya duduk di salah satu kursi, matanya kembali berair, kepalanya menunduk, kemudian tangannya memegang d**a, terasa sekali di telapak tangan jika jantungnya berdetak kencang. "Aku benci berada di situasi ini!" geramnya tertahan. "Aku benci menjadi lemah, aku benci dengan perasaan ingin bersandar ini!" Sejatinya Devasya hanya takut kembali terhanyut dalam pesona Maxel, dan itu akan membuatnya kembali lemah seperti sebelumnya. Bagaimana jika Maxel kembali membuangnya suatu hari nanti? Tidak! Aku tidak boleh lemah! Setelah puas menyendiri, Devasya menuju kamar Mirna. Melangkah dengan sangat pelan saat memasuki kamar budenya, perlahan pula dia merebahkan diri di samping wanita pengganti ibunya itu. Tapi, tetap saja meskipun pelan Mirna bisa merasakan dengan jelas pergerakan yang dibuat Devasya. "Lho, Nduk? kok disini?" tanya Mirna heran. "Devasya kangen sama Bude, tiba-tiba kangen sama mama juga," rengek Devasya. "Oalah, Nduk. Sini!" Mirna memeluk Devasya. Devasya memejam menahan tangisnya. Bukankah aku udah sangat puas menangis? Tapi kenapa air mata masih aja terus keluar, kenapa belum abis juga? "Kamu ada masalah sama, Maxel?" Devasya menggeleng. "Bude tahu, Nduk. Dari awal bude udah merasa kamu sedang nggak baik-baik aja. Biasanya kamu akan hubungi bude kalau ada apa-apa. Tapi, kali ini kamu mau coba nutupin kan?" cecar Mirna. Devasya hanya diam dan menunduk. "Nduk, bude mungkin nggak tahu masalah kalian apa, tapi bude harap kamu bisa dewasa dalam menanggapinya. Kamu adalah Devasya yang kuat, dan akan selalu kuat. Rumah tangga itu nggak mungkin nggak ada masalah, pasti akan ada aja godaannya." Devasya mengangguk haru. Ya, hanya itu yang Devasya butuhkan, dukungan dari orang tersayang. Maka rintangan apapun itu, pasti bisa dia hadapi. Devasya memilih tidak menceritakan dulu apa masalahnya pada Mirna, dia tidak ingin terlalu banyak membebani pikiran budenya yang sudah tidak muda lagi ini. *** Hari ini Mirna sudah harus kembali, setelah dua hari menemani Devasya. Tentu saja karena besok dia sudah harus kembali bekerja. Sebenarnya berat untuk Devasya melepas kepulangan Mirna, karena dia akan kembali merasa sendirian. Tapi, Devasya tidak bisa egois. "Bude, janji. Bude akan sering-sering main kesini, jangan sedih, ya." Devasya mengangguk, mencoba tegar dengan menampakkan senyumnya. "Titip Devasya ya, Nak Maxel. Maklumi sikapnya yang kadang keras dan kekanakan, tapi dibalik itu Devasya anak yang sangat lembut," pesan Mirna yang seolah menyindir Devasya. Maxel mengangguk yakin. "Iya, pasti Bude. Pasti Maxel akan jaga Devasya dengan baik." Entah kenapa itu terdengar bagai gurauan di teling Devasya. Omong kosong! Seperginya Mirna yang diantar sopir Maxel ke stasiun, perasaan canggung kembali menyelimuti Maxel. Tentu karena Devasya yang tidak kunjung mengajaknya bicara. Maxel menemui Devasya yang berada di samping rumah, lagi-lagi dia memilih duduk diam di kursi taman. Tapi kali ini ada Yuni yang menemaninya sambil menyiram tanaman. "Sya, aku ke kantor dulu, ya. Kamu mau dibawain apa pas aku pulang?" "Nggak usah." "Kamu suka s**u hamil rasa apa?" "Aku nggak suka susu." Padahal Devasya sangat menyukai s**u sejak dia hamil. Devasya berdiri, "Aku mau pulang," katanya kemudian. Hening. Yuni menyadari jika dia tidak sebaiknya berada disana, perlahan, Yuni menjauh, dia yakin masalah pertengkaran majikannya tempo hari itu karena permasalahan tentang Nyonya barunya ini. Maxel mengusap kasar wajahnya. "Pulang kemana, Sya? Ini rumah kita." Devasya menatap tajam tepat di mata Maxel. "Kita?" Detik kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain. "Ini rumah kamu." "Sya!" Teriak Maxel. Devasya terkejut, baru kali ini dia mendengar Maxel berteriak. Hatinya kembali tercubit. "Kenapa kamu marah? Bukannya selama ini, kamu tinggal sendirian? Lalu apa bedanya sekarang?" "Aku nggak bisa, Sya. Aku nggak mau kamu pergi." "Nyatanya kamu yang udah meminta aku buat pergi. Apa kamu udah lupa, Maxel?" sindir Devasya. "Sekarang atau nanti, sakitnya akan tetap sama, jadi untuk apa lagi menunggu?" Maxel kalah, Devasya memang sekeras kepala itu. "Bahkan dari awal, kamu tidak mengizinkan aku datang ke rumah ini kan?" Devasya terkekeh, yang malah terdengar seperti mengejek. "Kita menikah, tapi aku bahkan nggak tahu kamu punya rumah disini, aku nggak tahu gimana pastinya kerjaan kamu, aku nggak tahu apapun tentang kamu." Devasya mengatur nafasnya yang tersengal, mengungkapkan apa yang ada dipikirannya selama ini. "Bodoh kan? Ya, aku baru menyadari kalau selama ini aku emang bodoh dalam mencintai kamu. Aku terlalu terlena dan menganggap kamu segalanya." Maxel mendekat beberapa langkah. "Semua ada alasannya, Sya," Dan lagi, Devasya refleks mundur. "Apapun itu, yang menjadi fakta adalah, kamu enggan mengakui kami, dan aku cukup tahu diri." Devasya menaruh ponsel mahal yang dulu diberikan Maxel di kursi yang tadi dia duduki. "Aku datang tanpa membawa apa-apa, jadi aku akan pergi juga tanpa membawa apa-apa. Maaf, kalau sebagian uang yang pernah kamu kasih ke aku udah aku pake." "Sya!" "Aku pamit, Maxel. Jaga dirimu, jangan bekerja terlalu keras. Pikirkan kesehatanmu." Devasya tersenyum, senyum yang penuh dengan luka. Maxel menahan lengan Devasya. "Jangan pergi!" Dini yang mendengar perdebatan mereka hanya bisa diam dan menahan tangisnya. Dini sangat tahu luka yang Devasya rasakan, dia tidak bisa terus menahan jika Devasya ingin pergi. Dini berpikir, mungkin bisa membujuk Devasya perlahan-lahan nanti. "Maxel, stop!" pekik Dini. Maxel melepas lengan Devasya. "Biarin Devasya pergi." Kini Dini menangis. "Tapi, Ma!" Dini menuju Devasya, memeluknya hangat. "Maafkan mama, Nak. Maafkan Maxel juga, Sayang. Kalau kamu mau pergi untuk menenangkan diri, mama nggak akan menahanmu, Nak. Tapi, mama harap kamu tidak pernah berniat untuk benar-benar pergi dari kami." Devasya hanya diam. Tekadnya sudah sangat bulat untuk membuat Maxel menyesal. "Devasya pamit, Ma. Semoga Mama sehat selalu." Kemudian Devasya mencium punggung tangan Dini. Lalu menuju Maxel. "Aku pamit." Devasya tersenyum, lalu meraih tangan kanan Maxel dengan lembut, lalu mengecup lama punggung tangan laki-laki yang masih menjadi suaminya itu. Jangan tanya bagaimana perasaan Maxel, kacau. Sama sekali tidak menyangka hatinya akan sehancur ini. "Nggak usah diantar," sela Devasya lembut penuh percaya diri, bahkan saat Maxel baru saja akan membuka mulutnya. Devasya tak membawa apapun selain dompetnya, itu pun dengan uang yang seadanya. Dia tinggalkan semuanya disana, termasuk kartu debit yang pernah diberi oleh Maxel. Devasya berjalan santai mengikuti arah jalan yang sempat dia ingat saat kemarin dia dibawa kesini. Sampai di jalan raya, Devasya melihat sebuah halte, dia duduk di kursi yang memang tersedia disana. Menunggu bus datang untuk membawanya pergi. Entah kemana tujuannya. Sebuah lagu milik Virgoun berjudul Seluruh Nafas Ini mengalun di dalam bus, seolah mengiringi kepergian Devasya yang begitu mengenaskan. Devasya menitikkan air mata, mengingat kembali bagaimana teganya Maxel menolaknya di depan banyak orang saat itu. Lalu mengingat bagaimana Maxel tiba-tiba datang dan memintanya kembali, seolah itu adalah hal mudah, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Keluarga bahagia? Rumah tangga utuh? Impian Devasya seakan sirna. *** Entah berada dimana sekarang Devasya, dia tidak membawa ponsel, bagaimana bisa dia menghubungi Eka. Kalaupun dia bisa meminjam ponsel orang lain, dia tidak mengingat dengan pasti berapa nomor ponsel Eka. Seolah terus mengikuti mau kakinya, Devasya terus melangkah, Devasya enggan bertanya pada siapapun. Selinglung itu pikirannya. Tiiin! Bunyi klakson mobil terdengar keras dan panjang. Devasya menghentikan langkahnya. Tubuhnya gemetar, lututnya lemas. Hampir saja dia tertabrak. Untuk saja pemilik mobil sigap menginjak rem, kalau tidak, pasti sekarang Devasya sudah …. "Devasya? Kamu ngapain disini?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN