Adakah tahapan yang setingkat di atas marah? Ada. Kecewa.
Devasya kembali ke toko dengan perasaan yang lebih ringan, setelah bertemu Sandy dan mengembalikan bajunya, itu sudah seperti terlepas dari sebuah jeratan. Nyatanya ada hal yang Devasya baru sadari.
"Dia nggak sejahat itu. Pujiannya tentang kue tadi terdengar tulus," gumam Devasya dengan langkah riang. Tangannya mengusap-ngusap perutnya penuh kasih sayang.
"Mama harap, kalian tumbuh menjadi anak yang baik dan lembut hatinya. Jangan seperti dia yang terlihat angkuh," gumamnya lagi.
Sampai di toko, Devasya langsung menuju ruangan Eka yang pas bersebelahan dengan ruang produksi, wangi butter bercampur vanilla langsung menguar memenuhi indera penciuman Devasya.
"Gimana?" tanya Eka antusias.
Devasya tersenyum. "Udah, Mbak. Dia nggak galak, kok," jawabnya lalu duduk di kursi di hadapan Eka.
"Mbak, enak ya disini. Wangi kue." Devasya menghidu dalam-dalam aroma manis itu.
Eka menggeleng. "Aku nggak suka, aku merasa kayak tenggelam dalam lautan mentega." Kemudian mereka terkekeh.
Pada saat jam makan siang, Eka dan Devasya berniat menuju pujasera yang terletak tak jauh dari toko kue ini, tapi langkah mereka terhenti. Sepertinya mereka harus mengurungkan niat itu karena tiba-tiba Nendra membawa banyak sekali kotak nasi.
"Rena, tolong bagikan ini pada semuanya," perintah Nendra pada Rena–salah satu karyawannya juga.
Langsung saja, Rena tak membuang waktu lagi, segera dia berkeliling, membagi kotak nasi itu kepada teman-teman lainnya.
"Wah, Bos Nendra ulang tahun, ya?" pekik Eka semringah saat Rena memberi jatahnya.
Nendra menggeleng disertai senyuman. "Enggak, lagi pengen aja," katanya santai.
"Makasih ya, Mas. Semoga rezekinya makin lancar." Devasya berbinar menerima kotak itu.
Syukurlah, menghemat pengeluaran untuk makan siang, pikirnya.
"Selamat menikmati semuanya," seru Nendra lalu dia masuk ke ruangannya yang juga bersebelahan dengan ruangan Eka.
Yang sebenarnya terjadi adalah, Maxel lah si pengirim kotak-kotak nasi itu. Tentu saja melalui Nendra, setelah sebelumnya Maxel menghubungi Nendra untuk bertanya berapa jumlah semua karyawannya yang bekerja pada hari ini. Ya, Maxel tidak pernah benar-benar meninggalkan Devasya.
Devasya membuka kotak nasi itu dengan wajah cerah, tapi detik kemudian wajahnya berubah murung.
Air mata menggenang di pelupuk matanya. Mengetahui itu Eka membatalkan suapannya.
"Ada apa, Dek? Ada yang sakit?" tanyanya cemas lalu menggenggam sebelah tangan Devasya yang berada di atas meja. Tangan Devasya yang satunya lagi sedang mengusap-usap perutnya.
Devasya tak sanggup berkata-kata, tenggorokannya terasa kering, dadanya mendadak sesak.
"Aku merindukannya, Mbak." Devasya menyeka bulir bening yang melewati pipinya. "Menu ini, menu kesukaannya," lanjutnya lirih sambil melihat pada kotak yang berisi nasi kuning komplit itu.
"Nasi kuning dengan lauk perkedel." Devasya makin terisak. Eka bangkit dari duduknya lalu memeluk Devasya.
"Menangislah jika itu membuatmu lega, luapkan semuanya." Eka menepuk ringan punggung Devasya.
Flashback On
"Emang enak makan sama gitu doang?" Devasya tak percaya dengan lauk yang dipilih Maxel saat mereka janjian sarapan bersama di warung saat masih pendekatan dulu.
Devasya melihat hanya nasi kuning dan perkedel kentang yang ada di piring Maxel.
Maxel mengangguk. "Ini kesukaan aku banget, mama sering buatin ini."
Devasya mengernyit. Selera yang aneh, pikirnya.
"Cobain, ini enak banget." Maxel hendak menyuapi Devasya.
