Niat awalnya aku memang hendak kembali ke kamar dan mengabaikan apa yang akan dilakukan oleh Mas Panji, akan tetapi setelah tiba di pertengahan jalan tiba-tiba saja aku merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh pria itu.
Ingin tahu apakah dia akan membangunkan Amira dan menyuruh perempuan itu untuk memasak atau memilih untuk membeli makanan siap saji melalui ponselnya?
Perlahan-lahan aku melangkah mengendap-endap mendekati kamar yang ditempati oleh Mas Panji dan Amira, ingin tahu apa yang terjadi di dalam sana saat Mas Panji membangunkan Amira dengan paksa dan menyuruhnya untuk memasak dan menyiapkan makanan siang untuknya.
"Amira, Sayang ... Bangunlah sebentar, tolong buatkan makanan untukku!"
Sekilas aku bisa melihat bagaimana Mas Panji sedang berusaha membangunkan Amira dengan menggoyangkan pundak perempuan itu, namun hingga beberapa saat berlalu, Amira tetapi aja tidak bergerak sedikitpun.
Sebenarnya dia hanya tidur atau mati, kenapa tidak bergerak sedikitpun saat Mas Panji berusaha membangunkan dia?
"Amira ...."
"Aduh, kenapa si, Mas! Aku baru tidur beberapa menit yang lalu lho, masih capek ini badanku!"
Mataku membulat saat mendengar perkataan Amira terhadap Mas Panji, tidak menyangka kalau ternyata Amira bisa berbicara sekasar itu kepada mas Panji, padahal aku sendiri saja tidak pernah melakukan seperti itu. Kecuali setelah dia mulai berselingkuh, menikah, dan kemudian membawa perempuan itu kepadaku dengan tanpa rasa bersalah memperkenalkan dia sebagai istri mudanya.
Mulai sekarang tidak akan pernah lagi aku bersikap baik seperti dulu, jika ada yang tidak pas di hati, maka aku akan membalasnya. Tidak peduli sekalipun Mas Panji masih menjadi suamiku, tidak akan ada lagi kehormatan yang sama seperti yang dilakukan olehku dulu terhadapnya.
"Amira, aku ini lapar lho! Kamu belanja tapi tidak memasak sekalian, terus itu belanjaan mu juga kamu letakkan begitu saja di atas lantai seperti itu, kalau sampai rusak gimana? Memangnya kamu punya uang buat menggantinya," ucap Mas Panji di dalam sana.
Hah, ternyata dia menggunakan ancaman yang sama seperti yang aku lakukan terhadapnya agar membuat Amira menurut.
Dasar tidak kreatif!
"Duh, Mas! Aku hanya meletakkannya begitu saja dan masih berada di dalam keranjangnya, tidak mungkin sayuran dan bahan makanan lainnya akan rusak!"
"Amira, memangnya kamu hanya membeli sayuran saja? Tidak ada ikan atau daging segar yang kamu beli," ucap Mas Panji, lagi!
Seketika itu pula aku melihat Amira yang terkejut dengan perkataan Mas Panji, sepertinya dia menyadari sesuatu.
Ah, tentu saja! Sebab tidak mungkin dia hanya membeli sayur mayur dengan uang sebesar tiga ratus ribu rupiah yang kuberikan itu, pasti ada ikan atau daging ayam yang dibelinya. Sedangkan benda-benda seperti itu jika tidak dimasukan ke dalam freezer atau kulkas pasti akan lebih cepat basi dan berbau tidak sedap.
Amira, lihat saja! Aku akan membuatmu sengsara setelah berhasil masuk ke dalam rumahku ini!
Tanpa berbicara apapun lagi, aku segera beranjak pergi meninggalkan halaman kamar Mas Panji dan Amara. Setelah ini, aku akan memberikan kejutan kedua untuk perempuan pelakor itu!
"Aduh, aku lupa! Aku membeli beberapa ikan segar dan juga beberapa kilo daging ayam potong, bagaimana ini!"
Rasanya aku ingin tertawa terbahak-bahak setelah mendengar pernyataan Amira. Entah mengapa aku lebih bahagia saat melihat penderitaan istri muda suamiku itu.