Zeeskatania

1518 Kata
"Inikah ruang kerja seorang jenius?"   Joseph melihat sekeliling ruang kerja Sean di apartemen tersebut. Sean hanya tersenyum dan mempersilahkan Joseph duduk.   "Suka wine?" tanya Sean yang menyibukkan diri dengan membuka lemari penyimpanan wine di belakangnya, dan memilih-milih wine favoritnya.   "Tidak, saya sudah berhenti meminumnya, semenjak Amanda lahir."   "Jadi, apa yang mau dibicarakan? Bagaimana kelanjutan pembangunan yang kita kerjakan bersama, Pak?"   "Bukan tentang itu, Sean," ujar Joseph tersenyum, dan seperti ingin mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya ia tahu untuk tidak diungkapkan hari ini.   Setelah menghela napas panjang, Joseph mempertanyakan hubungan Sean dan Amanda, yang ia harap ada komitmen di antara keduanya.   Sean terkaget, matanya kini teralihkan ke arah Joseph.   Sean teringat kembali perjalanan sewaktu awal ia kuliah di Universitas Zeeskatania dahulu. Persahabatan Sean dan Amanda dimulai, saat ia pertama kali bertemu dengan Amanda Roose di tahun pertama, dalam kegiatan seleksi sebagai asisten dosen yang diadakan oleh universitas.   Amanda Roose yang sudah berjuang keras, harus merelakan posisi asisten dosen tersebut kepada Sean, yang berhasil menyentuh predikat tertinggi untuk seleksi tersebut. Sedari awal, memang Sean selalu mampu membuat orang-orang merasa takjub ketika melihat pemikiran dan perhitungan-perhitungan yang ia lakukan, tak terkecuali Amanda Roose. Meskipun ada sisi lain dari Sean yang sangat pendiam dan acuh terhadap orang-orang di sekitarnya, hanya Amanda Roose yang mampu membuat Sean menjadi pribadi yang lebih terbuka dan leluasa untuk bercerita kepadanya. Hingga tahun ketiga, mereka memutuskan untuk mendirikan sebuah perusahaan. Dan hal itu sampai di telinga Joseph Roose, yang hingga kini mendukung penuh SEMA Capital Corp .   ***   Sean tersadar dari bayangan ingatannya itu, ia kemudian menuangkan wine ke gelas yang ada di atas meja kerjanya, "saya mengagumi Amanda," ujar Sean sambil menarik kursi untuk duduk, "terlebih ketika saya meninggalkan perusahaan untuk melanjutkan pendidikan saya di Nevorusstate."   Joseph tertegun mendengar pernyataan Sean yang hendak melanjutkan omongannya.   "Dia melakukan pekerjaan yang luar biasa, dia wanita yang tangguh, pekerja keras, dan tidak mudah baginya untuk menyerah."   "Apa kamu tidak mempunyai niat untuk menjadikannya seorang yang spesial untukmu?" tanya Joseph kepada Sean yang masih menaruh pandangan kepadanya.   "Dia teman terhebat yang pernah saya miliki, tentu saja ia spesial untuk saya," jawab Sean sambil meminum wine di gelasnya.   Joseph bangun dari duduknya, ia hanya tersenyum memandang Sean yang terlihat seperti biasa saja menanggapi pertanyaannya. Mungkin bagi Joseph, kehidupan Amanda adalah segalanya. Mempunyai karir bagus, mempunyai keluarga yang mendukung penuh apapun yang Amanda lakukan, hingga memiliki pasangan yang mencintai Amanda. Joseph melangkahkan kakinya keluar dari apartemen Sean, sambil mengambil secarik kertas dari kantung bagian kanan jas yang ia kenakan. Ia memberikan lipatan kertas itu kepada Sean dan meminta untuk membacanya sebelum acara pertemuan esok hari di convention hall Universitas Zeeskatania. Sean mengambilnya dan menaruh secarik kertas itu di antara buku-buku di atas meja kerjanya.   ***   Sean sedang memandangi langit-langit sore dari balkon apartemen. Ia memutar beberapa lagu dari Sundive di album ketiganya, lagu-lagu favorit Sean semasa ia mulai menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di Universitas Zeeskatania.   Cuaca perlahan berubah menjadi mendung, rintik-rintik hujan sudah mulai membasahi atap balkon tempat Sean bersantai. Sambil memikirkan apa yang akan dibicarakan esok hari di perekrutan tim untuk internship di perusahaannya, Sean menoleh ke secarik kertas yang Joseph berikan kepadanya siang tadi. Ia mulai bertanya-tanya, apa yang tertulis di dalamnya. Apakah tentang pertemuan esok hari, atau justru tentang Amanda Roose.   Ia bergegas mengambil jaket dari lemari, mengambil kunci kendaraan dan juga secarik kertas yang Joseph berikan. Hari ini nampaknya seperti petunjuk bagi Sean untuk mulai memikirkan tindakan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Tiba di parkiran mobil, Sean menghubungi Amanda untuk segera menemuinya di kedai tepat di seberang kantor perusahaan mereka. Lalu Sean memasuki mobilnya, dan meninggalkan apartemen menuju kedai itu.   Sesampainya di tempat pertemuan, Sean langsung memilih meja, dan duduk menghadap ke arah pintu masuk. Ia membuka surat yang Joseph berikan kepadanya,     "Joseph Roose,   Kami ingin mengumumkan bahwa dengan adanya temuan pemalsuan terhadap laporan yang disusun oleh tim dari SEMA Capital Corp, maka akan dilakukannya tindak lanjut berupa peninjauan untuk pemberhentian perjanjian kerjasama antara Roosevelt Corp dengan SEMA Capital Corp. Hingga tim legal Roosevelt Corp akan mengadakan jumpa pers dengan wartawan, tentang penemuan pemalsuan ini yang diidentifikasikan menyebabkan kerugian yang sangat besar terhadap Roosevelt. Demikian surat pemberitahuan ini kami sampaikan sebagai peringatan pertama untuk dewan komisaris."   "Bagaimana ini bisa terjadi? Sedang saya tidak menemukan kejanggalan saat tim saya memberikan laporan langsung ke saya," ujar Sean dalam hatinya, ia tersandar di bangku tempat ia duduk, dan mulai membayangkan hal yang kemungkinan bisa terjadi ke depannya.   Dengan pandangan kosongnya, Sean melihat ke arah pintu masuk, berharap Amanda segera datang dan bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi dengan perusahaannya.   "Permisi, Pak..." samar-samar suara perempuan terdengar di telinga Sean yang masih memandang kosong pintu masuk kedai di sore itu.   "Pak..."   "Oh ya, maaf, ada apa?" jawab Sean dengan sedikit terkejut dengan suara perempuan itu.   "Apakah anda ingin memesan sesuatu?" tanya salah satu pelayan.   "Sudah berapa lama kamu berdiri di sini?" tanya Sean yang masih tersandar di kursinya. "Sekitar 10 menit semenjak anda duduk di sini."   "Maaf sudah membuat anda menunggu selama itu. Saya ingin memesan 1 gelas Latte Coffee."   Pelayan itu kemudian mencatat pesanan lalu memerhatikan raut wajah Sean yang terlihat sangat cemas. "Baik, mohon ditunggu pesanannya," ujar si Pelayan, lalu pergi untuk membuat pesanannya.   5 menit sudah berlalu, terdengar suara langkah kaki dari arah pintu masuk kedai itu. Amanda berjalan memasuki kedai itu menuju arah Sean dengan gelisah.   "Hai, maaf aku terlambat," sapa Amanda yang baru saja tiba, "ada apa? Sampai kamu ingin menemuiku mendadak seperti ini."   "Ayahmu memberikan surat ini kepada saya, saat kami berdua berbicara di ruang kerja saya, siang tadi," ujar Sean sambil memberikan surat itu kepada Amanda.   Amanda kemudian mengambil surat itu dan membacanya. Ia sangat memerhatikan apa yang tertulis di surat itu, dan beberapa kali memasang wajah keheranan. Sean tidak memberitahu apapun tentang apa yang ia bicarakan dengan Joseph siang tadi, sebelum Joseph memberinya surat itu.   "Aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi," ungkap Amanda yang masih memandangi isi surat tersebut.   "Saya pun begitu. Sepertinya kita harus segera menyelidiki, dimulai dari internal perusahaan."   "Selebihnya, biar aku yang berbicara pada ayahku setelah aku pulang dari sini."   "Baiklah, saya akan menyelesaikan masalah ini secepatnya," ujar Sean. Latte Coffee panas milik Sean, sudah tiba di meja mereka. Sean meminta Amanda yang hendak bergegas pergi, untuk memesan terlebih dahulu minuman atau beberapa makanan dari kedai itu. Amanda menuruti keinginan Sean, dan kemudian memesan pesanan yang sama.   Sean keluar untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di mobilnya, dan memberikannya kepada Amanda. Ia memberikan buah tangan yang dibelinya dari Nevorusstate untuk Amanda. Sean memberikan beberapa perhiasan wanita yang sangat bermakna dari negara tersebut. Ia kemudian berjalan ke arah belakang Amanda, dan memakaikan kalung tersebut untuk Amanda,   "Bagi siapapun yang mengenakannya, ia termasuk wanita yang beruntung," ujar Sean sambil mengancingkan ikatan kalung tersebut.   "Beruntung ba..ba..bagaimana?" tanya Amanda. Ia benar-benar tertegun atas apa yang dilakukan Sean. Amanda menahan senyum di pipinya agar tak terlihat oleh Sean.   "Iya. Menurut penjualnya, kalung ini mempunyai kisah sendiri, karena masing-masing ruasnya diukir oleh 2 bambu dari tempat yang berbeda," Sean menjelaskan ke Amanda, sambil merapihkan uraian rambut Amanda kembali,   "Dahulu pernah seorang laki-laki jatuh cinta terhadap perempuan dari kerajaan, namun ia dilarang untuk mengungkapkannya karena perbedaan status sosial. Alhasil, ia membuatkan kalung dengan ukiran yang indah ini menggunakan bambu dari desa tempat ia tinggal, dan bambu dari kota tempat perempuan itu tinggal."   "Jadi, kalau aku menggunakan kalung ini, itu artinya aku juga dilarang untuk mengungkapkan perasaanku ke orang yang aku cinta?" tanya Amanda yang tiba-tiba menoleh ke arah Sean.   "Bukan itu maksud saya---" Amanda memasang wajah sinis ke arah Sean, "bilang saja kalau kamu takut kehilanganku karena orang lain, bukan? Hahahaha."   "Setelah laki-laki itu meninggal, kemudian beberapa masyarakat menemukan kalung buatannya itu, dan memberinya kepada perempuan dari kerajaan itu. Perempuan itu menangis setelah mengetahui kabar tentang laki-laki itu, dan menyesal hanya karena perbedaan status sosial, ia harus kehilangan seorang yang mencintainya."   "Laluuuu?" ejek Amanda.   "Ketika perempuan itu tumbuh dewasa dan menjadi ratu kerajaan, ia menghilangkan pandangan perbedaan status sosial tersebut. Serta menjadikan ukiran di kalung itu sebagai lambang kerajaan yang baru," Sean duduk kembali di kursinya dan tersenyum ke arah Amanda,   "Mereka berdua adalah simbol peradaban baru tentang cinta di kerajaan itu. Dan sudah menjadi mitos, bahwa siapapun wanita yang memakai kalung dengan ukiran itu, mereka akan dipertemukan dan ditakdirkan bersama orang yang dicintainya untuk selamanya."   Amanda hanya tertunduk dan tersenyum kecil setelah mendengarkan penjelasan dari Sean tentang makna kalung tersebut. Dalam pikirannya, Amanda tidak mengambil keberuntungan dari kalung itu, dan lebih menghargai makna dari kisah yang sudah lama melekat pada kalung itu. Namun dalam hatinya, Amanda berharap, jika apa yang dijelaskan tentang kalung itu benar, hanya Sean yang tergambar dalam harapannya.   Musik di kedai tempat pertemuan Sean dan Amanda terdengar semakin romantis. Suasana malam hari di kota Zeeskatania terpantul jelas di jendela dari sudut paling ujung. Lamat-lamat penglihatan Sean. Ia menyadari ada mata yang sedang memandanginya dari kejauhan, ia menengok ke arah itu, memastikannya. Terlihat seorang perempuan di bawah lampu jalan tepat di depan kedai, ia tersenyum ke arah Sean. Perempuan itu memegang payung, lalu melambai ke arah Sean sambil berputar arah untuk pergi dari tempat itu, meninggalkan tanda tanya besar di dalam diri Sean.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN