Matahari di pagi ini sedikit tertutup awan mendung yang bergerak dari arah selatan Zeeskatania. Jalan raya kini sesak, dipenuhi oleh kendaraan yang saling berlalu-lalang. Toko-toko makanan sudah membuka pintu utamanya, dan beberapa pemilik kedai juga mulai menyusun rapih meja dan kursi. Orang silih berganti menyeberang di persimpangan lampu merah, menuju tempat bekerjanya masing-masing.
Suara dari speaker utama kampus berbunyi, menginformasikan kepada para peserta internship yang ingin bergabung ke dalam tim untuk perusahaan SEMA Capital Corp , agar segera memasuki convention hall Universitas Zeeskatania.
Sean baru saja keluar dari apartemen menuju parkiran utama di komplek tersebut. Ia hendak menghadiri acara perekrutan di kampusnya dahulu. Tidak lupa juga Sean memberi kabar ke Amanda Roose dan juga Joseph Roose agar dapat menghadiri acara tersebut. Dengan perasaan yang masih sedikit gelisah karena kejadian hari kemarin, Sean menyempatkan berdiri sebentar untuk menghirup udara segar, supaya bisa menenangkan pikirannya.
Setibanya di Universitas Zeeskatania, Sean memarkirkan mobilnya di sebelah mobil milik Amanda, yang sudah tiba lebih dahulu sebelum Sean. Ia keluar dari kendaraannya, dan disambut oleh beberapa panitia yang bertanggungjawab menjadi asisten Sean selama acara berlangsung.
Acara di hari kedua itu sedang berlangsung, Sean memandangi seluruh ruangan dari lantai 2 tempat ia sekarang berdiri. Tampak sekali antusias dari para peserta yang merupakan mahasiswa pilihan dan sudah diseleksi oleh pihak universitas. Sean tersenyum melihat itu. Ia tidak menyangka bahwa ia akan kembali ke kampusnya kembali, sebagai salah satu orang penting yang mendukung program universitas itu. Sean melihat Joseph Roose yang sedang memberikan pidato kepada para peserta. Di akhir pidato, Joseph menyampaikan satu hal penting kepada mahasiswa. Ia berkata, jika salah satu dari tim yang terpilih, akan ada pengangkatan sebagai pegawai tetap di perusahaan SEMA Capital Corp. Yang artinya, mereka semua diwajibkan menjalani proses ini dengan sangat serius, karena proyek yang akan dikerjakan nanti, bersangkutan dengan pengembangan teknologi terbaru di negara Meeskatania.
Giliran Sean yang naik ke atas panggung untuk memberikan sambutan. Sean menyapa dan memandangi banyaknya peserta di ruangan itu. Semua mata tertuju pada sosok Sean, sedang Sean menyampaikan pidatonya.
Di tengah-tengah sambutannya, Sean menghentikan pidatonya secara tiba-tiba. Matanya tertuju pada satu kursi di ruangan itu. Ia kembali melihat seorang perempuan yang sebelumnya pernah ia lihat. Pandangan Sean benar-benar terpaku di titik itu. Amanda menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada Sean. Ia menelepon handphone Sean yang kemudian berdering kecil di kantong jas yang Sean kenakan. Sean tersadar dari penglihatannya itu, ia melihat kembali memastikan perempuan itu adalah benar yang ia lihat sebelumnya.
"Ada beberapa kejadian yang sebelumnya terjadi pada diri saya," ucap Sean melanjutkan pidatonya, "di dalam kejadian itu, saya hanyut, dan terapung sendirian di luasnya samudera."
"Hingga saya menemukan keajaiban, tibalah seorang dengan perahu megahnya mendekati saya. Ia mengulurkan tangannya, hendak menolong saya yang terombang-ambing. Orang itu adalah Amanda Roose dan ayahnya, Joseph Roose."
Amanda yang sedari awal memerhatikan Sean, tersenyum dengan ucapan yang baru saja ia dengar dari Sean. Joseph yang juga sedang berada di ruangan itu, tertegun dengan kalimat yang Sean ucapkan.
Sean menutup pidatonya, diiringi dengan tepuk tangan yang meriah dari para peserta. Amanda menyambut Sean yang berjalan ke arahnya sambil menuruni panggung. Sean kembali berterimakasih kepada Amanda atas apa yang sudah dilakukan kepadanya selama ini. Juga kepada Joseph Roose, Sean menjabat tangan Joseph dan dibalas pelukan dari Joseph.
***
Jam pengumuman pun tiba. Mereka yang lolos akan langsung dikontrak oleh Sean dan Joseph selama 6 bulan untuk mengikuti pelatihan dan menjalankan pengembangan teknologi yang didukung oleh SEMA Capital Corp dan Roosevelt Corp.
Sean, Amanda, dan Joseph menaiki panggung untuk mengumumkan para mahasiswa terbaik yang berkesempatan untuk bergabung dalam program perekrutan tim. Beberapa dosen bergantian memberi amplop yang berisikan nama-nama mahasiswa yang dinyatakan telah lolos dan berhasil bergabung. Amanda mulai membuka amplop itu satu persatu. Kemudian ia maju menaiki podium untuk membacakan nama-nama mahasiswa yang berhasil lolos.
"Untuk tim pertama, para mahasiswa akan direkrut untuk bergabung dalam tim development technology di perusahaan Roosevelt Corp, dan tim kedua akan bergabung dalam tim financial research di perusahaan SEMA Capital Corp," ujar Amanda sembari menyusun tumpukan lembaran kertas di tangannya.
"Mereka yang berhasil lolos di tim pertama adalah Dylan Fiennes, Kevin Blair, dan Angela Catlean," lanjut Amanda, "bagi nama-nama yang disebutkan, silahkan menuju panggung."
"Dan untuk tim kedua, Zydan Aszack, Kate Magdalena, dan Clair De Lune."
Para mahasiswa yang berhasil lolos, mulai menaiki podium. Sean dan Joseph menghampiri mereka dan memberikan ucapan selamat kepada mereka. Amanda menyadari jika baru 5 orang mahasiswa yang berada di panggung. Masih ada satu orang yang belum menaiki podium, yaitu Clair De Lune. Penglihatan Sean menyusuri seisi ruangan, mencari-cari satu orang yang belum menghampiri podium. Amanda melalui pengeras suara, meminta kembali bagi rekrutan yang belum menaiki podium agar segera maju ke depan.
Terdengar suara langkah kaki dari pintu masuk convention hall, seorang perempuan yang berlari pelan menuju ke arah podium, "maaf aku terlambat menaiki podium, aku baru saja menemui seseorang di luar gedung," ujar perempuan tersebut.
Amanda menghampirinya lalu menanyakan nama perempuan itu.
"Siapa nama kamu?" tanya Amanda.
"Aku Clair De Lune," jawabnya, dengan senyum yang merekah lebar, setelah mengetahui dirinya adalah salah satu orang yang berhasil bergabung ke SEMA Capital Corp.
Sean Rafsanjani, ia terbangun dari duduknya. Ia terkejut karena melihat perempuan yang mampu membuatnya bertanya-tanya di kedai kopi di seberang kantornya, malam kemarin. Hari ini, perempuan itu benar-benar nyata di hadapan Sean. Dari puluhan ribu orang, Clair De Lune adalah salah satu yang berhasil untuk bergabung dengan SEMA Capital Corp. Tatap mata Sean sangat dalam ke arah Clair. Amanda menyadari hal itu, ia berjalan memanggil Sean dan memberikan isyarat tangan membentuk kotak yang agar Sean membantu menyerahkan sertifikat penghargaan. Sean lalu berjalan ke menghampiri Amanda, "Amanda, saya sempat melihat perempuan itu sebelumnya," ungkap Sean membisikkan ke Amanda.
"Semua orang berlalu-lalang, mungkin kamu hanya pernah melihatnya sepintas," jawab Amanda.
"Tidak, Amanda, saya melihatnya malam tadi, ketika kita bertemu di kedai. Dia melambaikan tangan ke arah saya dari luar jendela, dan pergi begitu saja," ujar Sean yang masih kebingungan.
Mendengar pembicaraan Sean, Amanda memasang wajah keheranan juga tak masuk akal, "jika benar apa yang dikatakan Sean, untuk apa Clair melakukan itu?" pikirnya.
"Sudah, bantu aku untuk memberikan sertifikat ini kepada mereka," ujar Amanda.
Setelah memberikan sertifikat, Sean, Amanda dan Joseph memberikan selamat kepada mereka, diiringi dengan tepuk tangan yang meriah dari peserta di ruangan itu.
***
Acara hari itu sudah selesai. Amanda dan Sean kembali menuju tempat Sean untuk menuliskan tugas masing-masing dari tim financial research. Dari tiga orang yang bergabung dengan SEMA, mereka menyetujui untuk melibatkan 1 orang untuk mengatasi masalah yang baru-baru ini mereka hadapi.
"Sean, aku berpikir untuk menempatkan satu orang dari tim, untuk membantu menyelesaikan masalah laporan dengan perusahaan ayahku," ujar Amanda.
Sean yang duduk tak jauh dari Amanda, memandang Amanda yang sedang menulis. Pikiran Sean tidak sedang jernih. Ia tahu kalau menolak usul Amanda, sama saja Sean meremehkan kemampuan dari tim itu. Namun semuanya itu hanya mengerucut pada satu sebab di pikiran Sean.
Rasa penasaran ia terhadap Clair De Lune akan semakin menjadi-jadi.
"Jangan,Amanda, mereka semua masih terlalu awam untuk masalah seperti ini."
Sean tetap meyakini kepada Amanda, bahwa itu adalah satu-satunya alasan untuk menolak usulnya. Namun tetap saja seorang Amanda dengan pemikirannya yang logis, memaksa Sean untuk mempercayai mereka.
"Kalau begitu, untuk apa kita merekrut mereka?" Tanya Amanda memojokkan pernyataan Sean.
"Tetap saja, kita berdua pun belum mengetahui penyebab masalah ini. Mungkin saja—"
"Sean, aku sudah bertanya kepada ayahku, itu hanya kesalahan kecil pada pembukuan awal. Mereka dapat informasi itu dari manajer keuangan kita," ujar Amanda memotong penjelasan Sean.
Dengan pertimbangan yang mereka sudah pikir matang-matang, akhirnya Sean memutuskan untuk menyetujui usul Amanda. Mereka menunjuk Clair De Lune untuk menjadi penanggung jawab tugas ini.
Amanda melanjutkan menulis di meja kerja Sean, membuat beberapa jadwal pertemuan antara tim dengan manajemen. Sedangkan Sean mempersiapkan makan malam. Dia mengeluarkan beberapa makanan dari lemari penyimpanan makanan dan menghangatkannya di oven.