Meeskatania

937 Kata
Antrian kendaraan yang ingin masuk ke Bandar Udara Internasional Zeeskatania hari itu sangat panjang, Amanda Roose dan adiknya, Nick Roose, terjebak dalam salah satu antrian kendaraan itu.    Suasana sangat membosankan di mobil mereka, hanya terdengar lagu yang berputar dari T-music yang terpasang di dasbor selama perjalanan menuju bandara,  "Sean harusnya sudah tiba sekarang," ujar Nick mencoba menghilangkan keheningan di mobil setelah ia mengemudikan mobil itu selama 1 jam perjalanan, "atau mungkin bisa terlambat karena pesawat yang delay?"   Amanda melirik ke arah depan mobil mereka, dan melihat waktu di jam tangan yang ada di tangan kirinya, kemudian ia mengecek handphonenya, berharap Sean memberinya kabar saat ini, apakah sudah tiba atau belum di bandara.    "Kenapa dia belum menghubungiku, ya?" gumam  Amanda sembari menoleh ke arah kiri kaca mobilnya, terpaku melihat sepasang suami istri yang saling berbicara, dan tertawa bersama seperti tak ingin membuang waktu di dalam kemacetan yang terjadi. Kecemasan di raut wajah Amanda berubah menjadi senyum kecil.   Nick yang menyadari hal itu langsung tertawa, "suami istri, tertawa bersama, apakah kakak—" belum selesai nick berbicara, Amanda langsung memotongnya,    "Apa? Kamu mau aku jitak?"   "Aku belum menyelesaikan omonganku," jawab Nick merasa terheran dengan tingkah laku Amanda, "Apa kakak tidak ingin menelepon Sean?"   "Tidak, aku takut mengganggu, bisa jadi dia masih di dalam pesawat." "Kamu menyukai Sean, bukan?" tanya Nick yang dari sedari tadi memang ingin meledeki kakaknya.   *tak*    Amanda benar-benar menjitak kepala adiknya kali ini.   "Kamu ini bicara apa? Umurmu bahkan belum 20 tahun, tapi berbicara seakan kamu tau tentang hal-hal dewasa," ujar Amanda yang memang sepertinya sudah mengetahui arah pembicaraan Nick.   "Jeez... Aku hanya bercanda, lagi pula aku ingin bertemu Sean, ini sudah tahun kedua aku tidak bertemu dengannya."   Handphone Nick berdering, ia merogoh sakunya dan mengambil handphone tersebut, terlihat yang menelepon adalah Sean. Nick hendak mengangkat telepon itu, namun Amanda dengan cepat mengambil handphone itu, dan mengangkat telepon dari Sean.   "Halo, Nick," sapa Sean yang tidak mengetahui bahwa yang menjawab adalah Amanda.   "Kenapa kamu tidak memberi kabar ke aku? Kenapa malah menelepon ke nomor Nick?" tanya Amanda yang mulai terlihat geram.   "Oh, hai Amanda, saya kira hanya Nick yang datang menjemput saya di Bandara, saya kira kamu menghadiri pertemuan dengan perusahaan Roosevelt Corp & SEMA pagi ini."   "Setidaknya beri aku kabar juga, dong—"  Sean memalingkan handphone dari telinganya, dan melihat layar handphone itu, memastikan bahwa ia menelepon ke nomor yang benar, karena merasa keheranan dengan sikap Amanda yang begitu khawatir.   "Iya, saya minta maaf, Amanda," jawab Sean sambil berjalan menyeret koper miliknya menuju lobi utama bandara, "Saya baru saja tiba di bandara 5 menit lalu, kalian sudah sampai di mana?"   "Sebentar lagi sampai, kok."   "Baiklah, saya tunggu di lobi utama," Sean mengakhiri panggilan telepon tersebut, dan mulai berjalan cepat ke pintu keluar bandara.   5 menit berlalu, sebuah kendaran menepi tepat di depan Sean yang sudah berdiri di lobi utama menunggu Amanda dan Nick. Nick langsung membuka pintu mobil, dan menyambut kepulangan Sean dengan pelukan, seperti penghilang rindu antara adik laki-laki dengan kakak laki-lakinya.    Amanda masih memandangi Sean dari dalam mobilnya, kaca yang tidak transparan itu menutupi kegembiraan Amanda yang tersenyum lebar melihat kepulangan Sean ke Meeskatania setelah 2 tahun tinggal di negara Nevorusstate.  Nick membukakan pintu mobil untuk Amanda, "lihat sekarang Amanda, dia jauh lebih tinggi, bukan?" Tanyanya ke Sean.   Sambil Amanda keluar dari kendaraan, Nick membisikkan Sean, "dia belum memiliki hubungan dengan siapapun selama kau pergi," ucap Nick yang langsung menjauhi Sean, karena menyadari bahwa Amanda menaruh raut curiga kepadanya. "Bicara apa kamu ke Sean?" tanya Amanda ke Nick dengan wajah yang mulai kelihatan dongkol.   Tanpa berbasa-basi, Sean menghampiri Amanda dan langsung memeluk Amanda, dan berbicara di samping telinga Amanda,  "Terima kasih, kamu sudah banyak membantu saya selama ini." Amanda nampak terlihat kebingungan di pelukan Sean, karena sikap Sean yang tidak pernah seperti itu sebelumnya, Memeluk Amanda secara tiba-tiba. "Mari kita pulang menuju apartemen saya terlebih dahulu," ujar Sean.   ***   Setibanya mereka di apartemen milik Sean, Amanda dan Nick yang hendak ingin bergegas melanjutkan perjalanan mereka, terkejut karena menemui sang ayah yang sudah terlebih dahulu tiba di sana.    Joseph yang dikawal dengan seorang pengawalnya, berjalan menghampiri Sean yang baru saja masuk ke lobi utama apartemen itu, "Lama tidak berjumpa, Sean," ujar Joseph dengan menjulurkan tangan untuk bersalaman dengan Sean,  "Bagaimana kondisimu setelah 2 tahun belajar di negera yang sangat jauh?" Joseph melanjutkan pertanyaannya.   "Halo, Pak Joseph, senang berjumpa dengan anda kembali," jawab Sean dan membalas jabat tangan Joseph.   "Kabar saya sangat baik, anda sendiri, bagaimana?" tanya Sean kembali.   "Ya, beginilah, semuanya masih berjalan dengan lancar, dan juga—"   "Ayah, kenapa tiba-tiba ayah di sini?" tanya Amanda memotong pembicaraan mereka, yang sedari awal keheranan dengan kedatangan ayahnya di apartemen Sean.    "Harusnya sekarang ayah sedang berada di convention hall universitas." "Ayah ingin bertemu dengan pemilik perusahaan, dan juga ada yang harus saya bicarakan dengan Sean," jawab Joseph yang tersenyum ke arah Sean, "silahkan kalian pulang lebih dahulu."   "Mari kita berbicara di ruang kerja saya, di atas, pak," ujar Sean sambil melangkahkan kaki ke arah lift utama di gedung itu. Tak lama kemudian, Sean berputar arah kembali untuk mengucapkan sesuatu yang ia lupakan ke Amanda dan Nick, "Oh ya, terima kasih Amanda, dan Nick atas waktunya menjemput saya, lain waktu nanti, saya akan membalasnya."    Amanda dan Nick melempar senyuman ke arah Sean, mereka berdua kembali berjalan ke mobil yang terparkir di depan pintu masuk gedung tersebut. Amanda masih mempertanyakan di dalam hatinya tentang Joseph yang tanpa sepengetahuannya, tiba di apartemen Sean lebih dahulu darinya. Sebelumnya, Nick memberitahu Amanda, bahwa Joseph hendak menghadiri acara pertemuan di hari pertama perekrutan tim yang akan Joseph bentuk bersama dengan perusahaan SEMA Capital Corp milik Sean dan Amanda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN