Dengan segera Eka mengambil kembali kesadaran, dia semakin bingung saat melihat sosok sang Nenek, Devasya yang menuntunnya, si kembar di dalam stroller, juga Dini yang membawa sebuket bunga yang indah. "Kamu mau jadi istri aku?" tanya Nendra lagi. "Nenek?" Bukannya menjawab tanya Nendra, Eka malah memanggil neneknya. Nenek Ina hanya tersenyum seraya mengangguk, lalu pandangan Eka beralih ke Devasya, pun sama dengan Nenek Ina, Devasya hanya tersenyum dan mengangguk beberapa kali, tak lupa ada setitik haru di sudut matanya. Begitu pun dengan Dini yang mendapat giliran sorot mata Eka, tanda meminta pertimbangan, dan Dini mengangguk dengan mantap. Seolah restu sudah dalam genggaman, kini Eka menatap Nendra dengan berbagai perasaan yang luar biasa. Meski hanya sekelebat, bayangan masa la

