"Beberapa Orang akan menusukmu dari belakang, kemudian bertanya kenapa Kamu berdarah?" anonim
Lani mengekor langkah Bayu sambil merenung tentang bosnya dan Rachel, Lani menarik tangan Bayu yang masih digenggam,
"Pak Bayu!" Bayu berhenti dan menoleh.
"Ya" Lani melihat tangannya yang masih dalam genggaman Bayu. Bayu mengikuti tatapan mata Lani dan baru sadar kalau sedari tadi Ia menggenggam tangan Lani.
"Oh, sorry Lani, kelamaan gandeng kayanya" ucapnya tersenyum lebar tanpa merasa bersalah, karena Bayu tersenyum lebar Lani tidak mengambil hati perlakuan Bayu, Ia membalas senyuman Bayu ingin sekali Ia bicara tentang Rachel dan Alex pada Bayu tapi ragu.
"Gapapa!" Ia menyelipkan anak rambutnya, "Lapar, hehe" duh kenapa sih malah ini yang keluar dari mulut gue, bikin malu aja kan tadi abis makan.
"Lapar lagi?"
"Eh itu maksudnya haus" Lani meralat ucapannya. Bayu malah meninggalkan Lani sendiri di pinggir kolam renang. Lani mengerucutkan bibirnya bingung, malah di tinggal pergi, ucapnya dalam hati. ya sudahlah. ketika akan melangkah ke dalam mau ambil minum, Bayu datang dengan dua gelas minuman ditangannya.
"Lecy squash!suka?" Ia menyodorkan gelas satunya ke Lani, rupanya tadi Bayu mengambil minuman untuk mereka, Lani merasa tidak enak pada Bayu.
"Makasih Pak Bayu! ngerepotin, Saya peminum segala kok"
"Its Ok, tadi kan Saya minum minuman Kamu, apa tadi yang Saya minum?"
"Kunyit asem" ucap Lani tersenyum lebar karena Bayu meminum minuman khusus wanita tersebut.
"Ya itu, maaf tadi ga ada kunyit asem di sana, jadi saya ganti Lechy squash karena sama-sama asem" Bayu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mereka pun tertawa mengingat kekonyolan Bayu barusan.
Lani duduk dipinggir kolam renang menurunkan kakinya bermain air. Cuaca malam ini sangat cerah, mereka dapat melihat jelas langit malam yang dihiasi bintang-bintang dari sini. Bayu menggulung celananya dan melepas sepatunya ikut duduk disamping Lani.
"Bagus ya langitnya" Kali ini Bayu yang duluan memuji mahakarya Sang Pencipta alam semesta
"Iya Bagus banget" jawab Lani seraya menghirup udara malam yang bebas polusi seperti di jakarta.
"Bukan saya kan yang bagus?" Goda Bayu menaik turunkan alisnya.
"Ahaha... kalo Pak Bayu ini ganteng" Lani memberikan jempol lentiknya ke arah Bayu.
"Makasih pujiannya, Saya seneng loh dipuji Kamu" Bayu tersenyum menyipitkan matanya sama sekali tidak mengurangi ketampanannya.
"Saya lagi ga ngegombal Pak"
"Emang siapa yang bilang Kamu gombal?" Bayu bertanya balik hanya di jawab kedikan bahu oleh Lani.
"Pak Bayu segitunya ga suka sama Rachel?" ucap Lani mengalihkan perhatian, Ia menggoyang-goyangkan gelas yang isinya tinggal setengahnya.
"Saya ga suka karena Dia terlalu memanfaatkan Rendy" jawab Bayu masih dengan menatap langit lalu beralih menatap Lani.
"Kenapa Pak Bayu ga cerita kalo Rachel pernah berniat menggoda bapak?" Lani melihat Bayu dengan jarak sedekat ini semakin jelas pahatan dewa yunani tergambar di wajahnya ternyata jika dilihat sedekat ini Bayu memiliki warna iris mata yang hitam pekat sangat kontras dengan bola mata yg sangat putih jernih.
"Jangan bilang Kamu tertarik sama bos Kamu itu?" pertanyaan Bayu menyadarkan lamunan Lani.
"Eh? Saya tertarik dengan Pak Rendy? engga lah Pak" Ucap Lani sedikit grogi karena kepergok ngeliatin Bayu dan mengalihkan pandangannya kembali ke gelas. Salah satu sudut bibir Bayu tertarik ke atas.
"Baguslah!" Bayu manggut-manggut. Lani sadar kalau Dia hanya bawahan Rendy, yang Ia pikirkan sekarang bagaimana menyampaikan hal ini pada Rendy, terus Rendy percaya atau ngga sama Lani kalau dia ngomong. Makanya Ia memutuskan bicara dengan Bayu supaya dapat dukungan atau masukan, Ia tidak mau gegabah dalam hal ini.
Bayu sedikit tertarik dengan Lani, tapi Ia juga tidak langsung menarik kesimpulan kalau dia jatuh cinta pada Lani, Ia nyaman bersama Lani walau masih baru bertemu, ada sedikit perasaan ingin menempel Lani terus, tapi tidak terlalu menampakan juga biar saja mengalir apa adanya.
"Pak Bayu, kalau Saya cerita sesuatu Pak Bayu percaya ngga?"
"Tergantung cerita apa, kalo Kamu bilang jatuh cinta sama Saya oada pandangan pertama tentu Saya ngga percaya" ucapnya percaya diri, Bayu menyugar rambutnya ke belakang.
"Ck, PD banget sih kaya Rachel aja" Lani tertawa lepas mendengar ucapan Bayu yang terdengar lucu baginya, sama sekali tidak mengambil hati ucapan Bayu.
"Haha, emang Kamu mau cerita apa?" Bayu mengangkat kakinya dari kolam renang lalu berdiri "Pindah yuk!, nanti masuk angin kelamaan main air" Ia berjalan duduk di kursi panjang yang biasa di pakai berjemur kalau pagi hari.
Lagi-lagi Lani mengekor dan duduk di kursi sebelah Bayu "Saya baru ingat kalo pernah ketemu Rachel" Lani menjeda ucapannya "sama Alex"
Mendengar nama Alex, Bayu memposisikan dirinya menghadap Lani "Alex?" Ia mengerutkan keningnya. Lani mengangguk.
"Salah satu vendor perusahaan Andromeda Megatama" Lani memperjelas ucapannya. Bayu mengerutkan keningnya menatap serius ke arah Lani.
"Pak Bayu ingat insiden waktu Saya hampir menabrak mobil Pak Bayu?"
"...." Bayu mengangguk
"Sebenernya saat itu Saya habis ribut sama cewek, mobil cowoknya ngehalangin jalan motor saya waktu diminimarket"
"Terus apa hubungannya sama Rachel dan Alex?"
"Ya mereka berdua...."
"Bay, Gue cariin malah mojok di sini" Sebuah suara menghentikan obrolan Lani dan Bayu. Lagi-lagi Rendy yang datang, bosnya satu ini sering muncul tiba-tiba kaya jelangkung.
"Ngapain sih Lo nyariin Gue? ganggu aja!" ucap Bayu ketus.
"Lo bawa anak buah Gue, jangan sampe dia mangkir dari jobnya gara-gara berduaan sama Lo" ucap Rendy tak kalah ketus. Lani merasa tak enak, tapi seharusnya ini diperbolehkan karena kan bukan lagi jam kerja. Karena kedatangan Rendy, Lani mengurungkan niatnya untuk bicara pada Bayu.
"Tenang Ren, Gue rasa Lani cukup profesional, lagipula udah bukan jam kerja kan?" Bayu membela Lani karena dia yang tadi sudah menarik Lani untuk ikut bersamanya "Lo juga kan tadi masih sama cewek Lo"
"Lani masih punya tugas yang harus dikirim malam ini, Kamu Lani, mana tugas yang tadi saya minta" Rendy seakan tak mau kalah dengan sepupunya itu, Ia tidak suka Bayu terlalu dekat dengan Lani khawatir Lani akan besar kepala. walau bagaimanapun Bayu dan Rendy sepupuan.
"Baik Pak, kalo gitu saya ke kamar duluan Pak Bayu, makasih udah nemenin ngobrol, mari Pak Rendy" Lani menganggukan kepalanya dan berlalu dari hadapan mereka.
"Lani obrolan Kita tadi belom kelar" Bayu sedikit teriak ke arah Lani.
"Ngobrolin apa Kalian?" tanya Rendy ingin tahu.
"Mau tau? rahasia" ucap Bayu sok misterius, Ia kesal karena kedatangan Rendy mengganggu mereka berdua.
"Lain kali saja Pak" Lani membungkukan kepalanya tidak menjawab pertanyaan Bosnya tidak mungkin Lani memberi tahu bosnya sekarang, yang ada dia akan dianggap cari perhatian.
Lani berjalan tergesa menuju kamarnya, tiba-tiba Ia sekilas melihat Rachel dengan seseorang berjalan menuju keluar hotel. Ia penasaran ingin mengikuti kemana dan dengan siapa Rachel pergi, jiwa detektifnya ingin mencari tahu tapi Ia juga sedang ditunggu bosnya untuk menyerahkan hasil rapat tadi.
Lani bimbang, akhirnya Ia putuskan untuk kembali ke kamarnya saja takut Rendy akan marah-marah lagi padanya. Nanti saja Ia akan cari tahu, pikirnya.
Sesampainya di unitnya, Lani duduk di meja kerja yang memang tersedia di dalam kamarnya. Jika bisa digambarkan kamar yang Ia tempati ini sangat lengkap fasilitasnya, ada kasur King Size sengan sprei berwarna putih tulang, meja rias di samping kasur, kamar mandi dengan bath tub yang diberi aroma terapi di dalamnya dan meja kerja yang menghadap ke arah jendela tidak terlalu besar tapi cukup untuk menaruh laptop dan berkas-berkasnya, sepertinya memang disetting untuk tamu yang datang karena ada kunjungan kerja.
Lani membuka tirai jendelanya agar bisa langsung melihat pemandangan di luar. Lani melihat dua orang sedang mengobrol mesra cukup dekat dengan kamarnya. Ia memicingkan matanya, baju yang dipakai persis dengan baju yang digunakan Rachel tadi.
Ternyata tidak perlu repot-repot Lani mengikuti Rachel Ia malah disuguhkan pemandangan yang luar biasa, tidak mungkin itu Rendy karena setau Lani Ia sedang bersama Bayu. Ia mengambil satu gambar dengan kameranya jaga-jaga sebagai barang bukti nantinya. Ia menutup kembali tirainya takut Rachel melihatnya dan melanjutkan pekerjaannya kembali.