"Menganggu Bayu?" kata-kata itu terus terngiang di telinganya. Lani tidak terpengaruh akan intimidasi Sarah karena Lani sama sekali tidak menggoda Bayu lagipula kalaupun Lani menggodanya wajar saja Bayu single bukan milik Sarah. Lani mengedikan bahunya tidak peduli.
"Kenapa Lo di panggil Bos?" tanya Tisya kepo.
"Nanti istirahat Gue ceritain" Lani senyum penuh misteri menaik turunkan alisnya.
"Ihhh...Lani bikin penasaran deh, janji ya nanti siang cerita, awas kalo bohong!" Tisya mengancam Lani sambil menodongkan telunjuknya pada Lani. Lani menepuk tangan Tisya pelan.
"Ck, Iya, udah sana lanjut kerja nanti kena semprot Bos, ngomong-ngomong mana Anton?" tanya Lani tidak melihat Anton di mejanya.
"Lagi ke proyek Tangerang" jawab Tisya singkat.
"Oo..." Lani membulatkan bibirnya lalu melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Karena Sarah bicara tentang Bayu, Lani jadi teringat pria itu. Kira-kira sedang apa ya Bayu, ingin mengirim pesan tapi bingung memulai obrolan apa. Ya sudahlah, ngapain juga jadi mikirin Bayu cuma gara-gara Sarah.
Jam istirahat hampir tiba, Lani memode istirahatkan komputernya supaya tidak ada yang mensabotase pekerjaannya ketika Ia pergi, komputer dia menggunakan password jadi tidak sembarang orang bisa buka.
Tisya menggandeng tangan Lani begitu jam istirahat tiba, Ia menyeret Lani agar cepat-cepat sampai kantin.
"Gimana tadi di ruangan bos?" tanya Tisya tidak sabar
"Sabar Tisyaaa, Kita masih di jalan, jangan cerewet nanti bisa rame satu kantor!" Lani sedikit berbisik karena daritadi Tisya mengoceh terus. Tisya langsung menutup mulutnya.
"Sorry, abis Gue ga sabar dengernya" Mereka antri lift untuk menuju kantin basement, saat mengantri mereka berpapasan dengan Sarah, ia berdua dengan temannya. Sarah menatap Lani mengeluarkan aura permusuhan sementara Lani santai saja menghadapi Sarah, bahkan menganggap Sarah tidak ada.
Tinggg.... (pintu lift terbuka)
Sarah menyenggol bahu Lani mendahuluinya masuk Lift, saat Lani dan tisya masuk lift berbunyi tanda over load.
"Oops, overload, Gue rasa harus ada yang tau diri" Sarah menyindir Lani ketus.
"Heh, kalo Lo ngga senggol-senggol Lani udah pasti Kita duluan yang masuk" Tisya mengomeli Sarah di dalam lift, Tisya termasuk wanita yang tidak segan untuk marah kalau dia benar, menurutnya hal yang wajar jika berantem mempertahankan kebenaran.
Sarah memutar bola mata malas "Ada yang punya nyali sama Gue rupanya" ucap Sarah mendorong bahu Tisya dengan dua jarinya. Baru saja Tisya hendak membalas Lani segera menarik Tisya keluar.
"Jangan buang energi buat yang ga penting" Lani berkata datar menyindir Sarah. Sarah mengepalkan tangannya ingin mendorong Lani sampai ada satu suara yang menginterupsi mereka.
"Sampai kapan Kalian mau ribut? Kalian pikir orang-orang di sini hanya ingin mendengar kalian bertengkar?"
Lani menoleh ke arah sumber suara, seseorang yang mirip dengan Rendy hanya gayanya lebih santai.
"Pak Dewa?" Tisya mundur agak jauh dari lift. Sarah tercengang melihat Dewa, Ia adalah anak ke dua dari Mahendra Hartawan ayah Rendy. Ia memang tidak ikut mengurus Andromeda karena memiliki perusahaan sendiri di bidang makanan dan minuman yang cukup maju tapi belum semaju Andromeda. Namun untuk pendatang baru perusahaan Dewa Narendra Hartawan tergolong pesat perkembangannya.
"Pak Dewa!" Sarah keluar dari lift meninggalkan temannya. Lift pun tertutup dan membawa yang di dalamnya ke basement. "Pak Dewa mau ke ruangan Pak Rendy, mari Saya antar" lanjut Sarah cari muka dengan Dewa.
"Ga perlu, Saya bisa ke sana sendiri" Dewa tersenyum paksa "Kenapa Kamu keluar lift?bukannya tadi Kamu buru-buru sampe berebut lift"
Lani menahan ketawa tapi tidak dengan Tisya Ia tidak bisa menahannya.
"Hahaha, kasian ada yang ditolak!" Tisya berkata pelan tapi tetap terdengar Sarah, Sarah menatap tajam Tisya kali ini Ia tahan karena adak Pak Dewa.
Pintu lift terbuka lagi Lani dan Tisya segera masuk lift meninggalkan Dewa dan Sarah, Dewa mengekor di belakang Lani masuk ke Lift disusul Sarah. Lani menganggukan kepalanya pada Dewa ketika mereka bertatap wajah. Dewa tersenyum balik pada Lani.
"Auwww" Tisya mencubit lengan Lani "Sakit Tisya" Lani mengelus-elus tangannya melotot pada Tisya. Swmentara yang di pelototin nyengir tanpa dosa.
"Karyawan Baru?" tanya Dewa
"Iya Pak, Saya dari Marketing Engineer" Lani menjawab Dewa secara jelas padahal tidak di tanya. Untung saja Dewa tidak sejutek Rendy.
"Selamat bergabung di Andromeda Megatama" Dewa mengulurkan tangannya pada Lani untuk bersalaman. Lani menyambut uluran tangan Dewa.
"Makasih Pak Dewa" jawab Lani. Tisya hanya mupeng melihat adik dari Bosnya itu berjabatan tangan dengan Lani. Pintu Lift terbuka di lantai 8 Ruang Komisaris Utama, di sana adalah Ruangan Sandy Hartawan dan Mahendra Hartawan owner dari Andromeda.
"Senang bertemu dengan Siapa tadi namanya?" padahal Lani belum menyebutkan namanya dari tadi karena memang Dewa juga tidak bertanya.
"Saya Lani, Pak!"
"Ah ya Lani" Dewa mengedipkan matanya sebelah.
"Ga usah GR baru ditanya gitu aja sama Pak Dewa" Sarah berkata ketus ketika Dewa sudah keluar lift. Lani hanya melirik Sarah diam saja tidak menanggapinya. Merasa di cuekin Sarah semakin marah.
"Heh, Gue lagi ngomong sama Lo"
"Oh, sama Saya? Kirain sama siapa soalnya Nona ga sebut nama Saya barusan"
"Menurut Lo Gue ngomong sama tembok? Jelas-jelas Lo yang di ajak ngomong sama Pak Dewa" Sarah berkata sengit, Lani menggelengkan kepalanya enggan menanggapi Sarah.
"Saya tidak ada masalah dengan Nona, Nona sendiri yang mencari masalah" bertepatan dengan pintu lift di buka Lani meninggalkan Sarah yang melongo mendapat balasan dari Lani. Ia menghentakan kakinya lalu menghampiri temannya yang sudah duluan sampai kantin.
"Lani keren bangettt, cewek model dia memang harus digituin" Tisya bertepuk tangan salut pada Lani menghadapi Sarah, tidak barbar macam Sarah kepada Lani.
Mereka mengambil posisi di sudut yang masih kosong kemudian memesan makanan.
"Aku pesen capcay seafood minumnya lemon tea aja Mba" ucap Lani pada pelayan kantin
"Aku pesen nasi goreng spesial, minumnya ini aja, orange juice" Tisya menunjuk daftar menu.
"Baik Mba, ditunggu ya!" Pelayan kantin berlalu untuk memesankan makanan yang dipesan mereka.
"Jadi gimana?"
"Seperti yang Lo ceritain tadi pagi, Sarah ngelabrak Gue supaya ga deketin Bayu yanv Gue heran dia tau dari siapa?" Lani menyilangkan tangannya di atas meja kantin.
"Siapa ya? Bu Rachel mungkin" jawab Tisya, Ia mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ada notifikasi dari i********: Tisya.
Bayu Arkana Hermawan memposting cerita untuk pertama kalinya, jadilah orang pertama yang melihatnya. Isi notifikasi Intagramnya sperti itu. Tisya segera membukanya. Ia melotot melihat postingan Bayu.
"Oh My God! Lo harus lihat" Tisya menyodorkan hapenya pada Lani.
Kehilangan Jejak! caption di foto tersebut, sebuah foto wanita sedang duduk menatap sunset.
"Ini kan foto Gue kemarin di Bali" Lani menscroll menuju IG Bayu ada tiga fotonya di beranda Bayu.
"Pantes aja Sarah ngajak perang!" Tisya memelaskan wajahnya "Kayanya ga ada celah buat Gue nih, huhu"
"Sorry Tisya, Lo beneran suka sama Bayu yah? Gue gada apa-apa kok sama Bayu" Lani merasa tak enak hati pada Tisya.
"Santai aja Lani, selama janur kuning belum melengkung Gue ga akan pantang menyerah!' ucap Sarah menggebu-gebu "Yang penting Lo ga ada rasa sama Bayu" lanjutnya masih dengan wajah semangat.
"Saat ini sih belum! Ga tau nanti, ga janji" Lani menggoda Sarah.
"Ahhhh... Laniiii jaharaaa deh!" Tisya mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha.... Becanda Tisya!" pesanan mereka datang, mereka memakan makanannya sambil melanjutkan obrolan.
"Jadi tadi Gue dipanggil Pak Rendy karena Pak Rendy minta Gue ngejelasin lapiran yang Gue buat selama di Bali" Tisya mendengarkan omongan Lani serius sambil menyuapi makanannya tanpa menjeda ucapan Lani "terus Pak Rendy ngebatalin rencana Gue stay di Bali, ga lama setelah itu Bu Rachel datang, nahhh datangnya pas banget Gue lagi pegang tangan Pak Rendy, saking senengnya ga jadi stay di Bali Gue lompat narik-narik tangan Pak rendy"
"Lo mau stay di Bali?" Tisya terkejut, jarang-jarang ada staf bagian mereka yang stay khusus di satu proyek.
"Tadinya iya, tapi tiba-tiba batal"
"Hufttt, syukurlah!" Sarah mengelus dadanya pelan.
"Kenapa?" Lani bingung
"Kalau sampe Lo stay di Bali makin besar kemungkinan Lo jadian sama Bayu" jawab Tisya kemudian menyeruput minumannya
"Iya juga yah, harusnya Gue stay di sana aja!" Lani berkata sok serius. Lani tidak cerita pada Tisya kalau sebenarnya Lani sudah punya pacar, biar menjadi privacynya, toh Tisya juga tidak bsrtanya.
"Laniiiii........" Tisya mengguncang-guncangkan lengan Lani. "Kayanya Bayu beneran suka sama Lo deh Lani, ada foto Kamu di sana aja udah jadi bukti pantes Sarah kepanasan!"
"Entah, fotonya juga di ambil kapan Gue ga tau, kayanya candid" Lani mengerutkan keningnya seingat dia memang tidak melihat Bayu mengambil gambarnya. Lani ingin menegur Bayu karena walau bagaimanapun Dua masih menjadi kekasih Arka, ia tidak ingin Arka salah paham, tapi Arka dan Bayu juga tidak kenal kemungkinan tau satu sama lain juga kecil, mode IG Bayu di personalisasi jadi tidak sembarang orang bisa melihatnya. Termasuk Lani karena memang Ia tidak memfollow IG Bayu.
###
Lani sudah sampai di kostan, Ia membaringkan tubuhnya di kasur sambil bertukar pesan dengan Arka. Sebuah panggilan masuk ke ponselnya dari Gunawan Atmadja.
"Kakekkk, Lani kangen!" Sudah hampir dua minggu lebih Lani tidak mengunjungi Gunawan karena kesibukannya.
[Cucu Kakek betah jauh dari Kakek ya]
"Maaf Kek, Lani belum sempat pulang ke rumah, sibuk banget"
"Hm, Kamu jaga kesehatan gimana selama Kamu di Andromeda ada yang usil sama Kamu?"
"Aman Kek, tenang aja Lani bisa ngehandel kalau ada yang ganggu Lani"
[Kalau sampai ada yang berani sama cucu Kakek, biar nanti Kakek bilang Sandy supaya di pecat!]
"Duhhh, jangan donk Kek, Kakek jangan bilang sama Kakek Sandy ya kalau Lani kerja diperusahaannya" Sandy Hartawan dan Gunawan berteman akrab karena sama-sama pebisnis, Lani pernah di ajak bertemu Kakek Sandy ketika masih SMP, saat itu orangtua Lani masih hidup mereka biasa mengadakan acara pertemuan keluarga para pebisnis untuk mempererat hubungan.
Terakhir bertemu lagi ketika Lani masih kuliah semester tiga. Ia belum mengenal cucu dari Kakek Sandy, hanya satu ada anak yang cukup nakal saat itu senang mengganggu Lani saat Ia masih SD tapi Lani tidak tahu namanya. Bisa saja Rendy, Dewa, Bayu atau bukan ketiganya.
[Tergantung!]
"Jangan donk, plisss!!! Lani mau orang-orang di sini kenal sebagai karyawan biasa bukan cucu Kakek, biar kita tau mana yang tulus dan modus"
[Iya, Kakek percaya cucu Kakek bisa di andalkan, tapi ingat jangan lebih dari dua tahun dan Kamu harus bisa nunjukin Kamu mampu, jangan membuat-malu Atmadja] pesan Gunawan
"Siap Kakek sayang!"Lani tersenyum senang,
[Oh Ya, Kamu jangan lupa weekend ini kita ada acara jamuan para pebisnis, Kakek minta Kamu haru datang]
"Harus banget ya Kek? Nanti ada yang kenal Lani gimana?"
[Pokoknya harus, Kakek ga mau tau, nanti Kakek ga akan bilang Kamu cucu Kakek]
"Janji ya Kek!"
[Iya, Kakek ga janji] Gunawan sangat senang menggoda cucunya, mengapa harus Lani yang menjadi CEO di perusahaannya kaeena saham yang dimiliki orang tua Lani lebih besar dibanding saham paman Lani, paman Lani juga memiliki rumah sakit swasta yang ia kelola bersama Istrinya jadi setelah Lani siap menjabat CEO di Angkasa Jaya, pamannya akan fokus di rumah sakitnya. Lani sangat beruntung memiliki keluarga Atmadja yang sangat menyayanginya tulus dan menemani Lani saat Lani rapuh.
"Kakekkkk...." Lani merajuk karena di goda kakeknya.
[Hahaha, pokoknya Kamu harus datang] Gunawan sangat senang cucunya kini sudah dewasa tapi masih tetap manja padanya.
~ b e r s a m b u n g ~
Mohon maaf author lagi malas bahas Arka, jadi jarang menyempilkan kegiatan Lani-Arka, haha