Cinta dan Benci

1879 Kata
Aku suka caramu mencintaiku, dengan tindakan sederhana yang bahkan otakku pun belum pernah memikirkannya. Aku suka caramu membenciku, karena dengan itu membuatku cukup sadar, jika aku lebih buruk bila tanpamu. Pagi ini, seperti biasa, Devasya sedang asyik mempersiapkan sarapan untuk dirinya sendiri. Sepotong roti tawar yang dioles dengan selai stroberi tersaji rapi di sebuah piring bulat berwarna putih. Ditambah satu gelas s**u hamil dingin rasa mangga favoritnya. Baru saja dia akan duduk untuk memulai aktivitas makannya saat Eka berteriak meminta izin untuk masuk. “Sarapan, Mbak?” Devasya mengangkat gelas susunya, lalu meneguknya tanpa menunggu jawaban Eka. Eka menggeleng. “Aku mana bisa minum s**u pagi-pagi, bisa diare ntar.” Mendengar itu, Devasya tergelak. “Eh, beneran. Aku dulu juga gitu, nggak tahu kenapa sejak hamil aku malah doyan banget sama s**u, dan syukurlah, nggak ada keluhan sama sekali," sahut Devasya panjang lebar. Mereka terkekeh, sedetik kemudian Eka mengingat sesuatu. “Eh, Apa udah selesai baju yang kamu cuci kemarin?” Devasya menggeleng. "Belum kering, Mbak.” “Ya, udah. Kalau udah kering biar aku yang hubungi dia dan balikin baju itu.” Eka nampak bersemangat. Devasya mengangkat alisnya. "Mbak, yakin?” “Kenapa emangnya?” Eka mengernyit, lalu ikut mengoles sepotong roti dengan selai cokelat kacang yang memang selalu tersedia di meja makan Devasya. Devasya meneguk susunya sampai tandas, mengelap bibirnya dengan tissue, lantas berkata, "Ntar, Mbak malah marah-marah gimana?” lanjutnya polos dengan mulut yang kini siap untuk menggigit roti. Eka terbahak. “Kamu tahu aja apa yang ada di pikiranku.” Kemudian Eka mulai memakan rotinya. Devasya menghentikan kunyahannya. “Mbak, mending jangan, deh," rengek Devasya. Dia hanya tidak ingin Nendra akan mendapat masalah jika Eka berbuat nekat. Lagi-lagi Eka terbahak. “Nggak-nggak, Sya. Aku cuma mau tahu orangnya aja, kata anak-anak lain, dia ganteng. Emang beneran?” Kini alis Eka terlihat naik turun. Mata Devasya membola. “Wah! Jadi itu alasannya,” Devasya tertawa keras sampai hampir saja tersedak. Gegas Eka menepuk-nepuk ringan punggung Devasya, menyodorkan air putih untuk Devasya minum. "Kamu, nih. Sampe segitunya percaya. Nggak lah, Sya. Gila aja! Aku cuma pengen tahu, kayak apa tampang tukang tindas itu.” Devasya tersenyum jahil. “Tapi … emang dia beneran ganteng, sih," godanya lalu beranjak menuju wastafel untuk cuci tangan. “Dasar bumil genit!” Selesai sarapan mereka bergegas berangkat ke toko kue Nendra, taksi online yang mereka tunggu sudah datang. *** Setelah sepagian tadi Eka dan Devasya berdebat tentang bagaimana tampang Sandy, siangnya mereka benar-benar dibuat terkejut dengan kehadirannya lagi. Ya, lagi … Sandy datang ke toko saat hampir jam makan siang. Bahkan Sandy sendiri tidak sepenuhnya paham, kenapa dia kembali ke toko ini lagi. Jadi, dia putuskan untuk melihat-lihat banyak macam kue yang terpajang di etalase kaca. Tubuhnya sedikit menunduk untuk membaca satu per satu keterangan pada setiap jenis kuenya. Melihat Sandy datang, Devasya yang sedang berada di luar toko segera masuk lalu mendekat. “Maaf, Pak. Bajunya belum selesai saya cuci," kata Devasya to the point, dia berdiri di samping kanan Sandy. Sandy berdehem, badannya tetap menunduk tanpa mengalihkan pandangan pada kue-kue di hadapannya. “Siapa bilang aku mau ambil baju?" katanya datar, kemudian Sandy menegakkan tubuhnya, memasukkan kedua tangannya ke saku celana, sambil menatap intens tepat ke mata Devasya. Tentu saja setelah mendapatkan tatapan seperti itu, Devasya jadi salah tingkah. "Oh … la-lalu?" tanyanya terbata. Sandy kembali melayangkan pandangan pada kue-kue tadi. "Ya tentu aja, aku mau beli kue. Ngapain lagi? Memangnya aku kesini buat ketemu sama kamu? Jangan terlalu percaya diri," tuduh Sandy secara berlebihan. Devasya terkejut. "Percaya diri? Siapa? Saya?" Devasya menunjuk dirinya sendiri. Sandy mengedikkan bahu. "Lalu, siapa lagi?" Devasya menarik nafas dalam. Sabar … sabar, sabar Devasya … gerutunya dalam hati. Devasya lantas tersenyum lebar, tentu saja senyum itu dia paksakan. "Ah, baiklah, Pak. Apa yang bisa saya bantu kali ini?" Sandy tampak berpikir. "Berikan aku kue yang paling enak di sini, masing-masing sepuluh buah." Devasya mengangguk. "Baik, Pak. Silakan duduk dulu selagi saya menyiapkannya." Devasya segera meminta Uni menyiapkan kue yang dimaksud Sandy tadi, selagi menunggu Uni selesai, Devasya mulai membuat nota pembayaran. Perlahan, Eka mendekat. “Jadi dia?” bisik Eka dengan dagu dan mata tertuju pada Sandy. Devasya mengikuti arah mata Eka, detik kemudian dia mengangguk. "Beneran ganteng, ya. Tapi, sayang … galak," cibir Eka yang diikuti dengan gelak tawa mereka yang tertahan. "Hush! Udah, Mbak. Ntar dia kedengeran." Eka langsung menutup mulutnya lalu kembali ke ruangannya. Kue yang disiapkan Uni dan nota pembayaran sudah siap, Devasya hendak menuju Sandy saat Nendra memanggilnya. “Jadi dia?” tanya Nendra, tatapan dan gerak-geriknya saat bertanya mirip dengan Eka tadi. "Iya, Mas. Tapi, kali ini dia nggak aneh-aneh, kok. Malah beli banyak kue." Devasya mengangkat kantong plastik yang lumayan besar itu. Nendra mengambil alih kantong plastiknya, lalu mengambil notanya. "Biar aku aja yang kasihkan, sekalian minta maaf. Oiya, Uni, tolong bungkusin kue itu, lima buah, ya.” Uni mengangguk patuh. Dari kejauhan, Devasya bisa melihat wajah Sandy makin tak ramah saat Nendra mendatanginya, mereka bercakap-cakap sebentar sambil menunggu Sandy menyelesaikan pembayaran. Saat Devasya sedang sibuk menuliskan sesuatu pada catatannya, terdengar suara teriakan Sandy, “Kamu! Saya tunggu baju saya." Devasya melongo. “Ba-baik, Pak.” Nendra mendekat, “Sabar ya, Sya, orang ganteng macam dia mah biasa begitu, tapi banyak juga sih yang enggak.” Devasya tertawa, kemudian membatin saat melihat kepergian Sandy. Tuh orang beneran terlahir tanpa senyuman kali, ya? Setelah itu, Devasya menggeleng-geleng ringan sambil tersenyum sendiri, dia tidak akan ambil hati atas tindakan Sandy barusan. Ah, masalah seperti ini tidak ada apa-apanya dibanding masalahku yang lain, aku udah kebal. Devasya menguatkan diri. *** Di kantornya, Sandy terus saja menatap banyaknya bungkusan yang dia bawa dari toko kue tadi, bukan karena berapa banyak uang yang sudah dia keluarkan untuk kue-kue ini, tapi lebih ke mengapa dia bisa melakukan hal konyol seperti itu hanya karena ingin melihat seorang Devasya. "Kenapa tadi malah cowok itu yang datang, bukan wanita itu!" gumamnya kesal. Iseng, Sandy mengambil salah satu kue dari dalam kotak di dalam kantong. Lalu, mulai memakannya. Enak, gumamnya sambil terus mengunyah. Ah, aku akan menggoda Maxel dengan ini. Pikiran jahilnya tiba-tiba muncul. Sandy menyalakan ponselnya, mengambil gambar kue itu tapi dengan background tembok yang polos agar tidak menampilkan secara detail ruangan kerjanya. Lalu dia kirimkan itu ke orang kepercayaannya. [Cetak ini dan kirimkan pada Maxel, tuliskan di belakangnya, 'Kue ini sangat enak'.] send. Setelah itu Sandy menghubungi Intan–sekretarisnya, memberinya perintah untuk memberikan kue-kue itu kepada karyawan-karyawannya. *** Maxel yang cukup sibuk hari ini tidak begitu memperhatikan ponselnya. Ponsel itu berdering beberapa kali. Sampai pada pintu ruangannya yang terbuka baru sanggup membuyarkan konsentrasinya. Angel masuk bersama dengan seorang lagi. “Maaf, Pak. Bu Sintya memaksa masuk, tadi sudah saya katakan kalau, Bapak sibuk.” “Maxel!” pekik seseorang bernama Sintya itu. “Kamu boleh keluar,” perintah Maxel pada Angel. Angel mengangguk lalu berlalu, tak lupa dia menutup pintu ruangan Maxel. “Jadi apa bener berita tentang kamu udah nikah itu, Xel?” tanya Sintya tanpa basa-basi. Sintya duduk di sofa tamu tanpa di persilahkan oleh Maxel. Sedang Maxel sendiri masih sibuk dengan berkas-berkasnya. “Menikah?” tanya ulang Maxel, tanpa melihat ke arah Sintya. Maxel tetap bersikap santai, meyakinkan diri jika Sintya datang tiba-tiba pasti hanya untuk bertanya tentang hal itu. “Gosip itu udah sampe ke telingaku, padahal aku jauh di sana.” Maxel mengangkat bahu, “Itu sudah pasti hanya gosip.” Mata Sintya berkilat bahagia. “Benarkah? Aku sudah menduganya, itu pasti hanya gosip murahan.” “Tapi, jika memang aku sudah menikah, lalu apa urusanmu?” sindir Maxel yang seketika memupus senyum Sintya. “Jangan pura-pura tidak tahu, Maxel,” rengek Sintya. “Aku memang tidak tahu dan tidak mau tahu,” sanggah Maxel. “Baiklah, aku paham. Aku tetap akan menunggumu,” balas Sintya dengan senyum yang dipaksakan. Sintya Edelia, wanita muda dengan karir gemilang yang sebenarnya sudah sejak lama menginginkan Maxel untuk menjadi pasangan hidupnya. Saat ini Sintya tinggal dan menetap di Singapore. Penolakan demi penolakan terus Maxel lakukan. Sintya bukan tipe wanita yang disukai Maxel. Sintya memiliki kehidupan yang bebas, dia sering keluar masuk klub tiap malam. Akan tetapi, Maxel pun tidak bisa benar-benar mengabaikannya. dia memiliki pengaruh yang cukup besar di perusahaannya. Ya, saat itu Maxel tidak tahu jika bantuan-bantuan yang diberikan Sintya ternyata memiliki maksud lain. Selama Maxel belum bisa berdiri sendiri, maka Maxel belum bisa melepaskan peran Sintya. Tentu Maxel harus bersabar, maka dari itu selama ini Maxel terus bekerja keras agar bisa segera mengembalikan modal milik Sintya. Sekali lagi Maxel tidak bisa egois, mengingat kembali banyak karyawan menggantungkan hidup di perusahaannya. “Temani aku makan siang,” pinta Sintya, dia mendekat ke arah meja kerja Maxel. “Kamu bisa lihat, aku sibuk,” tolak Maxel yang kini fokus dengan laptopnya. Sintya menggoyang lengan Maxel manja. “Ayolah, kamu bisa sakit kalau sering melewatkan makan siangmu. Please ... aku udah jauh-jauh datang, lho.” Tidak ada jalan keluar, jika tidak dituruti maka sudah bisa dipastikan Sintya tidak akan pergi, dan akan terus mengganggunya. “Baiklah, tapi aku nggak bisa lama.” Sintya bertepuk tangan riang. “Aku janji.” *** Devasya terkejut saat melihat pesan masuk di ponselnya. Seketika dia bergegas menemui Eka. “Mbak. ini beneran?” tanya Devasya yang membuat kening Eka berkerut. “Apa?” Kemudian Devasya menunjukkan ponselnya pada Eka. “Astaga! Banyak sekali?” pekik Eka girang. “Ini bukan hoax, kan?” Devasya masih tidak percaya. Dia baru saja mendapat kejutan, yaitu ada orang yang memesan setelan baju tidur tye dye yang kemarin dia promosikan. Sebuah pesanan sebanyak sepuluh lusin. “Hmm, minta dia untuk transfer diawal,” saran Eka. Jaga-jaga jika ini adalah penipuan. Mengingat Devasya yang baru saja memulai jualan online. “Emang stoknya ada, Mbak?” “Tentu ada dong, biar aku tanyakan konveksi. Kamu konfirmasi ke pembelinya buat ngasih DP, ya,” pinta Eka lagi. Devasya segera mengetikkan pesan balasan. Tak menunggu waktu lama, si pembeli membalas dan meminta nomor rekening milik Devasya. Beberapa saat kemudian, sebuah email masuk ke ponsel Devasya, berisi informasi jika ada sejumlah dana yang masuk ke akun banknya. Si pembeli yang mengaku bernama Bella itu pun mengirim bukti transfer. Devasya berteriak, dan itu mengejutkan Eka yang sedang menelepon seseorang. Untung saja toko sudah mau tutup, tapi tetap saja teriakannya membuat sebagian karyawan terkejut. “Kenapa, Mbak? Apa perutnya sakit?” tanya Uni dan lainnya. Devasya tersenyum kaku sambil menggeleng. “Enggak, aku nggak apa-apa, kok. Maaf, ya. Makasih perhatiannya.” Eka mendekat setelah selesai menelepon. “Ada apa sih, Sya?” “Ini, dia udah transfer, Mbak. Full payment.” Mata Eka berbinar “Beneran? Udah cek rekening kamu?” Devasya mengangguk dengan semangat. “Udah, Mbak. Nih!” Devasya memperlihatkan layar ponselnya yang tertera mutasi sejumlah uang masuk. Eka bertepuk tangan. “Keren, Sya. aku aja belum pernah jual segitu banyak, nggak salah kamu aku rekrut jadi reseller,” puji Eka bangga. Devasya memeluk ponselnya. “Aku bersyukur banget, Mbak,” katanya penuh haru. Di balik ruangannya, Nendra tersenyum puas. Dia pun segera mengetikkan sebuah pesan. “Misi selesai, Bos.” Nendra meminta bantuan melalui rekening online milik adiknya yang sedang kuliah di luar kota, pun dengan alamat pengirimannya. Tentu saja itu bertujuan agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN