14. Makan Malam

1593 Kata
Sesuai janjinya pada Gunawan malam ini Lani akan menghadiri acara pertemuan para pebisnis. Lani berdandan maksimal malam ini, jika pada hari biasa Ia menggunakan baju casual dan celana jeans, malam ini Ia tampak cantik menggunakan gaun berwarna maroon dengan belahan rok hingga menampakan kakinya yang jenjang, lipstik berwarna maroon dan riasan mata smoke eyes nampak lebih berani dan dewasa. Ia dijemput sopirnya ke kostan. "Lani, cantik banget mau kemana?" tanya Franda melihat Lani, Lani jarang berdandan seperti saat ini. "Mau dinner bareng Oppa!" padahal Oppa yang si maksud Lani itu Kakek bukan Oppa korea. "Ahhh, so sweet Lani" baru saja Franda menyalakan IG nya untuk Live, Lani meninggalkan Franda. "Tunggu Lani, Franda mau Live dulu bareng Lani" "Bayyy cici, lain kali ya, Lani udah dijemput nih" bukan niat menghindar tapi Lani memang audah ditunggu sopirnya di depan kostan. Lani duduk di co driver, Ia tidak pernah duduk di belakang meskipun menjadi Nona besar, Ia lebih senang duduk di samping sopir supaya lebih dekat, tapi sopirnya tetap segan pada Lani. "Selamat Malam, Nona Lani!" sapa seorang pria muda yang cukup tampan bahkan memakai jas hitam, kemeja maroon, dasi warna hitam metalik yang kebetulan sangat matching dengan gaun Lani malam ini. Pria itu menatap Lani tak berkedip 'xantik sekali calon CEO Andromeda' bisik batinnya 'pasti cantik lah, ibu dan ayahnya juga tampan' Ivan pernah melihat foto keluarga Lani di ruangan Gunawan, Dia juga pernah bertemu bocah itu waktu main di rumah Pamannya Lani, Ia kawan dari Dariel sepupu Lani. Ia tidak menyangka gadis itu semakin dewasa semakin cantik. "Loh, Pak Surya kemana Mas?" tanya Lani karena bukan sopir yang biasa jemput dia. "Pak Surya jemput Kakek Nona, perkenalkan Saya Ivan yang akan mengantar Nona malam ini" jawab Ivan menyadarkannya dari lamunannya "Oh, Mas Ivan sopir baru?" "Khusus malam ini iya, tapi sebenarnya Saya manajer di Angkasa Jaya" jawabnya menjelaskan pada Lani. "Oh...Oke Mas Ivan, Kita jalan sekarang ya" ada-ada sjaa kelakuan Kakek nih, masa manajer yang jemput Lani mentang-mentang atasan. Padahal Gunawan tau Lani sudah punya pacar. "Ternyata semakin dewasa Kamu semakin cantik ya!" Lani menoleh pada pria itu, 'beraninya dia bicara seperti itu' "Oh ya, pasti Kamu udah lupa sama Saya, Saya teman SMA Dariel sepupu Kamu, dulu kita sering ketemu loh, Kamu suka nangis kalo di jahilin Dariel" Lani berusaha mengingat pria itu "Mas Ivan? Yang sering beliin Lani es krim kalo Lani nangis" jawabnya setelah berhasil mengingatnya. "....." Ivan mengangguk senang Lani masih mengingatnya. "Ya ampun Mas Ivan, long time no see, kemana aja?" "Aku lanjut kuliah di Belanda, Kamu katanya mau kuliah di Belanda kenapa ga jadi, padahal Aku tunggu loh" "Lani kuliah di Jakarta aja Mas, kan bagus juga, kasian Kakek kalo Lani tinggal nanti kangen" sebenarnya bukan kasian tapi Lani trauma kalau harus terbang ke Belanda. Orangtuanya meninggal kecelakaan pesawat saat ke Belanda, makanya Ia trauma. "Oh iya, maaf Mas ngga dateng waktu pemakaman Om Adrian dan Tante Hilda, waktu itu Mas sedang ujian di Belanda, jadi ga bisa balik. Mas turut berduka cita ya Lani" "Gapapa Mas, Lani udah bisa terima semua Kok, semua itu sudah menjadi takdir Tuhan, Papa sama Mama pasti sudah bahagia, yinggal Lani harus nunjukin sama mereka Lani bisa jasi kebanggaan mereka" Lani menarik nafas perih harus mengingat kembali saat itu, tapi Lani sudah menghabiskan keterpurukannya dulu, Ia tidak mau larut dalam kesedihan. Siapa sangka gadis yang terlihat sangat ceria ini justru pernah nyaris hampir putus asa. "Maafin Mas, ngingetin Kamu masa itu" Ivan menatap Lani sekilas. Ia melihat masih ada luka di mata gadis itu "Ga apa-apa Mas, I am Okay!" Lani tersenyum menyipitkan matanya. "Mas tau, Lani gadis hebat!" lanjutnya, akhirnya mereka sampai di lokasi sebuah hotel bintang lima, Lani dan Ivan menghampiri Gunawan yang sedang berbincang-bincang. Lani melihat sekitarnya mencari sosok yang barang kali Ia kenal di Andromeda, sepertinya Sandy belum datang, Ia berharap semoga Rendy atau Dewa tidak datang malam ini. Lani memeluk kakek dan pamannya. "Cucu kakek cantik sekali malam ini" Puji Gunawan kepada cucunya. "Jadi kemarin Lani jelek?" Lani merajuk pada Kakeknya. Ivan tertawa melihat Lani, ternyata Ia tetap gadis kecil di mata kakeknya, Ia cukup tau diri untuk tidak berharap lebih pada Lani padahal Ia sudah menaruh hati pada Lani sejak sering menghibur Lani dulu. Ia bisa berada di posisi ini berkat kepercayaan paman Lani padanya selain karena keahliannya. "Ivan ga macem-macem kan sama Lani?" tanya Andreas paman Lani. "Mana berani Ivan macem-macem sama Lani" Lani menatap Ivan tersenyum. Ivan ikut membaur dengan mereka, Ivan bukan keluarga pebisnis tapi sudah si anggap seperti anak sendiri oleh Andreas makanya Ia meminta Ivan menjemput Lani, tidak ada maksud menjodohkan Lani dengan Ivan. "Heiiii Gunawan" Sebuah suara menghentikan kegiatan mereka. Lani berbalik arah, tubuhnya menegang ketika melihat Rendy dan Mahendra tepat di depannya. Begitu juga Rendy ia kaget melihat bawahannya ada di sini, bahkan Ia terpesona dengan Lani malam ini, tapi kenapa Lani bisa ada di sini? Dia kan hanya karyawan biasa di perusahaanya. Menyadari ketegangan yang terjadi antara keponakannya dengan Rendy paman Lani langsung inisiatif ikut dalam permainan Lani. "Om Sandy, Mahend, Rendy apakabar?" Andreas mengabsen semua keluarga Hartawan. "Baik brother" Mahend menepuk-nepuk bahu Andreas. "Lani kenapa Kamu di sini?" Rendy menatap Lani curiga, tapi matanya tidak lepas dari Lani. Mahendra dan Sandy menatap Rendy. "Kalian saling kenal?" tanya Mahendra. "Ahh ini Saya di ajak Mas Ivan anak Om Andreas" Ivan bingung kenapa Lani tidak bilang kalau dia cucu Atmadja. Andreas mengkode dengan mata pada Ivan untuk mengikuti alur permainan. "Oh Iya, kenalin Saya Ivan" Ivan mengulurkan tangannya pada Rendy. Ia menatap Lani meminta penjelasan. "Ini atasan Aku di Kantor, Mas!" Lani mengenalkan Ivan pada Rendy. Ivan baru mengerti dia sempat mendengar Lani tidak mau langsung bekerja di Angkasa, Ia lebih memilih kerja di luar dulu tapi Ia baru tau kalau Lani bekerja di Andromeda tentu diterimanya Lani bekerja di situ bukan karena orang dalam tapi murni karena kemampuannya. Tidak sembarang orang bisa masuk di Andromeda. "Mas?" Rendy mengernyit, mengira Ivan adalah kekasih Lani karena kalau bukan orang spesial tidak bisa ikut acara ini. "Iya, Mas Ivan" Lani menegaskan tapi tidak tau maksud pertanyaan Rendy. "Sudah-sudah biar anak muda kumpul dengan anak muda" ucap Sandy kepada cucunya. Untung hanya satu cucu hartawan yang datang, seandainya Bayu juga datang pasti akan di cecar dengan banyak pertanyaan. Mereka duduk di sofa, Rendy masih menatap Lani terpesona tapi di tampakannya, apalagi Ia melihat Lani dengan seorang pria. Bukan memutuskan untuk berhenti bertaruh dengan Bayu tapi Ia swmakin penasaran dengan Lani. Rendy tidak ingat nama Lani memiliki tambahan Atmadja di belakangnya. "Mas Ivan, Lani ke toilet dulu ya, permisi Pak!" "Mau Aku antar?" tawar Ivan basa basi "Ga usah Mas" Lani berdiri menuju toilet, Ia sedikit gugup harus bertemu Rendy malam ini, tidak lama Rendy menyusul Lani ke toilet Ia menunggu Lani di depan toilet (niat banget yak! Haha). Lani merapikan kembali make up nya di cermin toilet 'Duh kenapa sih harus ketemu Rendy di sini semoga Rensy ga ingat nama belakang Gue' Lani sebenarnya sudah tahu kemungkinan akan bertemu dengan Rendy tapi tetap saja Ia gugup. Ia baru sadar kenapa Ivan ikut di sini rupanya sudah di perhitungkan oleh pamannya. Ia segera keluar dari toilet untuk kembali ke acara. Ketika Lani keluar toilet seseorang langsung mencekal tangannya dan mengurungnya dengan tangan kekarnya. Lani kaget begitu tahu Rendy yang melakukannya. Jarak mereka begitu dekat sehingga tercium parfum khas tubuh Rendy, Lani memejamkan matanya takut. Rendy menatap wanita di depannya intens. Pantas saja Bayu begitu tertarik sejak awal pada Lani, "Katakan kenapa Kamu mau bergabung di Andromeda?" Tanya Rendy mengintimidasi Lani, nafasnya terasa tenang berhembus di wajah Lani wangi mint Lani meresapinya. "Saya beneran hanya kerja, bahkan Saya ga tau kalau Pak Rendy mengenal Om Andreas" "Kamu bukan mata-mata?" tanya Rendy penuh selidik tanpa melepas tangannya dari tembok dan tangan kanan masih memegang lengan Lani. "Bukan Pak, untuk apa saya memata-matai Andromeda, bukannya hubungan Angkasa Jaya dan andromeda cukup akrab, untuk apa saya ambil keuntungan?" Lani membuka matanya berani sekarang mereka saling bertatapan. Rendy menghirup aroma strawberry dari rambut Lani. "Lantas apa hubungan Kamu dengan Ivan?" tanyanya penuh selidik. "tadi Saya bilang Dia Mas saya kan?" Lani menggigit bibirnya grogi. Ia tidak berbohong kan bagian ini, pamannya saja menganggap Ivan anaknya berarti Lani menganggap dia Masnya seperti Dariel. "Bukan pacar Kamu?" "Kalo pacar Saya bukan urusan Pak Rendy juga Kan?" Entah kenapa Rendy merasa kesal dengan jawaban Lani, jantung Lani sudah dag dig dug harus sedekat ini dengan Rendy, Ia melihat mata Rendy mulai mengabut jantung Lani serasa mau loncat mencium aroma tubuh dari bosnya entah keberanian darimana Rendy menempelkan bibirnya pada bibir Lani, Ia meraih tengkuk Lani membuat Lani membeku. Ia mendorong bahu Rendy tapi tenaga Rendy lebih kuat Ia tidak bergerak sama sekali. Rendy tidak memaksa Ia menggigit lembut bibir Lani, Lani merasa seperti ada kupu-kupu yang beterbangan dari perutnya Lani melepaskan gigitan bibirnya Ia membuka sedikit bibirnya memberikan akses pada Rendy sehingga mereka saling melumat satu sama lain, kalau saja Lani tidak kehabisan nafas Rendy tidak rela melepas b*b*r manis milik Lani. "Maaf! Sudah saya katakan jangan menggigit bibir Kamu di depan Saya, Kamu memancing Saya!" Rendy mengelap lembut bibir Lani dengan tangannya. Lani masih tetap menggigit bibirnya karena gugup. Ditempelkan bibirnya ke bibir Lani kembali "Jangan di gigit atau Saya akan gigit lagi" ancam Rendy mereka mengadukan kening mereka, tangan Rendy merangkul pinggang Lani sehingga tidak ada jarak, Lani merasakan sesuatu yang membesar di bawah sana. Lani merutuki kebodohannya semudah itu Ia memberikan ciuman pertamanya pada Rendy, bahkan pada Arka hubungan mereka hanya sebatas cium pipi tanpa bibir. ~ b e r s a m b u n g ~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN