Beberapa waktu berhasil Maxel lewati dengan susah payah, mengabaikan segala macam rasa sakit yang kini bagai makanan sehari-hari baginya. Foto demi foto, juga pesan demi pesan peringatan dia terima dengan lapang d**a, tidak ada satu pesan pun yang dia hapus dari ponselnya, kenapa? Karena secara tidak langsung, Maxel bisa melihat perkembangan juga kegiatan Devasya dan putra putrinya, meski itu hanya sebuah foto-foto candid yang terkesan asal-asalan. Maxel juga sudah kembali bekerja di kantor, meski kini pikiran dan raganya kadang tak sinkron seperti lalu-lalu, biasanya Maxel bisa bersikap profesional dalam urusan pekerjaan meski sedang menghadapi masalah seberat apa pun, tapi entah kenapa begitu sulit kali ini. Maxel lebih banyak melamun, memandangi pigura foto, melihat-lihat ponsel juga