Refleks, kepala Devasya bergerak mundur, sedikit tidak yakin. "Cobain!" paksa Maxel.
Devasya membuka mulutnya, mengunyah perlahan, dan … "Iya, enak," katanya riang.
"Nanti kalau kita udah menikah, buatin aku masakan kayak gini, ya."
Uhuk! Devasya tersedak, pipinya merona.
Menikah?
Flashback Off
“Permisi, Pak. Ada paket lagi, dan kali ini saya menahan kurirnya." Angel muncul dari balik luar pintu ruangan Maxel.
"Bagus." Maxel segera beranjak untuk menemui kurir itu.
"Ini paket untuk saya?" tanya Maxel pada kurir berjaket orange itu.
Si kurir yang bernama d**a Trisno itu mengangguk sopan. "Untuk, Pak Maxel," jawabnya.
"Bisa tunggu sebentar, biar saya buka dulu." Maxel hanya ingin memastikan jika itu dari Devasya yang sesungguhnya atau bukan.
Lagi, kurir itu mengangguk. Gegas, Maxel membuka amplop cokelat besar itu. Benar! Bukan dari Devasya yang sesungguhnya.
"Bapak tahu siapa yang mengirim ini?" tanya Maxel sedikit geram. "Bisa saya lihat tanda pengenal dan ID kurir Anda?"
Kurir itu tampak sedikit ketakutan, dia berpikir apa yang salah? Dia hanya mengantar sesuai alamat yang tertera di paket.
"Bi-bisa, Pak." Kurir itu mengambil dompetnya, lalu menyerahkan dua buah kartu.
"Saya, mengambil paket ini di depan Toko Kue Meneer, Pak," jelas Kurir itu.
Toko Kue Meneer adalah toko kue milik Nendra.
"Laki-laki atau perempuan?"
"Perempuan, Pak. Sedang hamil."
Maxel tidak percaya? Apa maksud semua ini?
Sebuah foto yang Maxel tahu betul itu bukan Devasya yang mengirimnya.
Maxel mengeluarkan ponsel. Menunjukkan foto Devasya pada kurir. "Apa dia orangnya?" tanyanya serius.
Kurir tampak berpikir. "Saya tidak melihat jelas wajahnya karena dia memakai masker, Pak."
Sial! Siapa orang ini? umpat Maxel dalam hati. Tangannya mengepal geram.
"Baiklah, terima kasih." Setelah itu Maxel segera berlalu.
Masuk ke ruangan lalu membanting keras pintunya.
Rahangnya mengeras, wajahnya merah padam. "Apa maunya?"
Diperhatikan lagi foto yang dia terima tadi, sebuah tulisan 'Kue ini sangat enak' berada di baliknya.
"Devasya nggak mungkin kirim beginian. Orang itu bener-bener makin meresahkan." Maxel bermonolog.
Kemudian setelahnya dia menghubungi Nendra untuk memberi tahu tentang hal ini dan memintanya untuk lebih berhati-hati.
"Aku harus pulang dan menunjukkan ini pada, Mama."
***
"Dia suka nasi kuning dan perkedel aja, Mbak. Dia … dia …." Devasya tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Eka makin erat memeluk Devasya. Dia sangat yakin, Devasya masih sangat mencintai suaminya itu.
"Aku mau kirimin dia menu ini, Mbak. Aku nggak mau dia lupain aku gitu aja," kata Devasya lagi, masih diiringi tangisan.
Eka hanya bisa diam. Dia berpikir Devasya pasti sangat tersiksa, tanpa kejelasan hubungan, tanpa kabar, terombang ambing sendirian.
"Sabar, ya." Hanya itu yang bisa Eka ucapkan.
Dering ponsel milik Devasya memecah haru dalam ruangan. Devasya membaca nama kontak pada panggilan masuk.
"Ini Budeku, Mbak." Devasya buru-buru menyusut tangisnya dan berdehem beberapa kali untuk menormalkan suaranya.
Devasya dan Mirna saling mengungkap rindu. Sampai pada pertanyaan yang membuat Devasya seketika hancur
"Nduk, serundengnya sudah habis belum?" tanya Mirna.
Devasya terdiam. Serundeng? Apa maksud Bude?
"Nduk, kok diam?" Devasya bingung harus menjawab apa.
