10. Rendy Memulai Misi

1404 Kata
".." Rendy hanya membalas Bayu dengan senyum yang datar. Damar dan Bayu berpandangan melihat tingkah Rendy, mereka tersenyum satu sama lain. Mereka tiba di Bandara Ngurah Rai pukul 08 lewat, Lani masih tertidur ketika sampai Bandara. "Bangun!" Rendy ,menyenggol lengan Lani dengan sikutnya. Lani mengerjapkan matanya dan menguap, ia menutup mulutnya dengan tangan kanannya. "Udah sampe ya?" tanya Lani tanpa dosa. "Kamu ini sepertinya gampang banget tidur" Rendy berkata sinis pada Lani. Lani tidak menjawab hanya tersenyum kecut, siapa suruh di anggurin, tadi katanya mau ngobrolin kerjaan ditunggu-tunggu malah sibuk sendiri, sampe Lani ketiduran. "Iyalah capek, kan tadi abis keliling sama Gue" Bayu menatap mengejek Rendy. "Ayo turun, masih betah di sini nih?" Lani turun dari mobil dan berdiri di samping mobil. Bayu mengambil alih koper yang di bawa Lani. "Eh, ga usah Pak Bayu, biar Aku aja" adegan tarik menarik antara Bayu dan Lani membuat Rendy jengah. "Bawa koper aja ribet" Rendy berkata sinis pada Lani dan melewati mereka, Lani cemberut mendapat sindiran dari Rendy. "Kenapa sih Dia? kaya cewek lagi PMS aja" Lani menggerutu pelan, Bayu mendengar ucapan Lani dan menahan tawanya.  "Kalo ngegerutu jangan keras-keras, Saya masih denger apa yang Kamu katakan tadi" Rendy berkata cukup keras di depan Lani. "Udah jangan di dengerin, selama bukan masalah pekerjaan jangan Kamu ambil hati ya" Bayu mencoba menghibur Lani. "..." Lani tersenyum mendapat pembelaan dari Bayu "Makasih Pak Bayu" "Its Oke" Bayu mengacak-acak pucuk kepala Lani gemas, Lani merapikan kembali rambutnya yang acak-acakan Ia meniup poni barunya dengan mulutnya. Bayu tertawa gemas ingin sekali menggigit pipi Lani, kalau ingin di pukul Lani. "Hati-hati ya, nanti Aku main ke Jakarta, Kamu jadi kan stay di Bali?" Tanya Bayu "Pak Bayu tau rencana Saya di taruh di sini?" "Iya, Saya yang cerita" Damar menyela obrolan mereka, Lani menatap Pak Damar penuh harap, Ia menggeleng pelan tanda tidak berhasil merayu Rendy agar Lani tidak terjun langsung di Proyek Bali. "Huffttt..." Lani menggigit bibirnya, tidak mungkin juga dia langsung resign sebab Ia terikat kontrak selama setahun, Gunawan Kakek Lani menyetujui Lani bekerja di luar dengan syarat harus tetap di Jakarta. Sebenarnya Lani bisa saja membayar pinalti kalau dia harus resign dari Andromeda Megatama, tapi pasti akan diragukan profesionalitasnya. Rendy daritadi hanya diam saja menyimak obrolan mereka, Ia tidak mau di anggap lemah karena membatalkan keputusannya sendiri di depan mereka. Apalagi Bayu dengan terang-terangan sudah menantangnya menaklukan Lani. "Sampe sini aja ya nganternya, Saya tunggu Kamu di Bali" Ucap Bayu menatap Rendy dengan menantang, Ia ingin tahu apa Bayu langsung membatalkan rencananya sekarang juga atau tidak, tapi bukan Rendy kalau dia harus kalah begitu saja. Ia tetap diam menatap Lani dan Bayu datar. "Oke, makasih Pak Bayu udah mau nganterin sampe bandara" Darma menjabat tangan Bayu. "Sama-sama Pak Darma" "Makasih juga ya Pak Bayu, udah nemenin jalan selama di Bali" Lani mengulurkan tangannya pada Bayu, disambut senyuman manis Bayu yang membuat cewek-cewek rela antri jadi pacarnya, kecuali Lani untuk saat ini Ia masih terpaku oleh Arka. Mereka sudah masuk pesawat dengan posisi sama saat berangkat ke Bali. Lani memasang headphonenya mendengarkan musik, Ia mengeluarkan mankanan ringan springle potatoes yang Ia beli di Bandara. "Mau Pak?" basa-basi Ia menyodorkan makanannya pada Rendy. Rendy menoleh lalu mengambil semua makanannya termasuk tempatnya, Lani bengong melihat bosnya mengambil semua makanannya, tapi Ia tidak berkomentar, "Baiklah" Gumamnya pelan kemudian mengambil cemilan ringannya yang lain. Rendy menoleh melihat Lani,  "Saya mau yang itu" tanpa basa-basi Ia mengambil makanan yang ada di tangan Lani, lalu mengembalikan makanan yang tadi pada Lani. "Nih!" "Oo..Oke" Gumam Lani mengambil keripik tadi dan memasukannya ke mulutnya. "Kalo makan jangan belepotan, nih!" Rendy menyodorkan tissue pada Lani, Lani merasa heran melihat tingkah bosnya yang jadi aneh. Ia mengambil tissue nya kemudian menyeka bibirnya yang berantakan. "Makasih Pak!" Jawab Lani sambil menganggukan kepalanya. "Kamu jangan GR, Saya ga mau malu aja punya bawahan yang berantakan, makanya Saya kasih tissue" Rendy menjelaskan alasannya padahal Lani sama sekali tidak bertanya, Ia menatap Rendy lalu menyunggingkan senyuman sehingga menampakan lesung pipinya. "Iya Saya tau Pak" Jawab Lani lalu melanjutkan makannya kembali, merasa dicuekin Lani Rendy mencari-cari cara untuk menarik perhatian Lani, ada saja yang Ia minta pada Lani. seperti saat Lani membuka botol minuman ringannya. "Kamu cuma bawa satu? Buat Saya mana?"  "Eh, Pak Rendy mau? cuma ada satu, tapi gapapa buat Pak Rendy aja, nanti Saya minum air mineral" Ia menyodorkan botol minumannya pada Rendy, Rendy mengambilnya lalu meneguk hingga tersisa setengahnya. "Nih, Saya cuma minum setengah" Lani menoleh lagi-lagi ada saja tingkah bosnya yang galak ini menjadi aneh "Saya minum ini?"  "Kenapa? Kamu jijik minum bekas Saya?" Jawab Rendy galak. Lani mengerutkan keningnya, Pak Rendy kesambet apaan sih jadi aneh gini. "Udah minum!" perintah Rendy galak, Lani masih bengong mencerna ucapan Rendy. "Gapapa Pak, ini buat Pak Rendy aja Saya minum air mineral aja" "Jadi Kamu tetep ga mau?Kamu kira Saya punya penyakit menular?"  'Apalah ini  Pak Rendy perihal minum aja dia lebay banget', Lani menggerutu dalam hati, 'masa Gue harus minum bekas dia' Kali ini ga kedengeran ya guys gerutuan Lani, belajar dari pengalaman. "Kalau Kamu ga mau minum akan Saya perpanjang tugas Kamu di Bali" ucap Rendy, tuh kan cuma karena Lani ga mau minum aja sampe bawa-bawa kerjaan, aneh kan. "Ko gitu sih Pak? masa karena Saya ga mau minum bekas Bapak jadi merembet ke kerjaan" protes Lani. "Saya ini atasan Kamu, jadi Kamu harus nurut sama Saya selama masih bertugas" Rendy mencari-cari alasan saja, sebenernya Ia ingin ngobrol dengan Lani tapi terlalu gengsi kalau harus beramah tamah dengan Lani duluan, apalagi Lani kelihatan tidak seperti wanita pada umumnya yang justru rela dengan senang hati mengajak tidur Rendy tanpa Rendy minta. Tapi Rendy juga bukan tipe pria yang suka jajan sembarangan, hubungannya dengan Rachel juga tidak sampai berhubungan badan. Lani merasa sia-sia berdebat dengan bosnya "Udah Saya minum ya Pak Rendy " Lani menenggak habis minumannya sampai tandas, Rendy menarik sudut bibirnya sekilas merasa menang. Lani memutar bola matanya malas, dikit-dikit ancamannya kerjaan, "dasar bos aneh" "Apa Kamu bilang?" Lani tersenyum hingga matanya hanya tampak segaris, "Saya ga bilang apa-apa Pak" "Tadi Kamu bilang Saya aneh" "Oh ya? salah denger mungkin bapak, Saya bilang Pak Rendy ganteng" Lani mengelak, jauh banget kan aneh jadi ganteng, namanya juga orang mengelak suka hatinya lah.  "Emang Saya ganteng, baru sadar Kamu?" "Sadar kok Pak, dari awal liat Pak Rendy malah, apalagi kalo Pak Rendy sering senyum pasti level ganteng Pak Rendy makin naik" Lani mengacungkan jempolnya pada Rendy "iya ganteng tapi ngeselin" lanjut Lani pelan tidak terdengar Rendy. "Jadi menurut Kamu, sekarang Saya tidak ganteng?" "Ishhh, apa sih Pak Rendy ini daritadi ngajakin ribut terus? Opps!" Mulut Lani tidak bisa di rem karena ulah bosnya, Ia menepuk mulutnya pelan karena udah keceplosan ngomel-ngomel sama Rendy. "Kamu marahin Saya?" wajah Rendy semakin bertambah galak. 'Mati Gue, ceroboh-ceroboh' lirihnya pelan, baru tiga hari sama Rendy aja udah bikin Lani di omelin terus apalagi tiap hari ketemu, untung mereka tidak satu ruangan. "Ngga Kok Pak, Saya mana berani marahin Bapak" "Terus tadi ngapain Kamu teriak-teriak ke Saya?" "Maaf ya Pak Rendy, kayanya Pak Rendy butuh pijit deh, biar rileks dikit" Lani memperagakan tangannya gerakan memijit punggung. "Kamu ngerayu Saya? Kamu kira Saya Bos m***m?" Lani mengusap-ngusap wajahnya frustasi. "Iya eh ngga, maksud Saya Pak Rendy pijit di spa gitu loh, bukan sama Saya" "Jadi kalau Saya minta pijit Kamu, Kamu ga mau?" Lani menutup mukanya dengan topinya, bisa ngga sih ini pesawat lebih cepet sampe Jakarta, bisa stress kalau lama-lama sama bos anehnya ini. Rendy tersenyum puas menatap Lani, sebenernya Ia hanya ingin menjahili Lani saja, tidak bermaksud benar-benar meminta Lani memijit dia. tidak terdengar lagi bantahan dari Lani, pelan-pelan Rendy membuka topi Lani, rupanya anak itu tertidur kelelahan karena berdebat dengan Rendy. Rendy menatap Lani lama-lama.  "Pantas Bayu ingin merebut hatinya, selain cantik Ia juga tidak matre, buktinya selama di Bali Lani sama sekali tidak menggoda Rendy untuk tidur bareng, tidak seperti karyawan lain yang diam-diam cari kesempatan agar bisa menggoda Rendy, mata Lani bergerak saat Rendy membetulkan anakan rambut Lani, Rendy segera menarik tubuhnya pura-pura sedang menonton acara di layar depannya. Ia melirik dari sudut matanya tidak ada pergerakan, Rendy menghembuskan nafasnya lega khawatir ketahuan Lani. 'Mending Gue pura-pura tidur aja, daripada harus ngeladenin Pak Rendy yang semakin aneh' ternyata Lani hanya pura-pura tidur, saat Rendy membetulkan anakan rambutnya Ia kaget Rendy berani skinship pada Lani tapi Ia tetap memejamkan matanya. Saat tahu tidak ada pergerakan selanjutnya dari Rendy, Lani jadi tidur beneran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN