Sebuah Alasan

1839 Kata
Saat aku jatuh cinta, itu sama artinya dengan aku menjadi lemah. Eka melangkah perlahan memasuki kamar rawat Devasya, dia tidak ingin membangunkan sahabatnya itu. Tapi, ternyata Devasya sudah duduk bersandar pada kepala ranjang. Tentu dengan tatapan sayu ke arah luar jendela. Langit cerah malam ini, dan di luar terlihat begitu terang. Kamar rawat Devasya berada di lantai tiga, lantai khusus untuk departemen kandungan, juga ibu dan anak. "Udah bangun ternyata." Eka tersenyum lembut. Eka tahu, Devasya sedang rapuh, patah, bahkan mungkin hancur. Devasya membalas senyuman, tapi terlihat jelas bahwa itu dipaksakan. "Ini aku bawain bubur ayam. Dimakan, ya? Aku suapin?" Eka mengangkat kantong plastik bening berisi cup bubur itu agak tinggi. Devasya menggeleng pelan. "Aku nggak laper, Mbak," jawabnya lemah. "Sya, kamu tadi belum sempat makan siang, dan ini udah lebih dari jam tujuh malam." Eka menoleh pada jam di dinding. "Kamu harus makan, demi anak-anakmu." Devasya bergeming, lagi … tenggorokannya seperti tercekik, nafasnya pun ikut sulit. Anak-anak? Devasya menunduk, memperhatikan perutnya, lalu mengusapnya lembut. "Sya … kamu harus kuat. Kamu nggak sendirian." Devasya memejam, bersamaan dengan jatuhnya butir air mata yang dari tadi hanya menggenang. "Kenapa, Mbak?" Devasya menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. "Kenapa Maxel jahat sama aku? Aku salah apa sama dia?" lanjutnya. Eka menahan nafasnya, hatinya bimbang. Apa menceritakan semuanya saat ini adalah waktu yang tepat? Menurutku, lebih baik jika Maxel yang menceritakannya sendiri, pikirnya. "Aku yakin, Maxel pasti punya alasan, Sya." Eka mencoba menengahi. Devasya menunduk lagi. "Alasan apa, Mbak? Kenapa nggak ngasih tahu aku? Aku bingung, dia tiba-tiba menjauh, tiba-tiba mendekat lagi, lalu setelah ini apa? Setelah aku baik-baik aja nanti, dia akan pergi lagi? Iya?" Devasya menahan pekikannya. "Kemarin aku dipungut, lalu aku dibuang, lalu sekarang aku dipungut lagi?" sambungnya, pertanyaan-pertanyaan itu seolah menampar Eka. Beberapa detik lalu dia merasa iba pada Maxel dan menganggap Devasya terlalu keras kepala, tapi sekarang Eka sadar, Devasya jauh lebih terluka disini. "Maaf," ucapnya kemudian. Eka mendekat, lalu mendekap Devasya selayaknya seorang kakak kepada adiknya. "Aku tahu ini berat, tapi aku yakin, apa pun yang terjadi nanti. Kamu bisa melewatinya dengan baik." Devasya semakin terisak. "Apa nggak lebih baik kamu dengerin penjelasan Maxel dulu?" tanya Eka sambil mengusap lembut rambut Devasya dalam dekapannya. Ya, Eka hanya berusaha menjadi jembatan yang baik bagi keduanya. Toh, segala keputusan dan pilihan tetap berada pada keduanya juga. "Mungkin, itu akan membuat kamu sedikit merasa lebih baik." Devasya masih bungkam. Dia ingin tapi dia takut, takut jika alasan Maxel tidak bisa diterima hati dan pikirannya, juga takut jika melihat tatapan Maxel dia akan kembali luluh. "Sekarang, pikirkan dulu kondisimu. Pikirkan mereka yang ada di perutmu. Kalau kamu sedih, mereka juga akan sedih. Kalau kamu sakit, mereka juga akan sakit." Devasya mengurai pelukan, karena dia baru menyadari sesuatu.. "Iya, Mbak. Mereka kurang aktif hari ini. Apa mereka baik-baik aja?" Eka mengangguk. "Kata dokter mereka baik-baik aja. Mungkin mereka diam karena mereka belum makan," goda Eka. Devasya mengusap perutnya, "Maaf … maafkan mama, mama belum menjadi kuat untuk kalian." Lagi, Devasya menangis. Eka ikut mengusap perut Devasya. "Sudah, sekarang makan, ya." Devasya mengangguk, lalu mengusap kasar air matanya. Dibalik pintu kamar rawat itu, Maxel berdiri kaku, matanya basah, dadanya pun sesak, bayangan kematian Kalina dan Vina juga kepergian Nicky, ditambah mendengar ucapan Devasya barusan, cukup membuat pikirannya seolah kosong. Dia tidak ingin kejadian-kejadian itu juga menimpa pada Devasya, tapi dia tidak bisa memunafikkan hati jika sangat ingin bahagia bersama dengan Devasya. Bodoh! Kenapa aku dulu nekat menikahinya? Jika pada akhirnya aku sendiri yang malah menyakitinya. Aku terlalu buta karena cinta hingga aku melupakan jika ada yang tidak menginginkan aku bahagia. *** Khawatir. Satu kata itu yang entah kenapa menyelimuti hati Sandy saat ini. Semenjak mendapat kabar dari orang kepercayaannya jika Devasya dilarikan ke rumah sakit siang tadi. Sandy tak bisa duduk tenang barang satu menit saja. "Sebenarnya aku kenapa?" hardiknya pada diri sendiri. Bahkan saat mendapatkan laporan jika Maxel dan mamanya menemui Devasya di rumah sakit, Sandy tak merasa geram sedikit pun. Dalam pikirannya, Sandy hanya ingin memastikan jika Devasya baik-baik saja, tentu dengan mata kepalanya sendiri. Tapi, apa mungkin? Apa bisa? Dengan alasan apa? "Aku nggak bener-bener lagi suka sama istri orang, kan? Gila aja!" gerutunya tak tenang. Sandy sendiri tidak bisa menjelaskan secara detail, apa istimewanya seorang Devasya? Sampai bisa membuatnya segelisah ini. "Aku harus ke sana, apa pun dan bagaimanapun caranya, aku harus melihatnya." Sandy segera meraih kunci mobil, dia abaikan jam makan malamnya. "Mau kemana?" tanya Yudi dari ruang TV. Mereka akan makan malam sebentar lagi, dan Maxel malah akan pergi? Sandy menghentikan langkah, lalu tersenyum tipis. "Jalan-jalan, dong, Yah. Kan anak muda," jawab Sandy santai sambil berlalu, tidak mau menampakkan wajah cemasnya pada sang Ayah. "Dasar!" Yudi tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku penasaran, gadis mana yang sudah membuat Sandyku kembali," gumam Yudi. Ya, sudah sejak lama, Sandy seolah lupa bagaimana caranya untuk tersenyum, senyumnya seolah terkubur dalam bersama kepergian Adinda, sang adik tersayang. Setelah sampai di rumah sakit, Sandy terlebih dulu bertanya letak kamar Devasya pada bagian informasi. Setelah itu Sandy bergegas mencari. Langkahnya terhenti saat melihat Maxel berdiri tepat di depan pintu kamar rawat Devasya. Tak jauh dari sana dia melihat ada satu orang laki-laki lagi, yang Sandy tahu pasti itu adalah Nendra, asisten Maxel. "Bodoh! Ngapain aku ke sini? Kamu mau masuk dan nanyain kabar kayak orang bego?" batin Sandy menyalahkan diri sendiri. Sandy urung mendekat, dan memilih untuk duduk di kursi tunggu lain yang tak jauh dari sana, lalu dia mengeluarkan ponsel, seolah-olah tak mempedulikan sekitar. Beruntung, Sandy saat ini menggunakan masker, jadi tidak ada yang akan mengenalinya dengan pasti. Sesekali ekor mata Sandy melirik ke arah Maxel yang sedang berbicara serius dengan Nendra, tak lama dari itu Maxel berlalu. Hanya Nendra yang masih duduk menunggu di kursi yang berada pas di depan kamar rawat itu. "Sepertinya tidak akan mudah untuk menemuinya. Sebaiknya aku pulang. Setidaknya, aku tahu dan yakin dia baik-baik saja saat ini." Sandy akhirnya mengurungkan niatnya menemui Devasya dan memilih kembali pulang. *** Setelah semalaman Devasya mencoba untuk berdamai dengan hatinya, pagi ini, dia merasa sedikit lebih tenang untuk bertemu, dan mungkin untuk mendengar penjelasan dari Maxel. Seperti pesan Eka sebelum dia pulang tadi, bahwa kali ini Devasya harus bisa menahan emosi dan memberi kesempatan untuk Maxel bicara. "Pagi, Sya." Maxel muncul dari balik pintu. Dia membawa dua buah kotak donat favorit Devasya yang selalu dia pesan saat Maxel pulang dari kota dulu. Seketika hati Devasya terasa seperti dicubit. Nyeri! Alih-alih menjawab, Devasya memilih bungkam, hanya matanya yang mengikuti pergerakan Maxel. Maxel mendekat. "Udah baikan?" tanyanya mencoba santai, walau dalam hatinya dipenuhi dengan gemuruh. Lagi, Devasya tidak menjawab. "Sya, ak-" "Kamu mau apa?" potong Devasya. Nadanya datar, tatapannya dingin, seolah menusuk langsung ke jantung Maxel. Jika saja tatapan itu adalah pedang, mungkin saat ini Maxel sudah berdarah-darah. "Maaf, Sya. Aku hanya … hanya seorang pengecut yang sedang berusaha melindungimu." Maxel menghela nafas dalam. "Nyatanya, aku malah menyakitimu." Hening. Devasya masih tidak bereaksi apa pun, tangannya hanya mengusap-usap ringan pada perut buncitnya yang tertutupi selimut. Maxel mendekat, dia duduk di sebuah kursi yang berada di sisi kanan ranjang Devasya. "Aku nggak bermaksud mengabaikan kamu, Sya." Ragu, maxel menarik salah satu tangan Devasya dan menggenggamnya. Nyatanya, telapak tangan keduanya sama-sama dingin. "Ini salahku. Harusnya dari awal aku cerita semuanya ke kamu. Aku minta maaf, Sya." "Lalu maumu apa sekarang?" tanya Devasya tak sabaran. Devasya memang paling tidak suka bertele-tele. Maxel makin erat menggenggam tangan Devasya. "Aku mau mengakhiri jarak ini, aku mau hadapi apa pun itu, aku mau kita kembali kayak dulu lagi." "Kayak dulu lagi? Kamu pikir mudah membuat kaca yang sudah hancur kembali utuh? Enggak! Kaca itu harus dilebur dulu dengan api yang sangat panas, agar bisa menjadikannya baru lagi," cecar Devasya panjang lebar. Maxel memandang kaget pada Devasya. Apa itu artinya Devasya tidak akan memaafkannya dan ingin berpisah? "Sya, kamu perlu tahu. Posisiku serba salah." "Lalu posisiku? Bagaimana posisiku?" sanggah Devasya. "Aku akan ceritakan semuanya, please … dengerin aku dulu, ya." Devasya mengalihkan lagi pandangannya pada luar jendela, tapi telinganya mendengar dengan cukup jelas setiap kata yang keluar dari mulut Maxel, pun dengan tangannya yang masih berada dalam genggaman tangan Maxel. "Kamu bisa ngertiin kan, Sya?" Maxel selesai menceritakan secara singkat tapi jelas tentang alasannya menyakiti Devasya. Hening sejenak, lalu tak lama air mata Devasya mulai mengalir. Air mata yang sudah sejak tadi dia tahan. Devasya menarik tangannya dari genggaman. "Sekarang aku mengerti. Dari awal, hubungan ini memang nggak ada artinya buat kamu." "Sya." "Aku bukan siapa-siapa buat kamu, karena itu kamu nggak berpikir untuk cerita." "Bukan kayak gitu, Sya." "Kamu nggak percaya sama aku, Maxel! Kamu mengabaikan perasaanku!" pekiknya. Devasya terisak, Maxel menunduk. Keduanya sama-sama kacau. Maxel merasa bahwa tindakannya semata hanya untuk melindungi Devasya, sedang Devasya merasa, Maxel telah mengkhianati kepercayaan Devasya dengan mengambil tindakan sepihak tanpa berdiskusi terlebih dulu. Pada dasarnya ini hanyalah kesalahpahaman yang tidak berkesudahan. "Lebih baik kita sendiri-sendiri aja," ucap Devasya yakin. Tangisnya sudah mereda. "Sya! Jangan konyol, kamu sedang mengandung anak kita. Aku nggak akan biarin kamu sendirian." "Lantas selama beberapa waktu belakangan ini apa?" "Aku nggak bisa biarin kamu sendirian, selama ini Nendra yang bantu aku buat jaga kamu. Aku nggak benar-benar ninggalin kamu, Sya." Devasya diam. Nendra? Jadi selama ini, Nendra adalah? "Bagus, Maxel. Sekarang kamu membuat aku seratus persen terlihat bodoh," sindir Devasya. Devasya benar-benar merasa telah dipermainkan. Mungkin memang tujuan Maxel baik, hanya saja Devasya tidak menyukai caranya. "Aku sudah memaafkanmu, tapi untuk kembali? Aku masih perlu untuk memikirkannya." Kemudian hening sesaat. "Kamu sangat tahu aku gimana, aku perempuan kaku yang keras kepala, aku sudah menjatuhkan diri dan hatiku sepenuhnya buat kamu, tapi kamu seolah menganggap aku bisa kamu tarik ulur hanya karena sebuah alasan tak berdasar. Itu menyakitiku, aku sudah bersandar penuh sama kamu, tapi tiba-tiba kamu dorong aku menjauh, dan sekarang? Kamu mau aku menerimamu kembali?" "Maaf Maxel, aku memang mencintaimu, tapi aku tidak bisa melupakan apa yang sudah kamu lakukan ke aku. Mungkin bagimu ini hanya masalah sepele. Walau aku tahu maksud baikmu, tapi … tetap saja, luka ini sudah terlanjur ada. Membekas dan begitu menyiksa." Pintu dibuka, dan itu menjeda pembicaraan mereka. Dini datang dengan senyum cerah dan tulus seperti biasanya. "Sya, udah baikan?" tanyanya kalem Devasya mengangguk. Dini mengerti dari sembabnya mata, jika Devasya baru saja menangis. Sepertinya Maxel telah menjelaskan semuanya. Dini hanya berharap Devasya bisa bijak dalam membuat keputusan. "Ini, dari budemu." Dini menyerahkan sebuah kantong kain, di dalamnya berisi sebuah toples kaca bening berukuran sedang, yang Devasya sudah bisa menebak apa itu. "Maaf … baru bisa mama bawa ke kamu." Dini menunduk, merasa bersalah karena sempat mendukung tindakan Maxel. "Nggak apa-apa, Ma. Devasya ngerti. Makasih." "Setelah keluar opname, kamu nanti pulang ke rumah sama kami, ya?" tanya Dini yang sebenarnya adalah sebuah permohonan. Devasya tersenyum. "Maaf, Ma. Devasya tidak bisa." Maxel memejam, dadanya seperti dihantam. Sesakit hati itukah kamu, Sya? "Sayang, kamu pikirin lagi. Maxel melakukan itu karena dia menyayangimu, Nak." "Devasya tahu, Ma." "Lalu?" "Devasya tidak ingin menjadi beban. Jadi lebih baik jika-" "Enggak! Mama nggak mau!" Dini histeris, mulai menangis. Maxel mencoba menenangkan mamanya. "Sya, kumohon. Pikirkan lagi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN