"Aku tulus sayang sama kamu," ucap Sandy seolah mengerti apa isi hati Niken. Kemudian dengan cepat, Sandy mendaratkan bibirnya di kening Niken, lama, hangat, dan penuh kasih sayang. "Jangan ragu," bisiknya lagi. Niken membatu seketika, hanya jantungnya saja yang memompa lebih cepat, degupan-degupan itu seperti berusaha kuat membuat Niken mendapatkan kembali kesadarannya. "Niken? Are you okay?" Sandy menepuk-nepuk pipi Niken dengan lembut. Niken buru-buru menghindar, kini pipinya terasa panas, padahal keningnya yang dicium, bukan pipinya. "Kayaknya … A-aku … harus pulang, ka-kamu 'kan udah sembuh," ucap Niken terbata. Niken hendak berbalik, tapi Sandy mencekal lengannya. Tatapan mereka terkunci beberapa saat sebelum akhirnya Niken menunduk. "Hei, kamu belum jawab pertanyaanku." "Per

