17. Salah Sangka

1724 Kata
Rendy turun dari taksi di lobby Mall, Ia gunakan kembali kacamata hitam dan masker ketika akan keluar taksi, semua mata tertuju padanya, Ia berjalan sedikit menunduk perawakannya yang atletis, dengan wajah yang sangat tampan membuat siapa saja yang melihatnya bisa tersihir. Siapa yang tidak mengenal Deco Rendy Hartawan seorang pengusaha muda sukses di bidang property dan perhotelan wajahnya sering menghiasi majalah bisnis, bahkan majalah gosip pun tak jarang membahas tentang Rendy, apalagi sedang trend artis yang ingin bersuamikan pengusaha banyak artis yang ingin bersuamikan Rendy, meskipun mereka tahu Rendy sudah memiliki kekasih Rachel model pendatang baru, bagi mereka Rachel bukan saingan berat, karena mereka belum tahu seberapa bucin Rendy terhadap Rachel. Toko baju adalah tujuan utamanya ia membeli hoodie berwarna hitam untuk menutup wajahnya agar tidak mudah dikenali. Setelah dari toko baju, Ia berjalan menuju restoran dan duduk di tempat yang paling leluasa untuk mengamati sekitarnya. Sebelum masuk resto Ia memastikan tidak ada yang mengenalinya. "Selamat datang Pak, mau pesan apa?" seorang pelayan menghampirinya menyodorkan menu makanan. "Saya pesan spagetti sama jus jeruk aja Mba" dengan cepat Ia memesan makanan. Pelayan itu mengamati Rendy yang tampak familiar dimatanya, Ia tersenyum genit melihat Rendy di depan matanya. "Baik Pak, silakan tunggu 20 menit lagi makanan siap dihidangkan" ucap si pelayan matanya masih mengawasi Rendy dengan intens. Ia meninggalkan Rendy untuk menyiapkan makanan yang dipesan duapuluh menit kemudian sesuai yang dikatakan pelayan tadi makanan sudah bisa dinikmati. "Silakan Pak! Selamat menikmati" ucap pelayan itu "Maaf. Ini Pak Rendy CEO Andromeda kan?" pelayan itu berkata dibuat semanis mungkin. Rendy langsung meletakan telunjuknya di depan mulutnya supaya pelayan itu tidak berisik. "Sssttt! Jangan berisik atau Kamu mau besok sudah tidak ada di sini lagi" Rendy memelankan suaranya penuh penekanan, Ia sangat tidak suka jika ada wanita yang sok dekat dan kecentilan dengannya, ia merasa risih diperlakukan bak artis. Hanya jika berjalan bersama Rachel Ia akan kehilangan wajah tercoolnya. "Maaf Pak! Baik!" pelayan tadi langsung meninggalkan Rendy dengan wajah cemberut dan sedikit ketakutan. "Sial, sombong sekali dia" gerutunya pelan. Mata Rendy sesekali mengawasi pintu masuk restoran. "Ck, lama sekali mereka, katanya janjian makan di sini" Ia menyesal tidak langsung menguntit Bayu ketika turun taksi tadi. Rendy mendesah pelan bertanya pada dirinya sendiri. "Kenapa Gue bisa sampe sejauh ini?" bibirnya berkata demikian tapi tidak dengan matanya yang terus celingukan melihat sekeliling restoran, tiba-tiba Rendy tersenyum melihat orang yang Ia tunggu masuk ke dalam restoran tepat jam 11. Rendy menundukan kepalanya dan mengintip dari balik kacamatanya. Wanita itu sangat seksi menggunakan atasan jenis off-shoulders warna biru muda memperlihatkan bahunya yang putih dan mulus, dipadukan dengan celana jeans 3/4 berwarna senada dengan atasannya. Ia tertawa lepas dengan Bayu seakan tidak ada beban. Sesekali Bayu menjahili Lani, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran terlihat tatapan begitu memuja dari sang lelaki banyak mata memandang iri kepada mereka, yang satu tampan satu lagi cantik. Pandangan Lani tiba-tiba ke arah Rendy duduk, Ia melambaikan tangannya Rendy langsung menundukan wajahnya, seorang pelayan berjalan melewati Rendy menuju meja Bayu dan Lani. Rendy pikir Lani melihat Dia, ia bernafas lega ternyata Ia melambai pada pelayan restoran. Hampir 1 jam lebih Lani dan Bayu makan di restoran, Rendy mulai gelisah antara pergi atau tetap bertahan di sini. Ia ingin pergi tapi penasaran pada Lani dan Bayu. "Nonton yuk!" ajak Bayu "Nonton apa? Ada film yang seru? Jangan film bucin ya, males" Lani tertawa mengejek "Yah, baru mau di ajak romantisan, atau film horor aja biar kalau Kamu takut nanti kan peluk Aku" Bayu tersenyum menggoda Lani, Ia mengubah kata Saya menjadi Aku. "Males deh, action atau fantasy aja" Lani memberikan opsi. "Hmm, gagal romantis deh, ya sudahlah gapapa" Ucap Bayu. Ia memanggil pelayan untuk membayar tagihan. Setelah membayar mereka meninggalkan restoran menuju CGV Blitz. Rendy terus mengikuti mereka dari belakang "Sial mau kemana lagi mereka?" gerutunya jika Lani menoleh ke belakang Ia akan bersembunyi masuk toko-toko pura-pura melihat barang, Rendy sudah nampak seperti penguntit yang memata-matai incarannya. Entah mengapa Ia sangat ingin tahu apa yang dilakukan Lani dan Bayu. Ia bersembunyi bukan karena takut ketahuan juga tapi karena tidak mau diikuti paparazi dan masuk majalah gosip lagi. "Di kelas velvet aja ya nontonnya?" Bayu menawarkan studio kelas velvet, kelas ini menawarkan studio dengan kasur yang lengkap dengan bantal dan guling bahkan selimut, kelas ini tertinggi dan termewah di kelasnya, tapi harusnya pasangan asli yang memesan, kalau mereka kan hanya teman jelas Lani menolak. "Mau ngapain pesen kelas velvet, Pak? Mau nonton atau tidur?" "Ya biar sekalian, nanti kan bisa bobo bareng" "Mesvm" Lani mendorong bahu Bayu pelan, Ia tahu Bayu hanya bercanda tapi kalau Ia tanggapi bisa bahaya. "Ko mesvm? Kan cuma bobo bareng ga ngapa-ngapain" elak Bayu, dia juga ingin tahu seberapa mudah Lani di dapat ternyata Ia cukup jual mahal. "Btw, jangan panggil Aku Pak dong, Kamu kan bukan bawahan Aku" "Terus mau Saya panggil apa? Om, Kakek, atau Papa" "Yang terakhir boleh, tapi nikah dulu" "Modus!" Lani mencubit pinggang Bayu cukup kencang, Bayu menahan tangan Lani dan memegangnya. Tapi pelan-pelan di singkirkan Lani, ia pura-pura mengambil sesuatu di dompetnya takut membuat Bayu tersinggung. "Ga papa. Kalo Kamu mau ayo Aku halalin" Bayu makin gencar menggoda Lani, Ia sangat senang melihat wajah Lani jika malu-malu akan berubah merah jambu sangat kentara sekali. Lani tidak menjawab lagi gombalan Bayu hanya menunjukan wajah malas tapi tetap memerah meskipun Lani tidak memiliki perasaan terhadap Bayu tetap saja akan salting jika yang membuat gombalan setampan dia. Lama-lama semakin kebal dengan gombalannya. Akhirnya mereka memilih menonton menonton film animasi The Lion King di studio Gold Class, Gold Class menawarkan konsep ruangan serba eksklusif, sofa berbahan kulit dengan sandaran kaki akan membuat nyaman yang menggunakannya ditambah lagi servis memuaskan dari pelayanannya. Mulai dari welcome drink, hingga premium lounge. Mereka memilih tempat duduk di tengah-tengah posisi atas, supaya tidak terganggu lalu lalang orang lewat. Diam-diam Bayu memotret Lani dari samping tanpa blitz dan suara. "Btw jalan sama Aku ada yang protes ngga nih?" Bayu bertanya sebelum film di mulai. Lani menoleh mengerti maksud pertanyaan Bayu. "Pak Bayu nanya Saya sudah punya pacar atau belum nih?" Lani berkata frontal, ia rasa tidak ada perlu yang ditutup-tutupi pada sepupu atasannya itu. "Bapak lagi" "Kakak, Ok!" Lani membetulkan panggilannya pada Bayu, Bayu lebih tua enam tahun dari Lani jadi sudah sepantasnya Ia memanggil Kakak. "Kakak? Hmm, bolehlah daripada dipanggil Om" "Ngga marah sih. Tapi Kami memang LDR-an" ucap Lani menjawab pertanyaan Bayu, Bayu sedikit terkejut tapi selama belum menikah menurutnya sah saja kalau mau merebutnya. "Dia tau Kamu jalan sama Saya?"tanya Bayu "Tau!" "Marah?" "Ngga, tapi sempet ngelarang, cuma Aku pikir kan selama Aku di Bali kemarin Kaka udah nemenin Aku, jadi sekarang gantian Aku yang nemenin Kaka" "Cuma karena itu?" "Ya sementara karena itu" Lani mengedikan bahunya, Ia memang belum mau terlalu menutup hati alias tidak mau terlalu dalam juga selama belum menikah, alasannya supaya tidak ada yang tersakiti satu sama lain jika kecewa. "Berarti lain kali bisa karena hal lain donk?" Ucap Bayu semangat. "Maybe, tidak menutup kemungkinan, emang karena hal lain apa Kak?" tanya Lani sok polos. "Jangan pura-pura ga tau" Bayu menyentil hidung Lani pelan, Lani mengusap-usap hidungnya. "Sakit ya?" Bayu spontan meniup hidung Lani. Hingga jika di lihat dari belakang nampak seperti orang berciuman, Lani menarik kepalanya ke belakang takut Bayu berlebihan terhadapnya, Ia sekarang malah mengingat ciumannya dengan Rendy malam tadi. Ia mengetuk kepalanya pelan "Bisa-bisanya Gue inget Rendy" gumamnya lirih. "Kenapa?" Bayu mendengar Lani bergumam tidak jelas. Lampu di dalam bioskop mulai di matikan sehingga fokus ke layar film. "Gapapa Pak, filmnya dah di mulai" Ia menunjuk layar yang ada didepannya. Sementara di belakang sana ada pria yang masih setia mengikuti kemanapun dua orang insan bukan pasangan itu pergi, Ia memasukan satu persatu pop corn ke mulutnya, sambil mengamati mereka. "Cih, dasar wanita mvrahan, mau saja di cium sembarang lelaki" Rendy menatap Lani sinis dari belakang. Ia salah paham ketika Bayu meniup hidung Lani, di sangkanya mereka berciuman. "Ka. Aku ke toilet sebentar yah" melihat Lani berdiri Rendy berdiri mengikuti Lani, "Cih, dasar wanita mvrahan" Lani kaget ketika keluar toilet ada Rendy menunggunya bahkan berucap sinis, kenapa sih pria ini jadi ada dimana-mana. "Maksud Bapak apa ya bilang saya mvrahan?" Lani menaikan intonasi suaranya, ingin sekali Ia menampar mulut pria yang ada di depannya. "Kemarin Kamu mau berciuman dengan Saya, sekarang Kamu mau ciuman dengan Bayu, apa namanya kalau bukan mvrahan?" Rendy berkata merendahkan Lani. "Jaga ucapan Bapak, kata siapa Saya ciuman dengan Ka Bayu?" "Wow, sekarang panggilnya Kaka yah" "Ada masalah dengan Bapak kalau Saya panggil dia Bapak? Ahhh, jadi daritadi Pa Rendy menguntit Saya?" Rendy menyesal kenapa juga ia harus mengikuti Lani sekarang malah ketauan Ia menguntit Lani, lagipula kenapa juga Ia harus marah melihat Lani berciuman dengan Bayu, "Permisi Pak Rendy, anggap saja semalam adalah kesalahan terbesar Saya mau berciuman dengan pria seperti Anda, oh ya satu lagi pastinya pacar Bapak lebih mvrahan dibanding Saya" Lani meninggalkan Rendy sendiri di toilet. Rendy meninju tembok kesal apa maksud Dia membawa nama Rachel dan mengataknya mvrahan. Rendy memutuskan untuk tidak mengikuti mereka lagi. "Hah, memangnya siapa Dia seenaknya bilang Aku mvrahan, bisa-bisanya semalam Gue mau ciuman sama Dia" Lani masih menggerutu Ia masuk kembali ke dalam bioskop, moodnya sudah hilang. Bayu menyadari perubahan mood Lani tapi belum ingin bertanya. Rendy keluar dari CGV, Ia memutuskan untuk menemui Rachel. Seharusnya kalau Ia belanja Rachel ada di Plaza Indonesia, Rendy tinggal menyeberang saja dari sini. "Halo Beib. Kamu dimana?" "Aku di PI nih Sayang. Lagi beli tas sendirian, kamu sih ga bisa nemenin" Ucap Rachel masih pura-pura merajuk. Padahal Ia sedang bergelayutan mesra di tangan Alex. "Ah iya Sayang, maaf Aku lupa. Aku susul Kamu ya" "Ga usah Sayang. Ini Aku mau ada acara sama temen-temen juga" "Ya gapapa, biar Aku temenin yah, Kamu dimana sekarang?" Rendy mendengar suara musik yang sama di seberang telepon, sepertinya mereka berada di tempat yang sama. "Jangan sayang, Ini cewek-cewek semua, Akh ga mau nanti mereka genit-genit sama Kamu, Kamu tau kan gimana ganasnya temen-temen Aku" "Yaudah Kamu baik-baik di sana" "Iya Sayang" Rendy masih belum memutus panggilannya kalau memang Ia bilang di tempat biasa harusnya ia bukan di sini tapi di PI, suara Rachel pun terdengar dekat di sambungan telepon, Ia berputar-putar mencari sumber suara, di dapatinya seorang yang mirip Rachel sedang bersama pria. Rendy menghampirinya kemudian menepuk pundak wanita tersebut dari belakang. "Sayang, Kamu di sini?" wanita itu menoleh ke sumber suara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN