4.Putih di atas Hitam

1175 Kata
"Bagaimana Ev dengan rancangan ku?" ujar lily. Pagi-pagi buta aku sudah bertempur dengan rancangan yang harus ku buat untuk peragaan busana nanti. Aku bersama lily sedang sibuk membuat rancangan. Lily dikirim oleh bu Direktur untuk membantuku di Paris.Syukurlah pekerjaan ku terbantu oleh kedatangannya. "Hmm, menurut ku ada yang kurang di sekitar sini?" ucapku sambil berpikir. "Apakah aku harus menambahkan payet di sekitar sini Ev?" ujarnya sambil menunjuk ke arah sketsa yang ku buat. "Wah, sepertinya ide bagus lily" ungkap ku semuringah. Lily pun langsung melanjutkan instruksi yang ku buat sedangkan aku sibuk menambah sketsa busana yang lain. Beberapa jam kemudian kami pun akhirnya selesai membuat desain busana.Kami memutuskan untuk beristirahat dan melanjutkannya besok. Lily pun pamit untuk pulang duluan karena dia ada janji bertemu dengan seseorang. "Drrrtt" handphone ku bergetar di saku bajuku.Aku melihat nama yang tertuju di handphone ku Robert, aku segera mengangkatnya. "Hallo, Robert?" tanyaku "Hallo juga Eve. Eve aku sudah didepan bisa kah kamu segera turun?" jawabnya di seberang sana. Aku pun menengok ke bawah jendela untuk memastikan apakah benar dia sudah di depan? Benar saja, ternyata dia sudah disana. Aku pun segera mematikan handphone ku dan langsung menuju ke bawah untuk menemuinya. "Hai Robert, apakah sudah lama kamu disini?" tanyaku "Tidak, aku baru saja sampai Eve. Ayo, kita langsung pergi. Kita cari makan dulu, okey?" ujarnya semangat. Aku pun menganggukkan kepalaku pertanda aku setuju. Kami pun langsung naik ke mobil, dan mencari cafetaria yang dekat. Kami menuju ke Cafe de Flore yang menjadi favorit wisatawan dan penduduk lokal,karena cafe ini berada di kawasan tepian sungai. Aku pun terkesima melihat bangunan interior cafe ini.Robert pun segera memesan kopi dan cemilan untuk kami. Sambil menunggu, kami berbincang dengan santai. "Bagaimana pekerjaan mu hari ini Ev?" "Sangat membuatku sedikit frustasi haha" jawabku tertawa "Haha tapi ku lihat kamu sangat menikmatinya" ungkapnya. "Iya, karena dari dulu aku senang sekali membuat desain-desain busana" "Aku sudah menduganya haha" ujar Robert. Tidak lama setelahnya, pesanan kami sudah datang. Kami pun menikmati kopi dan cemilan ringan yang terhidang di atas meja. Sesekali kami bercanda gurau dan saling mengobrol satu sama lain. Selesai makan Robert mengajakku ke dekat menara Eiffel, tentu saja aku sangat senang.Kami pun langsung menuju ke menara Eiffel. ******* ********* ******** ******* Beberapa jam kemudian sampai lah kami di dekat menara Eiffel. Aku sangat senang,disini banyak sekali wisatawan dari berbagai daerah. Tidak lupa sesekali aku memotret diriku disini sebagai kenangan bahwa aku pernah kesini. Setelah aku puas memotret, aku mengajak Robert untuk duduk di bangku. "Apakah kamu senang ku ajak kesini?" tanya ya kepadaku. "Aku sangat sangat senang" ujarku semuringah "Eve,apa kah kamu merasa nyaman di dekatku?" ujarnya. Aku pun menjawab dengan sekedarnya karena aku bingung mau menjawab pertanyaan Robert seperti apa? "Tentu saja aku nyaman Robert!" jawabku "Hm.. Terimakasih Eve." ucapnya mengalihkan pandangannya. Apakah aku salah ucap?(pikirku) "Eve..kalau aku adalah orang jahat. Apakah kamu masih mau menemuiku dan berteman denganku?" tanya ya melihatku. "Haha kamu ngomong apa Robert.Kamu adalah orang baik yang ku kenal, tidak mungkin kamu seperti itu!" jawabku dengan tegas "Baiklah kalau kamu berpikir seperti itu Eve." jawabnya pasrah. "Memang hal jahat apa yang kamu perbuat?" ucapku sedikit penasaran. "Apakah kamu penasaran?" jawabnya tercengang. "Tidak juga. Aku selalu berpikir orang-orang di sekitar ku pasti mempunyai masa lalu yang kelam!Contohnya ada orang yang berusaha terlihat kejam dan jahat itu karena faktor dari masa lalu mereka, sebenarnya mereka tidak seperti itu. Mungkin itu adalah sikap mereka untuk melindungi diri mereka sendiri. Ada juga yang tidak bisa lepas dari bayangan masa lalu itu...." ucapku di akhir kalimat yang terdengan lirih. "Haha kau benar Eve. Jujur saja Eve, kamu seperti kertas putih yang kosong dan bersih Ev. Selalu berpikir positif kepada semua orang!" ucapku sambil tertawa "Tidak semua kertas putih itu bersih.. Kertas putih pasti selalu ada noda nya, entah itu pena atau noda hitam yang tidak kita ketahui...." ucapku terputus memandang ke satu arah tanpa berkedip. "Ev.. Apa kamu tidak apa-apa?" ucap Robert memegang pundakku untuk memastikan diriku baik-baik saja.Aku pun tersadar dari lamunanku. "A-ah aku tidak apa-apa. It's okay Robert." senyumku berusaha agar tenang. Aku tidak boleh seperti ini kepada orang lain terutama di depan Robert.Aku harus tenang agar tidak kumat sesak ini. "Okey, aku percaya perkataan mu Eve. Kamu benar Eve tidak selamanya kertas putih itu putih,bisa jadi di atas putih ada hitam" ujarnya datar. Aku pun berusaha mengalihkan pembicaraan ini. Aku pun memutuskan untuk mengajak Robert berjalan-jalan di sekitar menara. Tidak lama berbincang-bincang ada sekelompok pria asing yang menghampiri kami. "Lama tidak bertemu Robert" ujar salah satu pria itu tersenyum sinis. Aku pun terkejut dan menoleh ke arah Robert agar minta penjelasan. "Maafkan aku Eve, sepertinya ada lalat pengganggu di sekitar sini! " ucapnya melihatku. "Hei Robert! Kau bilang apa tadi!" ujar lelaki itu kesal olehnya. Aku pun mencoba berbicara dengan mereka. "Maafkan aku tuan, tapi kami sedang berjalan-jalan di sekitar sini. Bisa kah anda tidak mengganggu kami?" ucapku tenang kepada mereka. "Hah! Tidak bisa di percaya kau bersembunyi di belakang wanita ini! Haha" ucapnya tertawa seperti menghina "Baiklah kami tidak akan menggangu kalian! Tapi Robert ada 1 hal yang harus kau dengar, jam 20.30 temui kami di tempat biasanya!" ucapnya sinis sambil berlalu. "Hei, sebenarnya mereka semua itu siapa?" ucapku bertanya kepada Robert "Bukan siapa-siapa. Sebaiknya kamu tidak usah tahu tentang mereka Ev." ucapnya tenang. Aku pun terkejut dengan ucapan Robert. Ada apa dengannya dan orang-orang itu. "Ayo!kita lanjut saja jalan-jalan kita Eve." ucapnya menggandeng tanganku. Sepanjang jalan Aku dan Robert hanya diam dengan pikiran kami masing-masing, tanpa sadar sepanjang jalan itu pula kami bergandengan tangan. Aku pun tersadar dan langsung menarik tanganku agar terlepas dari genggamannya. "Ada apa Ev?" ujar Robert terkejut gara-gara ulahku. "Eh, tidak apa-apa hehe" ucapku salah tingkah. "Robert aku sedikit lelah, bisa kah kita pulang?" ujarku. "Baiklah Eve" Di perjalanan pulang sepanjang jalan kami terdiam. Ini adalah suasana canggung yang sangat tidak nyaman. Tidak lama kami pun akhirnya sampai di depan apartemen Rose. Robert menahanku dengan tangannya. "Ada apa Robert?" ucapku melihatnya "Maafkan aku Eve.Ada hal yang tidak terduga seperti tadi." ucapnya menghela nafas. "Ah tidak apa-apa Robert." ucapku merasa tidak nyaman. "Ev, mungkin kamu tidak percaya tapi jujur saja aku sangat menyukai mu Ev." Aku pun sedikit terkejut dengan ungkapannya. "Tapi jujur saja Ev, aku tidak bisa mencintai mu. Aku tidak mau kamu terlibat olehku." ucapnya dengan sungguh-sungguh. Apakah ini yang disebut oleh orang-orang "sakit tapi tidak berdarah." "Maksudmu apa Robert! Kau seperti mempermainkan aku! Apakah kau seperti ini?" ucapku kesal. "Bu-bukan seperti itu maksudku Eve. Ada satu hal yang membuatku seperti ini... " ucapnya terpotong. Karena saking kesalnya aku langsung meninggalkannya dan masuk ke apartemenku. "Ev.. Ev, tunggu dulu.. " ujarnya mau mengejar ku tapi terlambat karena aku langsung menutup pintu. Aku pun melihatnya di jendela. Dia seperti menghela nafas,kemudian masuk ke mobilnya dan segera berlalu. "Dasar Robert b*d*h! Bisa-bisanya dia berkata seperti itu!" gumamku kesal dan lalu terduduk di depan pintu. "Padahal aku juga mulai menyukainya.." gumamku lirih sambil menekuk lututku. Kenapa aku seperti ini? Tidak, aku tidak boleh seperti ini. Lupakan saja semua itu, anggap saja angin lalu.(ujarku di dalam hati menyemangati diriku sendiri)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN