"Maafin aku, Baby. Maafin aku." Maxel tergugu dalam sepinya. Dia merasa bersalah sekaligus merasakan ketakutan berkali lipat. "Ya, Tuhan. Kumohon, tolong aku. Jika memang dengan perginya aku bisa menyelamatkan mereka, aku rela dan akan bertahan. Lindungi mereka yang aku sayang." Maxel terus merayu Tuhan untuk menguatkan langkahnya. Maxel mulai berpikir, jika dia menggunakan cara yang sama seperti yang lalu, dia yakin Devasya akan dengan mudah menebak jika Maxel sedang berada dalam ancaman. "Bagaimana caranya aku bisa pergi atau bagaimana caranya membuat Devasya menjauh?" Maxel sudah berpikir jauh jika Devasya pasti akan sangat membencinya kali ini, mungkin dia tidak akan bisa mengelak jika Devasya akhirnya menginginkan perceraian, Maxel pasrah. "Mungkin ini adalah takdir yang harus a