"I-iya, Bude. "
"Waktu itu, pas nggak sengaja ketemu Jeng Dini, dia bilang mau ke kota, jadi bude cepet-cepet buat serundeng itu dan nitipin buat kamu."
"I-iya, Bude. Makasih banyak. Devasya suka."
Deg! Mama di kota? Tapi kenapa nggak ngabarin aku?
Devasya mati-matian menahan tangisnya agar tidak pecah, bagaimanapun Devasya tidak ingin Mirna tahu masalahnya, setidaknya untuk saat ini.
Devasya memejam, dia merasakan kram di perut bagian bawahnya, tangannya refleks mencengkeram tangan Eka. Devasya menahannya juga, dia tidak ingin Mirna merasa cemas.
Tepat setelah sambungan telepon diputus, Devasya memulai lagi tangisnya. Masih terbayang dengan jelas bagaimana rona bahagia Mirna saat Maxel melamarnya dulu, dan bagaimana antusiasnya Mirna saat mengetahui Dirinya telah mengandung.
Gimana sekarang? Gimana caranya Devasya menjelaskan jika saat ini rumah tangganya sedang berada di ujung tanduk.
Devasya bingung, sebenarnya apa mau Maxel, mengejar cintanya, menikahinya, lalu sekarang membuangnya begitu saja?
Bahkan sang mama mertua yang Devasya pikir tidak tahu apa-apa, sepertinya malah ikut mendukung Maxel. Nyatanya Devasya baru menyadari, mertuanya itu sudah beberapa waktu tidak menghubunginya. Biasanya Dini akan rutin meneleponnya walau hanya sekedar bertanya kabar.
Devasya tadinya mengharap Maxel masih mau menerimanya, untuk itu Devasya akan berusaha, tapi ... jika mertuanya pun sudah tidak menginginkannya. Lalu untuk apa?
Rasa kram di perut bagian bawahnya makin terasa, Devasya mengerang kesakitan.
"Kita ke rumah sakit sekarang! Aku nggak mau kamu kenapa-napa." Eka segera melesat pergi ke ruangan Nendra. Meminta izin untuk pulang lebih awal.
Nendra yang ikut khawatir ikut mengantar Devasya dengan mobilnya.
"Syukurlah kandungan ibu Devasya baik-baik saja. Hanya saja tidak akan baik jika sampai ibu mengalami kram berkali-kali di usia kandungan saat ini, kemungkinan kelahiran prematur sangat besar. Jika memungkinkan, jangan terlalu lelah, juga jangan terlalu banyak pikiran, Bu." Seorang dokter kandungan wanita bernama Zeni memberi penjelasan.
"Ibu harus di observasi. Menginap lagi di sini beberapa hari lagi, karena kami temukan sedikit bercak darah tadi. Ibu harus bedrest total," lanjut dokter Zeni.
Devasya hanya bisa mengangguk pasrah, tentu saja dia akan merasa bersalah jika terjadi sesuatu pada kedua calon bayinya.
Nendra secara tak sabar menghubungi Maxel tentang keadaan Devasya saat ini. Maxel yang kebetulan sedang berada di rumah siang itu tentu saja tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya.
"Kenapa, Xel?" tanya Dini saat melihat Maxel menuruni tangga dengan terburu-buru. Karena yang Dini tahu, Maxel baru saja sampai.
Maxel ragu untuk memberi tahu Dini tentang keadaan Devasya, tapi menutupinya pun bukanlah sebuah hal yang baik.
"Devasya, Ma." Maxel menjeda. "Perut Devasya kram dan sekarang ada di rumah sakit."
"Apa?" Gila kamu masih setenang ini? Kita ke sana sekarang!"
Maxel sudah bisa menebak, kali ini Maxel pasrah. Apapun yang terjadi, dia akan hadapi.
Sampai di rumah sakit Dini terlebih dulu masuk ke kamar rawat Devasya, dia langsung histeris dan memeluk Devasya erat. Tentu saja Devasya sangat terkejut.
"Maafin mama, Sayang. Maafin Maxel." Dini terisak, begitupun dengan Devasya. Tapi, Devasya hanya diam, air matanya saja yang dia anggap sebagai jawaban.
"Kalian nggak apa-apa, kan?" tanya Dini sambil memindai Devasya sedang tertidur lalu mengelus perutnya.
Eka yang merasa canggung, memilih keluar kamar, lebih baik dia mencari keberadaan Nendra, ketimbang berada di dalam dan menyaksikan drama yang menyedihkan.
Devasya masih diam, hatinya terasa sangat sakit. Devasya berpikir, Sebenarnya mereka mencemaskannya atau hanya mencemaskan kandungan Devasya? Dan dari mana mereka tahu jika dia sedang berada di rumah sakit?
"Sayang, kenapa diam aja?" Dini mulai cemas. Meski tahu Devasya pasti kecewa, tapi Dini berusaha menepisnya. Dini yakin Devasya akan bijak menanggapi hal ini jika sudah mengetahui alasan sebenarnya nanti.
Maxel muncul dari balik pintu, jantung Devasya seperti berhenti berdetak. Wajah itu, wajah yang selama satu bulan ini selalu menghantuinya. Wangi itu, wangi tubuhnya yang walau berjarak sedikit jauh tapi Devasya sudah bisa menciumnya.
"Sya," panggil Maxel lirih. Langkahnya pelan tapi pasti menuju ranjang Devasya.
"Stop! Jangan mendekat!" pekik Devasya. "Keluar kamu!" Devasya memekik lagi.
"Sya …"
"Pergi!" Devasya mencengkeram selimutnya. "Aku benci kamu, Maxel! Pergi!" Devasya merasakan lagi kram di perutnya, dan tanpa sadar Devasya meringis kesakitan. Hal itu membuat Dini dan Maxel cemas dan segera memanggil dokter.
"Saya minta, jangan membuat pasien stres, itu tidak akan baik bagi kandungannya," pesan dokter lagi dari balik pintu kamar rawat Devasya yang dijawab anggukan oleh Dini, Maxel, Eka maupun Nendra. Keempatnya sama-sama merasa cemas.
"Aku akan menunggunya di sini, kalian pulang saja," pinta Maxel.
"Enggak, Devasya pasti akan makin tertekan kalau dia tahu kamu ada di sini," sanggah Dini tegas.
Eka memegang lengan Dini. "Biar saya aja yang nunggu, Tante," pintanya tulus.
Dini berpikir sejenak, Devasya pasti perlu waktu untuk menenangkan diri. Akhirnya Dini mengangguk setuju. "Tante titip, Devasya ya, Nak."
Eka mengangguk.
"Saya akan menemaninya, Bos." Nendra membuka suara. Mau tak mau semua memang harus terbongkar di waktu yang tidak tepat. Nendra bisa merasakan tatapan tajam Eka padanya.
"Tapi, Ma. Maxel khawatir."
"Besok kita ke sini lagi, biarkan Devasya tenang dulu."
Setelah perdebatan sengit, akhirnya Maxel menuruti keinginan Dini untuk meninggalkan Devasya, dan kembali lagi esok hari.
"Kamu hutang penjelasan sama aku, Ndra," tuntut Eka dengan jari mengarah tepat di wajah Nendra.
"Aku jelasin pelan-pelan, dan please, bantu aku buat jelasin juga ke Nyonya. Ah, maksudku Devasya."
Eka memicing, menatap Nendra tak suka. Bagaimanapun dia juga merasa telah dibohongi secara terang-terangan olehnya.
"Please," Nendra berharap Eka bisa diajak bekerja sama. Nendra yakin, Eka pasti bisa memahami posisinya.
"Jadi ada yang mau nyakitin Devasya kalau tahu Devasya itu istrinya Maxel?" Eka memekik lalu menutup rapat mulutnya dengan kedua tangan. Antara tak percaya juga karena tak terima.
Nendra mengangguk. "Nggak hanya kali ini, tapi itu sudah terjadi sejak lama."
Eka mendengarkan dengan serius.
"Bahkan, dua mantan kekasih bos Maxel meninggal, saat mereka akan merencanakan sebuah pernikahan."
"Astaga!"
"Pada awalnya, Bos Maxel merasa itu hanya kebetulan semata. Tapi, saat mantan calon istrinya yang ketiga mengalami kecelakaan serupa, Bos Maxel baru menyadari. Ada yang tidak beres dengan dirinya." Nendra menarik nafas dalam. " Syukurlah, untuk yang ketiga ini, tidak sampai meninggal. Tapi, karena ketakutan, mbak Nicky meninggalkan Bos begitu saja."
"Ya ampun, tragis sekali." Eka menunduk. "Ada ya, orang sejahat itu?" tanyanya sendu.