"Maaf Lani!" Rendy menatap Lani sayu. Lani langsung pergi begitu saja meninggalkan Rendy sendiri. Rendy tidak mencegah kepergian Lani Ia masih sibuk dengan pikirannya setelah apa yang dilakukannya pada Lani.
"Om, Lani balik duluan ya, ga enak badan!" Lani menghampiri Andreas yang sedang mengobrol santai dengan relasinya. Andreas melihat seperti ada yang disembunyikan. Tapi Ia tidak bertanya frontal akan Ia tanya di rumah nanti, pasti malam ini Lani akan ke kediaman Atmadja.
"Ivan, tolong Kamu antar Lani balik!" Andreas sedikit berbisik pada Ivan. Gunawan masih sibuk dengan relasimya yang lain, Lani tidak sempat berpamitan biar Ia menunggu di rumahnya saja. Malam ini Ia akan pulang ke rumahnya yang di tinggali kakeknya juga.
"Ayo, Aku antar!" Lani menurut perintah Ivan tanpa banyak protes.
"Kenapa?" tanya Ivan di mobil. "..."Lani menoleh tidak menjawab pertanyaan Ivan "Its OK" Lani diam selama perjalanan, Ivan juga diam saja Ia memberikan waktu pada Lani untuk sendiri.
"Ke rumah Kakek ya Mas!" ujar Lani memecah keheningan, Lani merasa tidak enak mendiami Ivan dari tadi. Ivan memberhentikan mobilnya di minimarket yang mereka lewati.
"Sebentar ya!" Ia turun dari mobil meninggalkan Lani sendiri, kemudian kembali lagi dengan membawa satu kantong plastik di tangannya. "Ini!" Ia menyodorkan es krim cone rasa stroberi pada Lani. Lani mengambil es krim dari tangan Ivan.
"Makasih, Mas Ivan masih inget aja es krim favorit Aku" Lani membuka eskrimnya kemudian menikmati eskrim pemberian Ivan.
"Dengan senang hati" Pria berkulit sawo matang, dengan potongan tubuh yang sangat proporsional seperti atlit pesepak bola memang menarik tapi tidak di mata Lani. Baginya Ivan seperti Dariel dan kakak sepupunya yang lain. Tapi tidak bagi Ivan, di matanya Lani adalah seorang yang spesial ingin di genggam tapi takut tidak bisa meraihnya terlalu tinggi untuk di khayalkan bahkan meski sebagai pacar.
"Mas Ivan ga makan es krim?" tanya Lani sambil memakan eskrimnya.
"Ngga, Aku beli air mineral aja td di sana terlalu banyak makan manis" Jawab Ivan, Lani hanya tersenyum menanggapi Ivan melanjutkan kembali makan es krimnya otaknya masih memikirkan kejadian tadi, mau di taruh dimana mukanya besok di kantor. Lani menghembuskan nafasnya pelan.
"Ada yang bisa Kamu share?" Ucap Ivan memancing Lani agar bicara.
"Ada, nih Mas mau?" Lani menyodorkan es krimnya yang tinggal separuh, Ivan tertawa lalu menggelengkan kepalanya karena bukan itu yang Ivan maksud. Dulu ketika sepupunya Dariel menjahilinya Ia tidak sengaja merusak tugas prakarya yang Lani buat, Lani sangat sedih tidak berani marah pada Dariel. Dariel merasa bersalah tapi gengsi minta maaf Ia selalu merasa Lani merebut perhatian Papanya Andreas, jauh dalam hati Dariel sebenarnya menyayangi adik sepupunya itu. Tapi Ia gengsi menunjukannya, makanya saat itu Ia meminta Ivan membelikan es krim stroberi dan membantu Lani menyelesaikan tugas prakaryanya.
Flashback On
"Ka Dariel tugas prakarya Aku kenapa bisa rusak?" mata Lani berkaca-kaca melihat miniatur rumah kecil dari karton yang sudah Ia warnai luntur,
"Siapa suruh Kamu simpan di atas meja jadi kena tumpahan air kan" Dariel hanya melihat-lihat prakarya Lani Niatnya menjahili akan menggambar prakarya Lani dengan coret-coretan dia yang lebih bagus tapi Dariel tidak hati-hati setelah membuat gambar yang menurutnya lebih bagus malah tidak sengaja menumpahkan air di atasnya, alhasil semua gambar yang Dariel gambar ikut luntur bersama air.
"Lagian bikin kaya gini gampang, tinggal bikin lagi aja, cengeng!" Dariel meninggalkan Lani meratapi prakaryanya yang sudah hancur.
"Van, tolong Lo beliin es krim buat Lani dong, sama bantuin Dia bikin tugasnya" Dariel meminta Ivan yang saat itu sedang main di kamar Dariel.
"Lo jahilin Lani lagi?" "Engga, niat Gue tuh supaya hasil karyanya lebih bagus nngga jelek kaya yang dia buat, eh malah ga sengaja ketumpahan air, luntur deh!" Dariel menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Trus Lo yang ngerusak Gue yang benerin?" Ivan memutar bola mata jengah, kebiasaan Dariel tidak mau minta maaf pada Lani jika berbuat salah.
"Udah jangan berisik, mau bantu ngga?" Dariel berkata ketus pada Ivan.
"Kali ini Gue bantu, tapi tidak untuk lain kali, Lo haris berani ngakuin kesalahan Lo, lagian ngapain sih Lo harus iri sama Lani"
"Siapa yang iri? Emang karya dia jelek ko!" Dariel masih tetap keukeuh tidak mau mengakui kesalahannya, Ivan melempar bola basket kecil ke arah Dariel lalu meninggalkannya untuk membantu Lani.
"Udah jangan sedih, sini Mas Ivan bantuin biar lebih cepet, Kamu makan es krimnya dulu gih" Lani masih cemberut, Ivan membukakan eskrimnya lalu me garahkan pada mulut Lani, "aaaaa...." Lani tertawa ia merebut eskrim dari tangan Ivan dan memakannya.
"Makasih Mas Ivan, Mas Dariel tuh emang nyebelin banget" Lani menggigit eskrimnya membayangkan menggigit lengan Dariel sampai biru, tapi tidak berani Ia lakukan eskrimnya yang menjadi sasaran. Dariel mengintip dari atas kamarnya diam-diam Ia tersenyum melihat yang sedang Lani menggigit eskrim dengan wajah marah-marah hingga habis 4 bungkus es krim tau-tau tugas prakarya Lani sudah selesai dengan hasil yang lebih bagus,
"Gapapalah sekali-kali bulan karya sendiri, Kan Aku udah buat tapi di rusakin Dariel si4l4n" gumamnya sambil menimang-nimang hasil karya Ivan. "Makasih mas Ivan" ucapnya tulus pada Ivan, sekarang Lani sudah tidak cemberut lagi.
Lama kelamaan Ivan jadi tulus perhatian pada Lani bukan hanya karena suruhan Dariel. Tapi Ivan sudah tidak bisa menghibur Lani Ia harus melanjutkan kuliahnya ke Belanda, Ia hanya memastikan gadis itulewat sosial medianya saja. Itupun Ia tidak berani komen hanya memberi emoticon Love pada setiap postingannya.
Flashback Off
"Habisin buat Kamu aja!" mereka melanjutkan perjalanannya kembali menuju kediaman keluarga Atmadja.
Sesampainya di kediaman Lani mereka si sambut beberapa pengawal di gerbang rumahnya, Ivan menurunkan kaca mobilnya menyapa pengawal itu, mereka sangat mengenal Ivan karena Ia sering bolak balik ke kediaman Atmadja.
"Nona kecil!" ucapnya pada Lani yang tertidur di kursi penumpang. Gerbang di buka lebar oleh pegawal itu.
"Lani, sudah sampe bangun yu!" Ivan menepuk pipi Lani pelan. Lani menggeliat kecil bangun dari tidurnya.
"Udah sampe ya, maaf Lani ketiduran Mas!" Lani ini tipe cewek yang sangat gampang tertidur di perjalanan padahal jarak hotel dengan rumahnya hanya 38 menit kalau lancar tapi tetap saja Ia bisa tertidur pulas, tidur adalah bentuk usaha Lani untuk menenangkan pikirannya jika sedang galau atau sedih dulu saat ditinggalkan kedua orang tuanya Lani lebih sering menangis mengurung diri di kamar hingga tertidur pulas, Ia berharap dengan tidur bisa sedikit saja meringankan beban masalah di hatinya dan jika sudah bangun pikiran dia akan sedikit lebih fresh menurutnya.
Lani membuka pintu mobil dan menawari Ivan untuk mampir, tapi Ivan tidak mau karena harus kembali ke acara jamuan makan malam tadi, setelah memastikan Lani sudah masuk rumah Ivan baru pergi lagi.
Jika sebelumnya di gerbang utama ada 2 pengawal begitu pula di depan pintu utama ada pengawal yang stand by. Pengawal itu membungkukan tubuhnya dengan hormat pada Lani. Kediaman Lani terdiri dari tiga bangunan, bangunan utama yang sangat besar dan bertingkat dengan Enam kamar utama yang sangat luas memiliki kamar mandi di tiap-tiap kamarnya di sana tinggal keluarga Andreas dan Gunawan, istri Gunawan sudah lama meninggal saat Lani umur 8th.
Dulu keluarga Lani juga tinggal di situ, karena orangtua Lani sering keluar negeri jadi mereka tidak pindah rumah, alasannya biar Lani ada yang memerhatikan kalau sedang ditinggal ke luar kota atau ke luar negeri. Di belakang masih ada paviliun tempat bersantai atau kalau ada acara keluarga jika mereka menginap maka akan menggunakan paviliun yang satunya. Dan ada satu rumah khusus istirahat para pengawal dan pembantu lainnya. Kamar pembantu utama sendiri ada di bangunan Utama berjumlah dua kamar saja, karena mereka harus stand by jika mendadak dibutuhkan malam hari. Tapi hal itu sangat jarang di lakukan, karena kalau sudah malam mereka akan membiarkan pembantunya untuk beristirahat.
"Selamat malam Nona!"
"Malam" Lani membalas sapaan mereka dengan senyum simpul Pintu di buka oleh dua pengawal, Lani tidak melihat Dariel di ruang tengah, syukurlah Ia malas menghadapi keisengan Dariel sebab meskipun sekarang Ia sudah menjadi Dokter spesialias kandungan sama sekali tidak mengurangi tingkat keusilannya pada Lani.
"Lani sayang, kenapa sudah pulang? Acaranya kan belum kelar" Tante Dhian istri Andreas keluar dari dapur membawa sepiring cake kecil untuk dinikmatinya di ruang keluarga.
"Gapapa Tan, Lani ga enak badan mungkin kecapean kerja aja maklum biasanya Lani cuma kuliah aja, hehe" Dhian memandang kemenakannya dengan seksama lalu mengusap pucuk kepala Lani.
"Ya udah Kamu istirahat dulu ya Sayang, atau mau makan kue nanti Tante minta Bi Ina Siapin, Biii Ina"
"Ga usah Tante Lani mau ke kamar aja. Nanti kalau lapar Lani turun kok, tenang aja Tante ga usah khawatir, bye Tante" Lani mencium pipi Dhian lalu meninggalkannya, Dhian mengamati punggung Lani sampai Ia menghilang di balik pintu. Meskipun hanya keponakan Dhian sangat menyayangi Lani, bahkan tidak segan mengomeli Dariel jika Dariel menjahilinya. Dhian adalah seorang kepala Rumah Sakit yang ia kelola bersama Andreas, sekarang Dia bisa mengandalkan Dariel untuk membantu mengelola Rumah Sakitnya tapi masih didampingi Dhian, Ia belum percaya 100% jika harus melepas Dariel. Karena Dariel masih sangat labil.
###
Rendy kembali ke tempat acara, Ia mencari sosok yang tadi bersamanya tapi tidak ada. Ia ingin bertanya pada Andreas tapi sungkan.
"Hei Boy, sini duduk bareng!" Gunawan menepuk-nepuk sofa di sebelahnya, Ia ingin tahu pria yang menjadi atasan Lani di kantor. Rendy menurut duduk di samping Gunawan.
"Jadi Lani kerja di tempat Kamu?" tanya Gunawan pura-pura tidak tahu.
"Iya Kek, dia bawahan Saya tapi tidak secara langsung" Rendy memanggil Gunawan Kakek seperti Ia memanggil Sandy dengan sebutan Kakek. Rendy masih mencari keberadaan Lani yang tiba-tiba menghilang, Ia pasti marah karena telah lancang mencium Lani tadi. Tapi Rendy sangat menyukainya, manis.
"Cari Lani?" tanya Andreas, Rendy tidak menjawab tapi tidak juga mengelak.
"Dia tadi balik duluan di anter Ivan, ga enak badan katanya" Andreas menjelaskan kepergian Lani tanpa Rendy minta. Rendy tersenyum canggung, semoga Lani tidak mengadu pada Andreas, tapi ini bukan kesalahannya juga Lani juga tidak menolak meskipun awalnya menolak tapi akhirnya mereka sama-sama menikmati ciumannya. Andreas menyadari ada sesuatu antara Lani dan Rendy tapi Ia diam saja.
"Oh Iya Om!" Andreas tidak bertanya lagi pada Rendy. Melanjutkan kembali obrolan dengan kawan-kawannya, biarlah menjadi urusan anak muda.
Rendy menyalakan pancuran airnya, Ia mengingat kembali tadi Lani dengan gaun tadi sangat cantik dan memesona, Ia senyum sendiri membayangkannya baru kali ini Rendy bisa berpaling dari Rachel, selama ini Ia terlalu terpaku hanya pada Rachel tidak melihat sekitarnya. Rendy pikir Lani akan menamparnya setelah Ia memaksa Lani, tapi ternyata tidak membuat Rendy semakin penasaran pada Lani. Pasti akan mudah mendapatkan Lani, Rendy menyunggingkan senyumannya.
'Bayu Lo bakal Gue kalahin' ucapnya percaya diri.
Lalu bagaimana dengan Rachel? Jujur saja pikiran Rendy mulai bercabang bahkan Ia lupa untuk memberi kabar kekasihnya itu kalau Ia sudah sampai di rumah. Rendy meraih ponselnya Ia melihat ada banyak sekali panggilan di ponselnya sejak bersama Lani tadi. Sepertinya Rendy termakan omongannya sendiri, Ia mulai membuka hatinya selain Rachel.
"Ya Sayang, sory Aku tadi sibuk banget ponsel Aku silent. Ga enak sama para tetua kalau mainin ponsel" Rendy beralasan saat Rachel meneleponnya.
[Aku ga percaya, pasti alasan Kamu aja kan bilang sibuk] Biasanya rajukan ini akan membuat Rendy sangat senang karena merasa di butuhkan sebagai lelaki.
"Iya, Aku minta maaf yah" hanya itu saja yang di ucapkan Rendy tidak merayu Rachel seperti sebelumnya.
[Oke, Aku mau maafin Kamu asalkan Kamu beliin semua yang Aku mau] selalu saja seperti itu, jika sudah merajuk Rachel akan meminta Rendy menggelontorkan uangnya untuk semua permintaan Rachel dan dengan senang hati Ia menurutinya.
"Oke Beib, everything is for you, Udah dulu ya Aku di panggil papa Nih" Rendy berbohong padahal Ia hanya ingin menikmati waktunya sendirian. Rachel merasa sedikit aneh tapi Ia tidak peduli yang penting Rendy mau mengeluarkan uangnya sekarang.
~ b e r s a m b u n g ~