Luka yang masih terasa, bisa jadi tanda hati belum ikhlas melepas rasa.
Hari ini, Devasya sudah diperbolehkan pulang, dengan banyak sekali nasihat dari dokter. Bagaimanapun Devasya sedang hamil anak kembar, baik nutrisi maupun tenaga membutuhkan ekstra perhatian.
Eka dan Nendra menjadi tetangga siaga bagi Devasya. Itu seperti peluang bagus bagi Nendra untuk bisa dekat dan terus menjaga Devasya.
Bergantian, mereka membantu Devasya dalam pekerjaan rumah juga keperluan makan Devasya selama masa pemulihan.
"Mbak, aku pengen kerja." Devasya tiba-tiba mengejutkan Eka.
"Kamu mau kerja apa, Dek? Inget kehamilanmu," sahut Eka heran. "Jualan kayak aku mau nggak?" usulnya setelah itu.
Devasya diam, seperti menimang. "Tapi … aku nggak ahli ngomong, Kak."
Eka terkekeh. "Emangnya aku nyuruh kamu pidato? Kamu cukup posting tulisan, nggak perlu ngomong. Tinggal copy paste dari aku, beres."
"Semudah itu?"
Eka mengangguk. "Nanti aku masukin ke grup reseller. Kamu ada sosial media apa?"
Devasya melihat pada ponselnya, dia hanya memiliki aplikasi untuk mengirim pesan saja. "Nggak punya," jawabnya polos.
"Mau aku buatin nggak? Buat promosi aja."
Devasya menatap Eka dengan raut ragu.
"Tenang, aku ajarin. Nggak usah pake nama asli kamu nggak apa-apa."
"Boleh deh, Mbak. Aku pengen punya penghasilan sendiri, karena biaya untuk persalinan pasti banyak. Uangku udah menipis," keluh Devasya.
"Hmm, iya juga ya. Nggak mungkin juga kamu minta sama suamimu itu."
"Hai, kalian pada ngomongin apa? Seru amat?" Nendra datang. Saat ini mereka sedang berada di teras rumah Eka.
"Ini Devasya pengen kerja katanya, dia kan hamil kembar, jalan dikit aja udah ngos-ngosan."
"Iya, Mbak. Nanti kecapean lagi gimana?" Nendra mulai khawatir, dia tidak ingin istri bosnya ini kembali sakit seperti beberapa saat lalu.
"Mas, panggil aku Devasya aja. Aku lebih muda, lho."
"Hmm… nggak enak, Mbak."
Nggak enak sama Pak bos, batin Nendra.
"Please," rengek Devasya, matanya berkedip-kedip seperti anak kecil yang meminta sesuatu, dan itu membuat Nendra jadi salah tingkah.
"Udah turutin aja itu pengennya bumil," sahut Eka sambil memukul pelan lengan Nendra.
"Ba-baiklah kalau gitu, De-Devasya."
"Nah, itu lebih enak dengernya." Devasya tersenyum riang. Karena kehadiran mereka, Devasya bisa sedikit melupakan sakitnya penolakan Maxel.
"Jadi sekarang aku adalah adik kalian," kata Devasya lagi, kini dibarengi dengan mata yang penuh binar.
"Nah, gini kan bumil jadi happy," sahut Eka sambil terkekeh.
Sikap Devasya yang kekanakan itu malah terlihat lucu dimata Eka maupun Nendra.
"Duduk, Ndra." Eka menunjuk pada sebuah kursi kosong di hadapan mereka. "Aku ambilkan minum dulu." Eka segera beranjak ke dalam rumah untuk mengambil minuman jus kemasan dari dalam kulkasnya.
Seperginya Eka ke dalam, Devasya dan Nendra sama-sama diam dan menunduk, mereka sibuk dengan ponsel masing-masing.
"Kerja di toko kue Nendra aja gimana? Ada lowongan nggak, Ndra?" saran Eka tiba-tiba yang membuat kedua manusia yang menunduk itu saling bertatapan.
"Emang boleh?" tanya Devasya pada Nendra, matanya berkilat antusias.
Nendra menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal. "Hmm … gimana, ya? Boleh-boleh aja, sih. Tapi ... aku khawatir kalau, Mbak … eh, Devasya kecapekan."
Eka mengangguk-angguk kecil. "Iya, juga, emang yang ringan nggak ada, ya?"
Yang baru saja Devasya sadari adalah, entah sejak kapan Eka dan Nendra saling memanggil dengan nama.
"Kalau hanya jaga toko aja emang kamu nggak keberatan? Kalau ikut ke bagian produksi aku beneran nggak tega."
Devasya menegakkan duduknya. "Boleh … boleh! Lagian aku bosen banget. By the way, Aku dulu pernah kerja jadi kasir, lho."
"Ooiya? Baguslah … nanti biar dibantu sama karyawanku lainnya. Tapi … gajinya nggak banyak."
Devasya menggeleng dengan penuh semangat. "Nggak masalah, yang penting ada kegiatan dan pemasukan. Makasih ya, Mas."
Teman rasa saudara, ya … itulah yang Devasya rasakan pada mereka berdua. Benar kata pepatah di salah satu film Bollywood, kadang orang asing terasa bagai saudara, sedang saudara terasa bagai orang asing.
***
Perihal pekerjaan ini pun tak luput oleh Nendra untuk dia sampaikan pada Maxel. Gimanapun Maxel harus tahu, jika istrinya itu sedang dalam kesulitan keuangan.
"Bos, nyonya ingin bekerja," lapornya setelah kembali dari rumah Eka.
"Bekerja?" tanya Maxel dengan Nada heran.
"Iya, dari cerita yang saya tangkap tadi, sepertinya keuangan Nyonya menipis, Bos. Saya sempat mendengar, Nyonya membahas tentang biaya persalinan."
Ya … Tuhan. Kasihan Devasya.
"Aku harus bagaimana? Tidak mungkin aku transfer begitu aja, kan?"
Maxel benar, akan terasa aneh jika dia tiba-tiba mengirim uang dalam jumlah banyak pada Devasya.
"Eka, ah ... maksud saya tetangga sebelah rumah Nyonya itu menyarankan Nyonya untuk bekerja di toko kue milik saya, Bos. Saya setuju, dan saya bilang pekerjaannya hanya duduk menjaga toko dan sesekali membantu bagian kasir. Saya akan tugaskan satu orang lagi untuk membantunya." Nendra menjelaskan panjang lebar tentang keputusannya menerima Devasya di tokonya, menimang jika bisa saja nanti sang Bos akan marah jika istrinya kembali sakit karena kelelahan.
"Biar aku yang akan menggaji Devasya lewat kamu. Berikan dia gaji yang besar," cetus Maxel ringan. Seolah itu bukanlah hal yang besar.
"Mana bisa, Bos? Itu malah akan membuatnya curiga."
Tentu saja Devasya akan curiga, toko kue milik Nendra hanya berupa mini kafe yang hanya menyediakan aneka macam kue, roti dan beberapa jenis minuman ringan. Toko itu juga hanya menyediakan beberapa meja dan kursi santai, yang jumlahnya tak lebih dari 10 pasang.
"Ah iya, lantas aku harus bagaimana?"
Dasar Maxel, untuk urusan seperti ini otaknya selalu tak sampai.
"Hmm, bagaimana jika Bos membeli produk yang dijual nyonya di online shop-nya?" saran Nendra.
Tadi dia juga sempat mendengar percakapan tentang ini dari Eka dan Devasya walau hanya samar-samar.
"Online shop?"
Nendra mengangguk, mungkin dia lupa jika mereka sedang berbicara di telepon. Jadi, mana mungkin Maxel akan melihat anggukannya.
"Iya, Nyonya dan Eka. Mereka bekerja sama dengan berjualan lewat online."
"Apa yang dia jual?" Maxel bertanya dengan antusias yang sebenarnya adalah rasa tak sabar ingin segera membantu istrinya itu.
"Banyak Bos, seperti peralatan rumah tangga, baju, dan produk kecantikan. Mereka posting di sosial media sebagai sarana promosinya, Bos."
"Ah, aku bahkan nggak tahu dia punya sosial media."
Nendra lanjut menceritakan tentang bagaimana Devasya akhirnya memiliki sosial media juga saran apa yang bisa Maxel lakukan untuk membantu Devasya secara diam-diam.
"Lantas, bagaimana untuk masalah yang kemarin?" tanya Maxel sebelum akhirnya memutus sambungan telepon.
"Ah, iya. Dari informan yang kita sewa, sepertinya orang itu tidak memiliki masalah bisnis dengan, Bos."
"Lalu?"
"Apa, Bos pernah menyakiti hati seseorang?" tanya Nendra memastikan.
"Menyakiti?" Maxel sedikit berpikir. "Sepertinya tidak."
Tentu saja Maxel lupa, jika dia ingat akan berbeda jalan cerita.
***
Siang ini Maxel menjemput Dini di stasiun kereta api. Mamanya itu memilih menggunakan transportasi umum ketimbang dijemput oleh sopir Maxel.
Maxel menunggu dengan cemas, dia yakin, Dini pasti akan sangat marah padanya kali ini.
"Ma," sapa Maxel lalu mendekat dan mencium punggung tangan sang mama. Dini tidak menolak, mengingat ini adalah tempat umum, tidak mungkin dini langsung marah-marah pada Maxel.
"Antar mama ke tempat Devasya," pinta Dini ketus.
Maxel menggenggam tangan Dini. "Ma, nggak bisa gitu."
"Bisanya gimana?" Dini menepis halus genggaman Maxel.
Maxel menatap Dini dengan tatapan mengiba. "Kita omongin di rumah aja ya, Ma."
Dini tak menjawab lagi, dadanya sesak, memikirkan nasib Devasya dan calon cucu-cucunya.
Sampai di rumah, Dini sudah tidak sanggup lagi menahan amarahnya. Tiba-tiba saja, dia menampar pipi kiri Maxel. Meninggalkan jejak kemerahan di sana.
Maxel yang tak siap bahkan sampai sedikit terhuyung, bahkan Yuni–asisten rumah tangga mereka, dibuat melongo dengan tindakan Dini barusan. Tapi, buru-buru Yuni pergi menjauh, tak ingin ikut campur masalah majikannya itu.
"Mama sama sekali nggak nyangka kamu bisa setega ini!" Dini mengacungkan telunjuk tangan kanannya tepat di wajah Maxel.
Maxel hanya bisa diam. Dia sangat tahu jika dirinya memang benar-benar salah.
"Mama nggak pernah ngajarin kamu buat nyakitin wanita. Apalagi istri, dan yang lebih kurang ajar lagi, dia sedang hamil, Maxel!" Dini berteriak tak memperdulikan sekitar.
"Ma …." Maxel mendekat, tapi Dini malah mundur.
"Apa? Kamu mau alasan apa? Apa kamu ini bodoh? Mama yakin kamu cukup pintar. Tinggal beri pengertian pada Devasya, minta padanya untuk pulang dan mama akan menjaganya. Selesai."
"Nggak semudah itu, Ma."
"Lalu, dengan seperti ini apa masalahmu selesai? Yakin, dia yang kamu maksud itu, tidak akan menyakiti Devasya setelah kamu melakukan ini?"
Lagi-lagi Maxel diam. Dia cukup pintar berbisnis, tapi tidak cukup pintar dalam hal asmara dan perasaan.
"Jangan egois, Maxel! Pikirkan anakmu." Dini terisak. Sama sekali tak menyangka bahwa anaknya akan berbuat setega itu pada Devasya.
"Maafin Maxel, Ma. Tapi, sekali ini aja. Mama dukung Maxel, please. Maxel pengen tahu dia siapa, Ma. Biar Maxel bisa selesaikan ini sampai ke akarnya."
"Dengan menggunakan Devasya sebagai pancingannya?"
"Enggak, Ma. Bukan gitu." Maxel mengusap kasar wajah frustasinya. "yang perlu Mama mengerti adalah, dia itu udah tahu kalau maxel sudah menikah. Dia memata-matai Maxel, Ma. Dengan seperti ini, biarkan dia terlihat menang dulu karena merasa telah berhasil menyakiti Maxel."
Dini semakin terisak. "Segera selesaikan! Mama nggak mau kalau sampai kamu pisah sama Devasya atau terjadi sesuatu yang buruk sama mereka."
Dini berlalu begitu saja menuju kamarnya, ya...rumah ini adalah rumah mereka di kota. Tentu Dini sudah terbiasa pulang pergi dan tinggal disini.
Sampai di kamar, Dini duduk di tepi ranjangnya, mengusap lelehan air mata yang sedari tadi tak henti membasahi pipi.
Diambilnya ponsel dalam tas jinjingnya, mata senja itu menatap layar ponsel dengan sendu. Hatinya ragu, harus menghubungi Devasya atau tidak. Apalagi dia memiliki amanah, Mirna berpesan untuk menyampaikan salam juga menitipkan lauk dendeng ragi kesukaan Devasya.
Aku harus bagaimana, Tuhan?