11. Intimidasi Sarah (1)

1176 Kata
"Laniiiiiii...... Apakabar? Long time no see!" Anton berdiri menyambut Lani ingin memeluknya. Lani mengelak dengan rangkulan dadakan Anton, langsung duduk di kursinya. Anton masih berdiri dengan merentangkan kedua tangannya di udara, karena tidak dapat sambutan Ia langsung berputar-putar layaknya orang berdansa. Lani tertawa melihat tingkah Anton. "Lani jahat banget sih, orang kangen juga malah dicuekin" Anton pura-pura merajuk. Lani hanya geleng-geleng lihat kelakuan Anton. "Buat Mas Anton" ia menyerahkan paper bag oleh-oleh untuk Anton. "Mau nyogok ya? Aku masih marah loh sama Kamu" "Jadi ga mau? Ya udah buat yang lain aja" Saat Lani akan menarik tangannya Anton dengan cekatan mengambil paper bag tersebut dan menyimpannya di kolong meja. "No, Honey, barang yang sudah di beri ke orang lain, pantang di ambil lagi" ucap Anton lembut dan dalam. "Makanya jangan suka ngambek" Lani mengeluarkan paper bagnya yang lain khusus untuk teman satu divisinya. Salah satu rekan yang baru datang Lani ikut bergabung "Tisya, Kamu ambil aja yang Kamu suka ya, kalo Anton kan cowok jadi Dia aku beliin underware" Ucap Lani Jahil "Wowww, Kamu pesen daleman buat Aku? Calon istri idaman, nanti kekecilan gimana, emang Kamu tau size junior Aku" Anton bertanya antusias saat mendengar yang dibeli oleh Lani dalaman pria. Lani melempar pulpen ke arah Anton. "Ya ngga lah, Aku ngarang masa Aku beli daleman buat Mas Anton, buka aja sendiri" Salah Lani sendiri becanda mesvm pada Anton. Niat hati ingin bercanda malah ditanggapi serius. "Gimana di sana? Asyik dong bisa liburan bareng Bos" Karena jam masuk kerja masih 30 menit lagi mereka ngobrol di meja Lani. "Lumayan sih, tapi si Bos itu ngeselin abis, moody, bentar-bentar marah, bentar-bentar diam" "Pak Rendy?" tanya Tisya "Iya siapa lagi bos kita yang ikut ke Bali" "Ya kali aja Pak Darma yang Kamu maksud" ucap Tisya "Ngga, Pak Darma baik kok, untung di sana ada Pak Bayu sepupu Rendy, jadi ga terlalu berasa horornya" Lani baru ingat Ia memang belum berhubungan lagi dengan Bayu sepulang dari Bali, lagipula untuk apa hubungan mereka sebatas teman saja, kalo Lani kirim pesan duluan takut di sangka berlebihan. "Whattt? Kamu jalan bareng sama Pak Bayu sepupunya Pak Rendy?" Tisya mengencangkan suaranya karena mendengar nama Bayu di sebut. Kantor yang mulai ramai memandang Tisya yang meneriakan nama Bayu kencang sekali. "Sssttt, jangan kenceng-kenceng, norak banget deh!" Lani menutup mulu Tisya dengan cepat, Tisya berusaha menarik tangan Lani yang membungkam mulutnya, Ia tersenyum lebar.setelah berhasil melepasnya. "Sorry keceplosan, hihi, ya Ampun Laniii Kamu beruntung banget bisa jalan sama Pak Bayu, Aku dari dulu udah sok-sok ramah sama Dia boro-boro di ajak jalan, di sapa aja cuma jawab sekedarnya" Tisya mengerucutkan bibirnya yang seksi. Tisya rekan sekantor Lani satu divisi memiliki wajah yang ayu, kulit sawo matang rambut ikal di bawah bahu, dia termasuk teman kerja Lani yang tidak terlalu banyak tingkah tapi kalau soal berita-berita yang lagi hot dia ratunya. "Lani jalan sama Pak Bayu?" Anton memutar kursinya menghadap Lani. "....." Lani mengangguk "Ngga niat jalan bareng sih, cuma Pak Bayu aja yang tau-tau nemenin gitu" "Aku patah hati" Ucap Anton dengan wajah di buat semelas-melasnya. "Apa deh Mas Anton, Lebayyy" Lani memutar bola mata malas. "Tapi Kamu harus hati-hati loh Lani kalau dekat sama Pak Bayu, yang Aku tau nih sekretaris Pak Rendy itu udah lama ngincer Pak Bayu, frontal malah" Tisya mengecilkan suaranya ketika membicarakan Sekretarisnya Rendy "Oh ya? kata siapa?" Wajah Lani berubah menjadi serius. "Dulu pernah ada anak magang yang di tolong Pak Bayu, terus langsung di labrak gitu sama dia" "Sampe segitunya? Sadis!" Lani menggeleng-gelengkan kepalanya. "Iya, makanya Kamu harus hati-hati sama sekretarisnya Pak Rendy, Dia itu juga mata-mata Rachel pacarnya bos Kita" "Wow, Kamu tau banget gosip-gosip kaya gitu dari siapa sih? Eh kemarin pacarnya Pak Rendy nyusul loh ke Bali" "Udah ga asing lagi berita kaya gitu, apalagi Kamu ikut ga mungkin Dia ga nyusul, Dia takut Pak Rendy berpaling dari dia" Jelas Tisya panjang kali lebar, gosip-gosip di perusahaan Andromeda Tisya sudah hapal di luar kepala. Dia yang paling banyak kawannya di semua divisi, karena memang pembawaannya yang supel di tambah Tisya juga good looking, jadi banyak yang mau berteman dengannya. "Eh btw, makasih ya oleh-olehnya" sambung Tisya "Jarang-jarang loh ada anak baru yang mau bawa oleh-oleh segini banyaknya, apalagi Kamu kan belum terima gaji" "Ga pa pa, Aku juga kan masih ada tabungan dari kerjaan sampingan Aku" Ucap Lani, mereka tidak tahu kalau sekedar belanjaan receh gitu ngga seberapa di banding kekayaan yang Lani miliki, makanya Lani lebih memilih menggunakan busway ketimbang bawa mobil sendiri supaya bisa berbaur dengan yang lain. Ruangan mendadak hening, wangi maskulin yang beberapa hari ini begitu familiar tercium di hidungnya. Lani memejamkan mata menghirup aromanya dalam-dalam sangat menenangkan. "Lani!" Anton memanggilnya pelan. Lani membuka matanya "Ya" "Ngapain Kamu merem-merem gitu?" Anton tertawa pelan. Rendy baru saja tiba, Tisya segera memutar kursinya kembali ke mejanya denhan gerakan cepa. Sebenarnya ga masalah sih toh sekarang juga masih jam 8 kurang jadi kalau masih ngobrol ga korupsi waktu juga. Tapi daripada kena semprot Rendy anak-anak lebih memilih cari aman. Lani tersenyum kikuk pada Rendy karena Rendy menoleh padanya, tapi Rendy hanya membalasnya dengan senyuman datarnya. Senyum Lani langsung hilang mendapat sambutan dingin dari bosnya. "Aneh!" gumamnya. "Apanya yang aneh?" Anton menoleh pada Lani. "Pak Rendy yang aneh" ucap Lani, Anton menahan tawa mendengar ucapan Lani. Ia sudah hapal betul dengan bos mereka, jadi menurut Anton ngga aneh. "Si Bos emang begitu mukanya" Anton melambaikan tangannya di depan wajah Lani "ga usah dipikirin". Lani belum berbicara pada teman-temannya mengenai penempatan dia yang akan di tugaskan di Bali. Mungkin atasan langsungnya Bu Selly sudah tau, tapi Dia belum memanggil Lani. Kring kring suara telpon di ruang mereka berbunyi. Anton yang paling dekat dengan telpon mengangkatnya. "Baik Pak!" jawab Anton menjawab telpon di seberang."Di panggil bos tuh" "Aku?" Anton tidak menjawab hanya mengangguk. Kira-kira apa yang akan di bicarakan Rendy dengan Lani ya. Lani bangun dari duduknya kemudian berjalan menuju ruangan yang paling besar di kantor itu, jika ke ruangan Rendy Ia akan melewati kaca besar sebagai tanda Ia akan sampai d ruangan orang No 1 di perusahaan, Lani berhenti sebentar menghadap kaca merapikan bajunya. "Permisi Nona Sarah, tadi Pak Rendy panggil Saya" Wanita berbaju seksi itu menghentikan pekerjaannya, Ia melihat Lani dari atas sampai bawah. "Sebentar" jawabnya kurang bersahabat. Sarah berjalan anggun sangat mencerminkan sekretaris profesional, Ia mengetuk pintu ruang terbesar di gedung ini. Tok tok tok. Suara ketukan pintu "Masuk" terdengar suara berat dan berwibawa dari dalam ruangan. Sarah masuk kemudian menutup pintu dari dalam. (Di dalam ruangan) Seorang Pria mengenakan jas berwarna navy duduk di balik meja sedang serius memeriksa berkas-berkas. Dokumen yang Ia tinggalkan selama tiga hari sudah menumpuk di mejanya. "Ada yang mencari Pak Rendy di luar, bagian marketing engineer" Ucap Sarah. "Ah, ya Saya yang panggil Dia, suruh masuk!" "Baik Pak" Sarah membukakan pintu untuk Lani san meyuruhnya masuk sesuai perintah. Lani berjalan ke meja Rendy dan berdiri tepat di depannya. "Bapak panggil Saya?"Pria yang di ajak bicara itu mendongakan kepalanya sebentar. "Duduk!" perintahnya tanpa menjawab pertanyaan Lani. ~ B e r s a m b u n g ~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN