Sebuah Kebenaran

2342 Kata

Niken hanya bisa membolak-balik tubuhnya, padahal waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari, matanya sama sekali tidak bisa terpejam. Percakapan Sandy dan Arvin siang tadi terus saja membayangi pikirannya. Niken ragu, dia harus mengecek kebenaran itu langsung pada Devasya atau terus saja berpura-pura tidak tahu. Memang, dia tidak sedekat itu dengan Devasya. "Nggak mungkin juga 'kan aku tiba-tiba tanya hubungan dia dengan Maxel baik-baik aja atau enggak? Itu bakalan kerasa aneh." Niken menggigit jarinya. Huft! "Ah, apa aku tanya sama Mbak Eka aja, ya? Mbak Eka 'kan dekat banget sama Devasya. Tapi... apa ntar aku nggak dikira kepo? Dan kalau misalnya kecurigaanku sama Sandy itu salah gimana?" Niken membuka ponselnya, dia melihat-lihat album foto pada galeri ponselnya. Foto-foto liburan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN