Rindu

2063 Kata
Di depan mata namun tak bisa menyapa, di dalam hati namun tak tersampaikan rasa. Setelah mengetahui jika Devasya mulai bekerja, Maxel semakin merasa khawatir. Apalagi yang Maxel ketahui dari cerita Nendra, jika Devasya terlibat sebuah masalah kecil di toko, walau sudah mampu dia atasi dengan baik, namun tetap saja Maxel merasa tidak tega. "Saya tidak bisa terlihat terlalu membela Nyonya, Bos. Karyawan saya nanti akan curiga." Nendra menjelaskan posisinya. "Apalagi, baik Nyonya maupun Eka, mereka adalah teman sekaligus tetangga saya di perumahan," lanjut Nendra lagi. "Nggak masalah, aku yakin dia perempuan yang kuat.” Setelah mendengar laporan dari Nendra tentang misi membeli jualan online milik Devasya telah berhasil, juga tentang keadaan Devasya saat di toko, Maxel akhirnya bisa sedikit merasa lega. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, tapi Maxel masih setia di ruangannya. Sudah sejak lama Maxel meniadakan lembur selain peak season bagi karyawan-karyawan kantornya, tapi saat ini malah dia sendiri yang mengurung diri di dalamnya. Rasanya enggan untuk pulang, ada sang mama di rumah. Maxel bukan tak mau menemani mamanya, hanya saja mama selalu merengek untuk menemaninya menemui Devasya. "Kenapa aku pengecut sekali?" gumamnya sendirian. Maxel membuka laci meja kerjanya, mengambil kotak sepatu bayi yang dikirim Devasya tempo hari. "Papa harap, sebelum kalian lahir, masalah papa sudah selesai. Papa mohon kalian bersabar," ucapnya pada lembaran foto USG yang berwarna hitam putih itu pilu. Kalau ditanya bagaimana perasaan Maxel, tentu saja dia juga bingung. Masalahnya, Maxel sama sekali tidak bisa menebak, orang seperti apa yang dia hadapi. Masalah bisnis? Sepertinya, bukan. Selama ini Maxel bersyukur bisnisnya berjalan dengan sangat baik. Jika menurut Nendra ini adalah masalah hati, lantas siapa? Maxel mengambil ponselnya, mencari sebuah nama pada kontak. "Hallo, malam, Ma. Mama apa kabar?" tanyanya ramah pada seseorang. "Hallo, Sayang. Tumbenan kamu telepon, Mama. Kabar mama baik, kamu gimana?" jawab riang dari seberang, adalah Mita, ibunda dari Kalina–mantan calon istrinya yang sudah berpulang, lima tahun lalu. "Maxel juga baik, Ma. Maaf, Maxel sibuk sekali." "Kalau ke Bandung, main-main, ya. Bawa istrimu," pintanya tulus. Ya, meskipun sebuah hubungan terputus, bukan berarti akan hilang, tapi tumbuh hubungan baru. Seperti, hubungan ibu dan anak misalnya. Mita sangat menyayangi Maxel, bahkan sama sekali tak menyalahkan Maxel atas meninggalnya Kalina saat itu. "Iya, Ma. Kapan-kapan, ya. Mama jaga kesehatan, jangan begadang untuk merajut terus." Begitupun Maxel, selalu dan selalu menyayangi wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu kedua itu dengan tulus. Mita hanya sebatang kara, setelah suaminya meninggal, disusul Kalina putri semata wayangnya pun harus pergi. "Iya, Sayang. Kamu juga sehat-sehat, ya. Jangan kerja terus, makan harus teratur." Sambungan terputus setelah keduanya saling mengucap salam. Dada Maxel sesak, kemudian matanya memejam sesaat, mengingat bagaimana bahagianya dia dulu bersama Kalina. Flashback on "Kak, janji, ya… tahun depan kita menikah," rengek Kalina saat Maxel menemuinya di Bandung kala itu. Maxel mengangguk, lalu di genggamnya tangan Kalina. "Iya, Sayang. Makanya cepat selesaikan skripsinya, aku juga nggak mau menunggu lebih lama lagi." Benar saja, jika bukan karena keinginan Mita yang meminta Kalina menikah jika sudah menyelesaikan pendidikan sarjananya, mungkin tahun lalu mereka sudah bersama. Kalina, gadis manis yang pertama kali Maxel temui di kampus saat akan legalisir ijazah itu adalah adik kelasnya. Terpaut usia tiga tahun, membuat mereka terlihat cocok dan serasi. Maxel yang kocak juga Kalina yang selalu ceria, keduanya bagai kunci dan gembok yang saling melengkapi. Mereka hampir tidak pernah bertengkar, Maxel selalu mengalah, begitupun Kalina, dia selalu mengerti. Bisa dibilang, Kalina yang menemani Maxel merintis karir. Bahkan saat itu Syntia cukup dekat dengan Kalina, mengingat Maxel sering membawa Kalina ke kantornya saat liburan kampus tiba. Juga, kedua orang tua Maxel yang saat itu, papa Maxel masih hidup, sangat menyayangi Kalina dan mendukung hubungan mereka. "Maxel! Kalina kecelakaan." Kabar itu Maxel terima tepat seminggu sebelum Kalina melaksanakan wisuda kelulusannya, yang mana seminggu setelahnya, acara lamaran akan dilangsungkan. Tak memikirkan apa pun, Maxel beserta kedua orang tuanya segera berangkat ke Bandung, dan langsung menuju rumah sakit dimana Kalina dirawat. "Maafkan, Mama, Maxel. Kalina telah …." Maxel melemas, lututnya serasa tak bertulang. Mita bercerita, jika hari ini Kalina pergi ke kampus untuk mengambil hasil hardcover skripsinya. Ya, Kalina berencana mengirim hasil skripsinya itu pada Maxel. "Ini." Mita menyerahkan skripsi itu pada Maxel. Tangannya gemetar, pun sama dengan Maxel. Dipeluknya tumpukan kertas ber-cover biru itu erat. "Kamu yang memintaku berjanji, kamu sendiri yang mengingkarinya!" teriak Maxel. Mengabaikan jika sekarang dia sedang berada di rumah sakit. "Kamu jahat, Kalina. Jahat! Aku gimana sekarang?" teriaknya lagi. "Gimana?" bisiknya setelah itu. "Gimana?" ulang Maxel lagi yang kini terdengar begitu menyayat. Dini, Broto dan Mita tak bisa menyembunyikan kesedihan, tidak pula meminta Maxel untuk tenang. Mereka bertiga lah yang paling tahu, bagaimana perasaan Maxel saat ini. Maxel membuka lembaran demi lembaran kertas putih itu, matanya terpaku pada sebuah kalimat. 'Buat calon imamku, terima kasih untuk segalanya, terima kasih sudah menjadi yang terakhir bagiku, karya ini kupersembahkan untuk mimpi kita.' Maxel mendekapnya erat. "Mimpi? Ya, kamu benar, Kalina. Semua ini hanya mimpi." Setelahnya, Maxel tidak sadarkan diri. Flashback Off Maxel memegangi d**a, jantungnya berdetak keras, tak karuan, nafasnya tersengal, seolah ada yang menghalangi udara memasuki paru-parunya. "Kalina … " panggilnya lirih, penuh rasa sakit juga rindu. "Akankah dengan Devasya juga menjadi sebuah mimpi?" gumamnya lagi. Maxel beranjak menuju kamar mandi, mencuci wajah mungkin bisa membuatnya lebih baik. "Aku harus pulang," gumamnya lagi. *** Devasya bersenandung riang, hatinya berbunga-bunga bukan karena riba atau jatuh cinta. Tapi, karena dia akhirnya bisa merasakan mendapatkan hasil dari usahanya sendiri. Ya, walau tak banyak, karena dia hanya seorang reseller, tapi Devasya sangat bersyukur. Rasa syukur itu seolah membangkitkan semangat dan melupakan sejenak luka hatinya. Terlepas dari hal yang sebenarnya, jika semua yang didapatkan Devasya tak lepas dari bantuan Maxel yang tentu saja Devasya tidak tahu. "Bumil happy banget abis dapet rezeki nomplok," teriak Eka dari teras rumahnya. Devasya sedang menyiram bunga saat Eka menggodanya, mereka sering sekali mengobrol dengan penghalang tembok sebatas leher yang memisahkan rumah keduanya itu. "Aku bersyukur, Mbak. Punya pegangan dikit-dikit. Makasih, ya." Eka pun bersyukur, bisa membantu Devasya walau tak secara langsung. Bahkan Eka tak mengambil untung sedikit pun, semua keuntungan bersih dari penjualan dia berikan pada Devasya, yang tentu saja, Devasya tak tahu akan hal itu. "Sama-sama, moga laris manis, ya." Devasya mengelus perutnya, tiba-tiba dia menginginkan sesuatu. "Mbak, mau aku ajakin makan nasi goreng di pinggir jalan masuk perumahan nggak?" tanya Devasya riang. Eka tersenyum. "Aku di traktir nih ceritanya?" "Iya, Mbak. Aku nggak pernah traktir, Mbak Eka. Malahan Mbak Eka yang traktir aku terus." "Ya, ampun. Nggak apa-apa kali, Sya. Lagian aku traktir si kembar, kok." Eka mendekat ke arah tembok. "Eh, kapan jadwal kamu kontrol ke dokter?" tanya Eka serius. Devasya mengingat-ngingat. " Mungkin, dua minggu lagi, Mbak. Tapi, aku nunggu abis gajian aja kali, ya." "Aku ikut, ya. Ntar abis gitu kita jalan ke Mall. Gimana?" Devasya mengangguk setuju. Percakapan mereka harus terputus karena hari sudah semakin sore. Baik Eka maupun Devasya perlu untuk membersihkan diri. Mereka janjian lagi untuk keluar membeli nasi goreng sekitar pukul tujuh malam nanti. *** Maxel melajukan mobilnya pelan, rasanya dia ingin melihat Devasya saat ini, dia memutuskan untuk melewati rumah kontrakan Devasya, setidaknya itu bisa mengurangi sedikit rasa rindunya. Syukur-syukur jika Devasya ada di depan rumah. Tapi belum sampai masuk ke area perumahan, Maxel menangkap sosok Devasya. Dia sedang duduk di salah satu kursi yang tersedia di sebuah warung tenda pinggir jalan. Devasya terlihat sedang tertawa riang bersama seorang perempuan. Maxel menebak, perempuan itu pasti Eka, tetangga yang dimaksud oleh Nendra. Syukurlah kalau dia baik-baik saja. "Aku sangat … sangat ... sangat … merindukanmu," gumamnya sambil meremas kemudi mobilnya. Maxel terus menatap Devasya. Jika saja dia tak sedang dalam masalah, Maxel pasti sudah berlari ke arahnya. "Aku harus menahan diri." Maxel memejam sesaat, lalu kembali melihat ke arah Devasya. Ponselnya berdering, telepon dari Nendra. "Bos, apa benar itu Anda?" tanya Nendra ragu. Maxel mencari-cari, dan tepat di seberang jalan. Maxel melihat Nendra. "Iya, aku tidak sengaja. Ah, lebih tepatnya aku ingin lewat, tapi malah melihatnya disana, lalu aku berhenti." "Baik, Bos. Saya juga sedang mengikuti mereka. Tadi saya beralasan akan pergi ke apotik." "Ndra …" panggilan Maxel terjeda. "Iya, Bos." Nendra menunggu. "Makasih banyak." Maxel tidak tahu harus berterima kasih seperti apa, selain memberi banyak bonus juga menunjang Nendra dengan semua fasilitas yang memadai. Dedikasi juga kesetiaan Nendra tentu tidak bisa dihargai oleh apa pun. Nendra tahu, bosnya ini sedang berada di persimpangan, Nendra sebenarnya hampir menemukan siapa yang selama ini curang pada Maxel. Tapi, sebelum semuanya jelas. Nendra masih menyimpannya untuk dirinya sendiri. Selain karena Maxel adalah seorang pimpinan yang baik dan bijak, sebenarnya Maxel adalah sosok teman yang baik dan perhatian. Juga pada Nendra, Maxel tak sungkan bahkan tak malu makan semeja dan bahkan di warung kaki lima bersamanya. "Sama-sama, Bos." "Ndra, aku sudah lama memintamu tidak memanggilku, bos … bos …" Kemarin si Nyonya, sekarang si Bos, batin Nendra. "Saya nggak bisa, Bos. Udah biasa," jawabnya sambil terkekeh. "Bos, saya pergi dulu, sepertinya mereka sudah selesai." Nendra pamit dan memutus sambungan telepon, lalu bergegas menuju Eka dan Devasya yang mulai berjalan pelan untuk pulang. Maxel merasa damai, walau tak sepenuhnya tenang. Setidaknya, dia merasa lega, istrinya bersama dengan orang-orang baik. *** Sepagi ini Sandy sudah bangun dan mulai bersiap. Tak seperti biasanya, kali ini dia terlihat lebih bersemangat. Sandy yang hanya tinggal bersama ayahnya saja itu, kini sudah rapi dengan kemeja warna navy dan celana bahan warna hitam, dia sudah duduk manis menunggu sarapan di meja makan. "Kamu mau ke kantor?" tanya Yudi–ayah Sandy dari arah tangga. Sandy menoleh sekilas lalu menggeleng. "Aku ke kantor nanti siang." Bik Muna, asisten rumah tangga mereka, mulai menyajikan sarapan sederhana yang merupakan favorit dari keduanya. Nasi goreng jawa dengan telur mata sapi. Ketimbang roti-rotian, baik Sandy maupun Yudi lebih senang sarapan dengan nasi. "Tumbenan pagi udah rapi? Ada meeting?" tanya Yudi curiga. Tidak seperti biasanya, Sandy mau menerima klien sepagi ini. Lagi, Sandy menggeleng. "Aku cuma mau ketemu seseorang." Mendengar itu, Yudi mulai sedikit mengerti. "Bawa dia jika kamu serius, ayah juga ingin mengenalnya." Uhuk! Sandy tersedak makanannya, buru-buru dia menenggak habis air di dalam gelas yang memang sudah tersedia dari tadi. "Ayah! Jangan ngawur!" pekik Sandy sambil terus menepuk-nepuk dadanya. "Kenapa? Ada yang salah?" Salah, Ayah! Karena dia sudah memiliki suami, bahkan sedang hamil, batin Sandy. Tunggu! Apa itu artinya, Sandy memiliki rasa pada Devasya? Tidak! Sandy menentang perasaannya sendiri. "Aku selesai, aku pamit, Ayah." Sandy berlalu tanpa mencium punggung tangan ayahnya karena kelewat salah tingkah. Sejatinya, Sandy adalah seorang anak yang manis juga penyayang. Bahkan rasa sayangnya pada keluarga melebihi apa pun. Apa yang membuat Sandy bersiap sepagi ini? Tentu saja sebuah pesan dari seorang Devasya jawabannya. Pesan yang mengatakan bahwa dia akan mengantar baju Sandy yang sudah selesai dicucinya. Sandy meminta Devasya bertemu di tempat yang tak jauh dari toko kue Nendra. Devasya memilih waktu pagi hari sebelum toko itu buka, dan juga karena Devasya pikir baju itu sangat penting bagi Sandy, mengingat cara Sandy menagihnya kemarin. "Ini baju Anda, Pak." Devasya menyerahkan sebuah kantong kertas ukuran sedang pada Sandy. Sandy menerima itu dengan wajah datar, jangan tanya hatinya, sudah pasti bersorak gembira. Sudah lama hati Sandy kosong, bahkan mungkin berdebu dan penuh sarang laba-laba. Tapi, kenapa sekalinya terisi itu harus oleh Devasya? Entahlah. "Kenapa lama sekali?" kata Sandy dingin. Devasya hampir saja mengumpat, tapi dia tahan. "Maaf, Pak. Saya tidak punya mesin cuci, jadi saya mengeringkan baju Anda dengan bantuan sinar matahari, dan itu butuh waktu seharian, lalu malamnya saya setrika untuk kemudian pagi harinya saya lipat dan saya antarkan kepada, Bapak," jelas Devasya panjang lebar menahan geram. Sebenarnya Sandy hampir saja terbahak, kalau tidak mengingat tingginya harga diri yang selama ini dipertahankan di hadapan Devasya. "Baiklah, siapa namamu." Basa-basi sekali Sandy ini, jelas-jelas dia sudah tahu nama Devasya bahkan biodata lengkapnya sekali pun. Devasya tersenyum lebar. "Saya Devasya, Pak Sandy." "Sandy, hanya Sandy saja." Sandy mengulurkan tangannya. Ragu, Devasya akhirnya menjabat tangan Sandy dan buru-buru melepasnya. "Kue-kue di tokomu enak," puji Sandy. Tak lama setelah itu dia pamit, bukan karena tak mau berlama-lama bersama Devasya. Dia hanya takut, jika pertahanan hatinya akan jebol. Di dalam mobil, Sandy menatap kantong kertas pemberian dari Devasya tadi yang dia letakkan di kursi penumpang di sebelah kirinya. Bisa saja Sandy membuang baju itu tanpa meminta Devasya mencucinya. Tapi, itu tidak akan seru. "Bagaimana bisa wanita hamil sepertimu begitu menarik di mataku? Apa karena kau adalah milik Maxel dan aku hanya terobsesi?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN