Oh, Sandy

1460 Kata
Aku memang bukan orang yang sempurna, cara mencintaiku pun tak istimewa. Tapi, aku pastikan kamu satu-satunya. Devasya sangat menanti hari ini, hari dimana dia bekerja untuk pertama kalinya di toko kue milik Nendra. Setelah memakai pakaian terbaiknya yang tetap saja tidak jauh dari dress khas wanita hamil, Devasya membuat sarapan untuk dirinya sendiri. Semangkuk oatmeal dicampur dengan berbagai macam buah segar seperti pisang, stroberi, mangga, buah naga dan anggur. Devasya sangat menyukai sarapan yang fresh seperti ini. Tepat setelah Devasya mengeringkan tangan setelah mencucinya, pintu rumahnya diketuk. "Sebentar," sahutnya dengan sedikit berteriak. Ternyata Eka yang juga sudah berpakaian rapi, senyumnya mengembang saat tatapan mereka bertemu. "Lho, Mbak? Tumbenan udah rapi." Devasya memindai penampilan Eka yang berbeda dari biasanya. Eka berdehem. "Aku juga akan bekerja di sana." Devasya mengernyit. "Di sana?" tanyanya dengan ekspresi bingung. "Iya, di toko kuenya si Nendra," jawab Eka bersemangat. Devasya tak bisa menyembunyikan bahagianya. "Ooiya? Wah beneran? Asik …" Kalau tidak ingat dia sedang hamil, mungkin Devasya akan melompat kegirangan. "Iya, aku kerja di bagian pembukuan," jelas Eka lagi. "Swear, aku seneng banget bisa barengan sama, Mbak Eka." Eka mengelus perut Devasya. "Mulai hari ini, kita akan berangkat dan pulang kerja bareng," kata Eka santai. "Hmm…." Devasya mengetuk-ngetuk pipinya sendiri, seolah sedang memikirkan sesuatu. Sekarang, ganti Eka yang mengernyit. "Kenapa?" "Entahlah, aku merasa ada yang aneh, Mbak." "Aneh?" "Iya, aku merasa, Mas Nendra terlalu baik. Aku jadi curiga …" ucap Devasya ragu. Raut wajah Eka berubah serius. "Curiga apa?" Devasya memicing. "Jangan-jangan, dia … itu … suka sama Mbak Eka." Doeng! Spontan Eka terbahak, "Pede banget kamu, Dek. Nendra itu orangnya emang baik. Jan mikir aneh-aneh, deh." Eka masih tak bisa menahan tawanya. "Ya, kali aja, Mbak." Devasya mencebik. "Enggak, Dek. Jadi … pas sore kemarin aku ngobrol, dia pas nerima telepon. Katanya staf keuangannya tiba-tiba resign karena orang tuanya sakit di kampung. Terus aku iseng nawarin diri. Eh, dia langsung iyain." "Tuh kan, kayaknya Mas Nendra emang suka sama, Mbak Eka," goda Devasya yang sukses membuat Eka sedikit merona. "Jangan ngawur. Mending sekarang kita berangkat nanti telat," sanggahnya lalu berbalik memunggungi Devasya, tentu saja untuk menyembunyikan pipinya yang mulai terasa panas. "Oke, aku ambil tas dulu, Mbak." Devasya segera masuk dan mengambil cardigan juga sling bag-nya. Tak lupa, Devasya memakai sepatu flat shoes hitam kesayangannya. Flat shoes yang dulu dibelikan Maxel. Mereka berdua berangkat ke toko dengan taksi online, jangan lupakan Devasya yang hamil, keadaannya tidak memungkinkan untuknya naik ojek motor dengan perut yang sudah cukup besar. Lagi juga, jarak rumah dan toko kue milik Nendra tidak jauh, dan naik taksi online jauh lebih efektif ketimbang naik kendaraan umum lain seperti bus yang masih harus berjalan kaki menuju halte. "Mbak, apa nggak boros naik taksi?" Bisik Devasya pada Eka yang fokus dengan ponselnya. Eka hanya tersenyum dan melirik sekilas pada Devasya "Tenang, ini pake kupon promo, hanya setengah harga." Eka menunjukkan layar ponselnya pada Devasya. "Dari rumah ke sini cuma bayar 15 ribu, berdua lho kita. Eh, berempat. Hemat kan?" Devasya mengangguk setuju, cukup hemat memang. "Tapi … kalau kuponnya habis gimana?" tanyanya polos. Eka terkekeh pelan. "Udah … jangan dipikirin yang belum terjadi. Syukuri dan nikmati saja apa yang sekarang kita jalani. Okay?" Devasya bertepuk tangan. "Super Eka Teguh emang luar biasa," puji Devasya yang disambut tawa oleh Eka, jangan lupakan lirikan sopir yang merasa mereka berdua sangat berisik. Mbak Eka ada benarnya. Makasih, Tuhan. Sudah kau pertemukan aku dengan orang-orang yang baik, batin Devasya penuh dengan rasa syukur. Tapi yang sebenarnya terjadi adalah Nendra dengan sengaja membuat Eka dan Devasya bekerja bersama. Demi apa? Tentu demi keamanan juga keselamatan Devasya. "Mereka sudah berangkat, Bos." Nendra tak lupa melaporkan apa pun pada Maxel. *** Entah bagaimana ceritanya, sejak melihat foto Devasya, Sandy menjadi tertarik untuk bertemu langsung dengannya. Melalui orang suruhannya, Sandy mendapat info jika Devasya hari ini mulai bekerja di sebuah toko kue kecil di tengah kota. Di sini lah Sandy sekarang, di dalam mobilnya, menatap lurus pada toko kue yang didominasi dengan jendela kaca berbingkai kayu yang minimalis namun masih kental dengan sentuhan etnik vintage. Matanya mengamati gerak-gerik wanita hamil yang tampak ceria melayani pelanggan yang datang. Dengan dress putih berbordir bunga-bunga di bagian bawahnya, ditambah kardigan oversize warna lilac. Entah kenapa Sandy menyukai penampilan sederhana itu. "Dia memang menarik, sayangnya Maxel menemukannya terlebih dulu," gumam Sandy pada dirinya sendiri. Menemukan? Memangnya dia barang? Sebenarnya, Sandy ragu untuk masuk atau tidak, tapi rasa penasaran mengalahkan keraguannya. Seperti ada yang menariknya untuk mendekat. Sandy melangkah perlahan, matanya fokus hanya pada satu objek, yaitu Devasya. Tanpa sadar, seseorang menabraknya, menumpahkan minuman di kemeja biru muda yang dia kenakan. Rasanya Sandy ingin mengumpat kesal, tapi urung saat Devasya mulai mendekatinya. "Maaf, Pak. Maafkan karyawan kami. Saya akan bantu membersihkan," ucap Devasya panik. "Anda bisa menunggu di kursi ini, silahkan." Devasya menunjuk pada kursi yang tak jauh dari tempat Sandy berdiri. "Pak, maafkan saya," kata pelayan tadi pada Sandy. Kedua tangannya menyatu di depan d**a dengan siku tertekuk. Memohon maaf. "Udah, kamu ke belakang, ya," pinta Devasya lembut pada karyawan itu. Devasya kasihan, wajahnya terlihat pucat, mungkin dia ketakutan karena dia juga baru bekerja beberapa hari yang lalu. "Silahkan duduk, Pak," pinta Devasya lagi. Tak menunggu Sandy duduk, Devasya segera berlalu mengambil sebuah box tissue, lalu kembali secepat mungkin. "Maaf, Pak. Saya akan bantu bersihkan kemeja, Anda." Devasya cekatan mengambil beberapa lembar tissue lalu mulai membersihkan bekas minuman di kemeja Sandy. Sandy hanya diam mengamati, tatapannya seolah tersihir. Sandy menahan nafasnya, wangi tubuh Devasya entah kenapa membuatnya melupakan sesuatu. Ya, dia melupakan amarahnya, melupakan tujuannya untuk menyakiti yang diklaim milik Maxel ini. Wangi yang manis, seperti wewangian citrus yang menyegarkan, Sandy mencoba menerka parfum yang dipakai Devasya. Tak ingin terus terlihat seperti orang aneh, Sandy buru-buru menepis tangan Devasya. "Sudah cukup, saya bersihkan sendiri." Kemudian tangan Sandy menuju kotak tissue itu dan mengambil beberapa lembar dengan kasar, mengulangi apa yang tadi sudah Devasya lakukan. "Sekali lagi maaf, Pak." Devasya kembali mengulang kalimat permintaan maaf itu. Sandy menghentikan gerakannya. Lalu matanya lekat menatap mata Devasya yang terlihat ketakutan. Bagaimana tidak, ini adalah hari pertama Devasya bekerja, tapi sudah terjadi kekacauan. "Baiklah, tapi aku minta ganti rugi," ucap Sandy kemudian. Tatapannya masih tak beralih dari Devasya. Devasya mengangguk. "Baik, Pak. Apa yang, Bapak inginkan? Kue atau mungkin beberapa minuman andalan kami?" Mendengar itu, rasanya Sandy ingin terbahak. Polos sekali dia, batinnya. "Cucikan bajuku!" pinta Sandy tegas dan tentu saja dengan ekspresi yang tetap datar. "Apa?" Devasya bukan tak mendengar, hanya saja dia merasa aneh. "Tapi, sa-saya…" Sandy langsung melepas kemejanya, menyisakan kaos hitam yang melekat sempurna di tubuh atletisnya. Melihat itu, mau tak mau Devasya menahan nafas, dan buru-buru mengalihkan pandangan. Nih orang nggak tahu malu banget, sih? Mau pamer badan bagus apa gimana coba? gerutu Devasya. "Kalau kamu keberatan, aku bisa memaksa pemilik toko untuk segera memecat karyawan tadi." Apa? Huft! Semena-mena sekali orang ini, Devasya terus menggerutu dalam hati. Namun, tetap saja Devasya tidak boleh terlihat kesal atau marah. "Baiklah, jika itu yang, Anda inginkan," jawabnya dengan senyum paling manis yang dia punya. Melihat itu, Sandy merasa ada yang tercekat di tenggorokannya, dan itu membuatnya terbatuk-batuk. "Ini kartu namaku, hubungi aku jika sudah selesai dicuci," katanya di sela batuknya lalu secepat kilat Sandy berlalu. Devasya mengelus dadanya. Ingat kata Pak Presiden, Sabar ... sabar … Uni–pelayan yang menumpahkan minuman tadi, mendekati Devasya. "Mbak, maafin aku. Mbak jadi kena marah," katanya dengan menahan isakan tangis. Devasya mendekat, menepuk bahu Uni. "Udah, nggak apa-apa. Orang itu nggak marah, kok. Cuma suruh nyuci bajunya aja." "Biar aku yang nyuci, Mbak," pinta Uni. "Ada apa ini?" Eka baru saja datang setelah membeli makan siang. Karyawan yang bernama Uni tadi menceritakan semuanya dengan sedikit terisak. "Ya, ampun. Kok pas nggak ada aku, sih? Coba aja pas ada aku, udah aku hajar tuh, orang. Pake nyuruh cuciin bajunya segala. Bakar aja, lah." Eka menghardik kelakuan Sandy. Devasya terkekeh. "Sabar, Mbak. Semuanya aman terkendali, kok. Untung pas toko nggak lagi rame, dan kejadiannya cepet banget." "Kata Uni, orangnya ngasih kartu nama kan? Mana, biar aku omelin. Orang nggak sengaja aja kok, sampe bilang pecat-pecat." Eka masih emosi. Bahkan dia masih menggenggam kantong plastik berisi makanan yang baru saja dia beli. Devasya balik menenangkan Eka. "Jangan, Mbak. Nanti kalau dia bikin ulasan buruk tentang toko kue ini, kasihan Mas Nendra. Lagian cuma nyuci ini, aku nggak keberatan, kok." Devasya mengusap lembut pundak Eka. "Sekarang kita makan siang, yuk. Keburu dingin ntar makanannya," ajak Devasya. Eka malah tersenyum. "Kamu emang keterlaluan, Sya." "Keterlaluan gimana, Mbak?" "Keterlaluan polosnya," jawab Eka yang malah membuat Devasya mencebik. Sementara Sandy di dalam mobil, terus saja memegangi keningnya. Gila! Kenapa bisa aku malah nyuruh dia nyuci baju. Ngasih kartu nama pula! Untung itu hanya ada nomor dan nama aja tanpa alamat. Aku kayaknya udah nggak waras.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN