#Flashback
Di tengah rintiknya hujan seorang wanita paruh baya sedang menunggu kedatangan seseorang di sebuah restoran,
Tak lama kemudian pria itu pun datang dengan senyum di sudut bibirnya,
"Apa anda yang menghubungiku?"
Lilian pun mengangguk pelan,
"Dari mana anda mengetahui nomor saya?" Tanya pria itu sambil duduk di hadapan Lilian
Lilian pun terlihat tertawa,
"Pertanyaan yang bodoh!! Itu adalah hal termudah yang bisa aku lakukan, seperti menjentikkan jariku, Aku bisa langsung mendapatkan informasi tentang mu dengan mudah," Lantang Lilian,
Pria itu pun tersenyum kecut,
"Lalu, ada apa kau memanggilku?"
Lilian pun melipat kedua tangannya di dadanya,
"Aku ingin membuat sebuah perjanjian denganmu,"
"Perjanjian, perjanjian apa?"
"Aku ingin, Kau melenyapkan seseorang.. Jika kau berhasil, Aku akan memberimu uang yang sangat banyak, sehingga kau tidak perlu lagi menjadi seorang pencuri murahan,"
Pria itu pun tersenyum,
"Hanya itu?"
Lilian pun menatap tajam ke arah pria itu,
"Lalu, Apa maumu?"
"Aku ingin uang dan juga kebebasan!! Aku tidak ingin harus masuk penjara hanya gara gara masalahmu,"
Lilian menyunggingkan senyuman, ia tampak berpikir sejenak,
"Baiklah, Aku setuju!"
"Kalau begitu, siapa yang harus aku lenyapkan?"
Lilian menyodorkan sebuah foto diatas meja pada pria itu,
Pria itu pun meraihnya, Ia membulatkan matanya saat melihat siapa yang ada di foto tersebut,
"Erina?"
Seketika pandangan pria itu pun langsung menatap tajam ke arah Lilian yang tengah tersenyum licik,
"Ya, Erina.. Aku ingin kau melenyapkannya dengan rencana yang sudah aku susun rapi,"
"Jika aku boleh tahu, Ada masalah apa kau dengan Erina? Sehingga kau ingin aku melenyapkannya?" Pria ini nampak penasaran dengan motif dibalik keinginan Lilian itu,
"Kau tidak perlu tahu! Lakukan saja tugasmu! Aku akan memberikan sebagian uang nya di muka,"
Lilian menyodorkan sebuah koper berwarna hitam berukuran sedang, Pria itu pun meraihnya, dan membukanya,
Ia terlihat sangat senang karena melihat tumpukan uang di dalamnya,
"Baiklah, Aku setuju!"
Lilian pun berdiri dari duduknya, dan mengulurkan tangannya,
Pria itu pun menyambutnya,
Mereka pun sepakat dengan perjanjian yang mereka buat,
"Lakukan semuanya sesuai dengan yang aku instruksikan, dan jangan sampai ada kesalahan! Sisa uang nya akan aku berikan setelah kau menyelesaikan pekerjaanmu!"
Pria itu pun mengangguk paham,
"Senang bekerja sama denganmu, Tuan Kevin,"
Kevin pun menyunggingkan senyuman,
Lilian pun melangkah pergi meninggalkan Kevin yang terlihat sangat senang setelah mendapatkan uang tersebut.
"Ini, pasti akan menyenangkan!" Gumam Lilian sambil menunjukkan senyuman di sudut bibirnya,
****
Kevin yang baru saja tiba di rumah, dengan wajah sumringahnya membuat Theo sang adik yang tengah asik menonton Tv menatap heran ke arahnya,
"Kakak kenapa?"
Kevin pun duduk di samping Theo,
Ia tertawa dan memperlihatkan koper berwarna hitam yang sedari tadi ia tenteng,
"Kau tau ini apa?" Tanya Kevin
Theo mengernyitkan keningnya,
"Apa itu?"
Kevin pun menaruh koper tersebut di atas meja dan membukanya, Ia menunjukkannya pada Theo,
Seketika Mata Theo terbelalak karena melihat tumpukkan uang di dalam koper tersebut, senyumannya pun berkembang,
"Dari mana kakak mendapatkan uang sebanyak ini?"
"Dengar! Aku mendapatkan sebuah pekerjaan dengan bayaran yang sangat besar, ini hanya uang mukanya! Sisanya akan jauh lebih banyak dari ini!" Terang Kevin.
Theo semakin penasaran dibuatnya,
"Pekerjaan apa?"
"Pekerjaannya hanya satu hal saja, setelah itu kita mendapat bayaran yang sangat banyak ditambah jaminan kebebasan,"
Theo kembali mengerutkan dahinya,
"Jaminan kebebasan? Pekerjaan seperti apa yang kakak terima itu?"
Kevin pun menarik nafas panjang,
"Kita, hanya perlu melenyapkan seseorang,"
Theo langsung berdiri dari duduknya, ia menatap kesal sang kakak,
"Apa? Apa kau sudah gila? Kita mungkin memang kriminal yang suka mencuri tapi kita bukan pembunuh kak!" Teriak Theo
Kevin pun berdecak kesal,
"Ck, dengar! Kita hanya akan melenyapkan seseorang yang sudah menghancurkan keluarga kita!"
Theo pun mengerutkan dahinya,
"Maksudmu, Erina?"
Kevin pun mengangguk pelan,
"Bukankah, kau ingin sekali melakukannya? Kita dibayar, sekaligus melenyapkan orang yang selama ini kita benci! Bukankah itu sangat menguntungkan?"
Theo pun menyunggingkan senyuman, dan mengangguk pelan,
****
Sepulangnya Lilian dari pertemuannya dengan Kevin, Ia dikejutkan dengan laporan dari asisten rumah tangganya tentang Lisa yang tidak keluar kamar sejak pagi tadi, Lilian pun bergegas menuju ke kamar Lisa,
"Tok tok tok"
"Lisa, buka pintunya nak!"
Namun tidak ada sahutan yang terdengar dari dalam kamar Lisa,
Lilian yang merasa sangat cemas pun bergegas mencari kunci cadangan kamar lisa, Namun tiba tiba..
"Prang"
Terdengar suara sesuatu yang pecah bersamaan dengan jerit tangis histeris seseorang,
Lilian pun berlari menuju ke kamar Lisa dan kemudian Ia langsung membuka pintu kamar Lisa menggunakan kunci cadangan,
Saat pintu terbuka, Matanya pun terbelalak, Ia syok melihat putrinya Lisa terkulai lemas tidak berdaya dengan darah segar yang keluar dari pergelangan tangannya karena sayatan dari pecahan kaca yang berhamburan di sekitarnya,
"Tidak! Putri ku!" Teriak Lilian
Lilian pun panik, dengan tangan bergemetaran dan air mata yang terus mengalir ia menghubungi ambulan,
Tak lama kemudian, Ambulan pun datang dan membawa Lisa ke rumah sakit,
Dengan tangan mengepal kuat, rahang yang mengeras dan mata yang sembab, terlihat bara api kebencian di mata Lilian,
"Awas kalian! Lihat saja nanti!" Gumamnya,
Sepulangnya Lisa dari pulau jeju, ia memang terlihat lebih murung dan depresi,
Beberapa hari lisa mendapat perawatan di rumah sakit, kondisi nya pun mulai membaik, meski ia masih terlihat murung,
Lisa terlihat sedang melamun menatap ke arah luar jendela dengan duduk diatas kursi roda,
Lilian pun datang menghampiri, ia mengelus lembut kepala Lisa yang membuat Lisa terperanjat dari lamunannya,
"Bagaimana keadaanmu?"
Lisa pun tersenyum,
"Sudah lebih baik, bu!"
Lilian pun memegang erat tangan Lisa,
"ibu berjanji, Akan membawa kembali kebahagiaan mu,"
Lisa pun tersenyum tipis mendengar ucapan sang ibu.
Lilian pun memeluknya erat,
Lisa yang depresi karena belum bisa menerima jika Billy telah benar benar melupakannya dan jatuh cinta pada gadis kecil seperti Erina tidak bisa menerima hal itu,
Beberapa kali Lilian sudah mencoba mengenalkan Lisa pada Pria yang lain, namun tidak ada satupun yang bisa mengambil hatinya, Lilian hampir putus asa setiap kali ia melihat Lisa yang semakin hari semakin kurus karena depresi.
Ia pun telah mencoba memohon pada Billy untuk memberikan putrinya kesempatan kedua, namun nyatanya Billy menolak permintaan Lilian mentah mentah,
Lilian harus menelan pil pahit, saat ia melihat Billy yang bahagia bersama Erina, sedangkan Lisa terpuruk karena nya.
Lilian pun memutuskan untuk membuat sebuah rencana yang menurutnya sangat sempurna, karena dengan cara itu, Billy akan selamanya bersama Lisa, tanpa bayang bayang Erina.
****
Baru saja menginjakkan kakinya di rumah, Lilian pun mendapat panggilan dari seseorang yang sudah tidak asing lagi bagi nya,
Raut wajahnya berubah menjadi kesal dan marah saat seseorang berbicara di seberang sana,
"Dasar bodoh!! Baiklah, kita lakukan rencana yang kedua,"
"B-baik nyonya!"
Lilian bergumam kesal karena laporan dari Kevin yang mengatakan jika Erina berhasil melarikan diri dari tempat mereka menyekap nya,
Lilian pun berpikir sejenak, hingga tiba tiba ia menyunggingkan senyumnya,
****
Lilian mendatangi tempat asuhan dimana Erina dulu tinggal dan dirawat oleh Ariana,
Ia disambut oleh Ariana,
"Selamat sore, Nyonya! apa ada yang bisa aku bantu?"
Lilian pun tersenyum,
"Selamat sore,"
"Tentu, Aku ingin meminta bantuanmu,"
Ariana mengerutkan dahinya,
"Bantuan seperti apa nyonya?"
Lilian pun mengeluarkan sebuah liontin,
"Berikan ini pada Erina, dan katakan jika ibu nya masih hidup,"
"Apa? Tapi untuk apa nyonya?"
"Kau tidak perlu tau untuk apa! Lakukan saja perintahku!"
Ariana pun menggeleng kan kepalanya,
"Maaf nyonya, saya tidak bisa! Jika tidak ada kejelasan untuk apa saya lakukan itu, maka saya tidak akan melakukannya,"
'Plakk'
Satu tamparan keras mendarat di pipi Ariana,
"Dasar bodoh! Apa kau ingin mati, Hah?!" Bentak Lilian,
Ariana terlihat memegangi pipinya yang terasa perih karena tamparan tersebut,
"Asal kau tau, Aku lah orang yang meletakkan Erina saat bayi di depan panti ini!"
Ariana pun membelalakkan matanya
"A-apa?"
Lilian memegang kuat rahang Ariana,
"Jangan macam macam denganku! Jika kau masih ingin menikmati hidup mu,"
Lilian melepas kasar pegangannya,
"Apa itu artinya, Anda adalah…"
Ucapan Ariana terpotong oleh suara tawa Lilian,
"Ha ha ha ha, tidak.. Tidak.. Tidak…" Ujar Lilian sambil menggerakkan telunjuknya,
"Aku yang membuangnya, tetapi aku bukan ibu kandungnya, karena ibu kandungnya sudah lebih dulu berada di alam baka ha ha ha ha,"
Ariana Menggeleng cepat,
"Lalu, Apa maksud anda melakukan semua ini?"
Lilian pun kembali menatap ke arah Ariana,
"Aku sudah mengatakannya padamu, Kau tidak perlu tau! Lakukan saja perintahku!"
"Tidak!" Ariana menolak dengan tegas,
"Kau pasti ingin melakukan hal yang lebih jahat lagi pada Erina bukan?"
Lilian pun menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya,
"Apa niatku, terlihat jelas?"
Ariana pun berjalan ke arah pintu dan membuka pintu kantornya,
"Pergi! Sebaiknya anda pergi! Jika anda tidak mau pergi, Aku akan menghubungi yang berwenang," Ancam Ariana,
Lilian pun melangkah pergi melewati Ariana begitu saja menuju ke dalam mobil miliknya,
****
Di dalam mobil, Lilian berpikir bagaimana caranya agar rencananya bisa berjalan sesuai dengan keinginannya,
Hingga ia pun memutuskan untuk menemui kepala pusat yayasan yang diurus oleh Ariana, Ia mengungkapkan komplainnya pada mereka, dan memfitnah Ariana jika Ariana menarik uang untuk setiap anak yang akan diadopsi, Lilian pun memberi bukti bukti palsu yang membuat Ariana tersudut,
"Sebenarnya, Saya tidak mempermasalahkan jika memang harus ada pembayaran, tetapi naluri saya sebagai ibu merasa ini tidak benar, saya berniat untuk mengadopsi bukan membeli," Ujar Ariana sambil menangis palsu didepan kepala pusat yayasan,
Ariana pun menggelengkan kepalanya,
"Tidak Ibu kepala! Saya tidak pernah melakukan itu, Saya bersumpah, saya tidak mungkin…" Ucap Ariana terpotong
"Diam!!" Bentak kepala yayasan,
"Kau sudah membuat malu nama yayasan kita, kau sudah disumpah untuk merawat dan mengurus anak anak dengan baik! Tapi kenapa kau tega menjual mereka?" Imbuh kepala yayasan
Ariana pun berlutut di hadapan kepala yayasan, dengan derai air mata ia terus mencoba untuk menjelaskannya,
"Aku mohon, Aku tidak pernah melakukan hal itu Ibu kepala!" Jelas Ariana sambil menangis
"Lihat semua bukti ini! Dan kau masih menyangkalnya?" Bentak Lilian
Ariana menggelengkan kepalanya cepat,
"Tidak! Tidak! Aku tidak melakukannya,"
Kepala yayasan yang sudah terlanjur marah pada Ariana ia pun membuat keputusan untuk mengeluarkan Ariana dari panti,
Fitnah keji yang dibuat oleh Lilian, membuat Ariana diusir dari yayasan, namun tanpa disangka saat ia sedang membereskan barang barangnya, dadanya terasa sangat sakit dan perih, perlahan ia pun kehilangan keseimbangannya dan jatuh tersungkur di lantai,
Salah satu anak panti menemukannya dan memberitahukannya pada Kepala yayasan.
Ariana pun dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa, dan ternyata Ariana sudah tidak tertolong lagi, Ia mengalami serangan jantung yang membuatnya kehilangan nyawanya,
****
Lilian yang beberapa kali mengikuti Erina dan Billy merasa semakin kesal dan benci setiap melihat mereka yang tertawa bersama dan bahagia, sedangkan putri nya menderita depresi,
Tanpa sengaja, di tengah perjalanan pulang ia bertemu dengan seorang pemuda yang tengah dihajar habis habisan oleh sekelompok preman, Lilian pun memperhatikan kejadian itu,
"Dengar! Aku beri waktu kau tujuh hari untuk melunasi semuanya, atau kau dan kedai tuamu ini aku hancur kan!" Bentak salah seorang preman.
Mereka pun meninggalkan pria yang terbaring itu sendirian,
Setelah pergi, Lilian pun menghampiri pria itu, dia melipatkan kedua tangannya di dadanya,
"Hidup itu memang keras, siapa yang paling kuat, dia yang akan bisa bertahan sampai akhir,"
Lilian pun mengulurkan tangannya dan membantu pria itu untuk berdiri,
****
"Oh, Jadi namamu Rendra? Dan kau seperti ini karena ulah keluarga Owent?" Tanya Lilian setelah ia mendengar kondisi sebenarnya yang dialami pemuda itu,
Lilian pun menyunggingkan senyuman,
'Sepertinya, keberuntungan sedang memihak ku sekarang,' Batin Lilian,
Lilian pun menghasut Rendra dan mengajak Rendra untuk sama sama menghancurkan keluarga Owent lewat Erina, dan Rendra yang termakan oleh hasutan Lilian pun menyetujui kerja sama itu, Rendra yang telah dibutakan oleh dendamnya rela melakukan apapun untuk menghancurkan Billy dan keluarganya,
Lilian pun mengukir senyuman di sudut bibirnya,
Lilian dan Rendra pun menyusun rencana agar Rendra bisa masuk ke dalam rumah Billy dan menjadi orang kepercayaan Billy,
Beruntung karena kegagalan rencana Theo dan Kevin kemarin, Rendra pun dengan mudah diterima sebagai bodyguard Erina, dengan berpura pura menolongnya, itu menumbuhkan rasa simpati Erina, dan Rendra bisa bekerja tanpa dicurigai,
Namun niatnya pun terbongkar setelah Erina tanpa sengaja memergoki Rendra yang ternyata menjadi dalang teror yang Erina terima,
Lilian pun merasa marah, karena Rendra yang sudah gagal dalam tugasnya,
Ia membanting semua benda yang berada di sampingnya, hingga benda benda itu pun hancur berserakan,
Dengan nafas yang tidak teratur karena amarahnya yang meledek ledak, Lilian mencoba untuk tetap tenang, akhirnya ia pun menghubungi Kevin,
****
Lilian pun mendorong Kevin dan Theo untuk segera melaksanakan rencana kedua mereka, setelah kegagalan pada rencana pertama mereka,
"Aku akan memberimu satu kesempatan lagi! Jika kali ini gagal, aku yang akan melenyapkanmu!" Ancam Lilian