Lilian yang menyadari jika penjagaan terhadap Erina akan diperketat pun mencoba untuk mencari celah agar Erina bisa diculik oleh Kevin dan Theo tanpa ada yang menyadari itu,
Lilian nampak sedang duduk di ruang keluarga sambil berpikir, hingga sebuah berita yang menayangkan pemberitaan tentang korban mutilasi, memberikannya sebuah ide, Ia kemudian memesan sebuah koper berukuran cukup besar,
Lilian pun turun tangan dalam mengawasi Erina, Hingga ia mendapatkan celah itu.
****
Sebelum kejadian penculikan itu berlangsung,
Lilian mencoba membujuk Lisa untuk ikut dalam rencananya,
"Sayang, Ini semua demi kebahagiaanmu! Ibu hanya akan mengubah wajah mu semirip mungkin dengan Erina, Kau ingin Billy tetap bersamamu bukan?"
Lisa pun terdiam,
Lilian menggenggam erat tangan Lisa, hingga lisa pun menatap lekat ke arah sang ibu,
"Ibu hanya ingin kau bahagia,"
"Aku takut, bagaimana jika suatu saat Billy tau?"
Tak terasa buliran bening itu pun mengalir begitu saja, Lilian menghapus air mata putrinya dan kembali meyakinkannya,
"Ibu yakin, Billy akan kembali mencintaimu saat ia sudah mengetahui jika kau bukan Erina,"
"Sekarang, kau hanya harus percaya pada ibu!" Imbuhnya.
Lisa pun mengangguk pelan,
****
Lisa mulai menjalani operasi plastik selama beberapa tahap, hingga operasi itu pun membuahkan hasil, Lisa terlihat sangat mirip dengan Erina.
Senyum pun berkembang di wajah Lisa, ia menatap sang ibu dengan senyumannya itu,
Lilian menjelaskan rencananya,
"Ibu akan membuatkan mu identitas yang baru, kau akan tinggal di sebuah rumah yang sudah ibu sewa, dan bekerja di salah satu restoran milik teman ibu, untuk bisa meyakinkan Billy, Ibu akan membuat sebuah rumor jika kau kehilangan ingatanmu secara permanen karena sebuah kecelakaan,"
Lisa mengangguk paham,
"Tapi, Bagaimana dengan Erina yang asli?"
Lilian pun menyunggingkan senyuman,
"Kau tidak usah khawatir, Erina akan menjadi urusan ibu,"
#Flashback off
Lisa alias Kirana yang kini tengah tersenyum bahagia penuh dengan kemenangan bersama sang ibu Lilian tiba tiba dikejutkan dengan kehadiran seseorang,
"Kalian sedang membicarakan apa?" Tanya Billy yang tiba tiba ada di hadapan mereka,
"Oh, Tidak ada! Aku hanya merasa bahagia karena akhirnya ibu bersamaku,"
Billy pun tersenyum mendengar penuturan Kirana.
Pesta penyambutan pun berlangsung meriah, semua orang terlihat bahagia dan tertawa, kecuali Ryan dan Diana.
Sejak awal, Ryan selalu merasa ada sesuatu yang aneh dalam diri Kirana, Ia yakin jika Kirana bukanlah Erina, pun dengan diana yang merasakan sesuatu yang berbeda saat di dekat Kirana,
****
Pesta pun selesai, para tamu pun satu persatu berpamitan untuk pulang, Billy yang menatap Kirana pun kembali tersenyum
"Kau pasti lelah?" Ucap Billy seraya mengelus kepala Kirana lembut.
Kirana pun mengangguk manja pada Billy
"Ya sudah, lebih baik kau istirahatlah!"
Billy pun merangkul bahu Kirana, dan mengantarnya ke kamar.
Kirana pun berbaring diatas tempat tidurnya, Billy menyelimutinya, namun saat Billy hendak melangkah, Kirana menahannya,
"Tolong, jangan pergi!" Pinta Kirana
Billy pun duduk di birai kasur dan mengelus kepala Kirana lembut,
"Ada apa?"
Kirana pun menggenggam tangan Billy,
"Temani aku,"
Billy pun tersenyum,
"Kau manja sekali,"
Kirana pun melepas pegangan tangannya dan memanyunkan bibirnya,
"Ya sudah!"
Billy yang merasa gemas dengan sikap manja Kirana memutuskan untuk naik ke tempat tidur, ia berbaring disamping Kirana dan memeluknya dari belakang,
"Jangan marah, Aku akan menemanimu sampai kau tertidur,"
Kirana pun mengukir senyuman,
****
Dilain sisi,
Dokter Arvin memergoki pasiennya yang tengah duduk di kursi roda, menangis sendirian, Ia pun memutuskan untuk menghampiri pasiennya.
"Kau tidak apa apa?"
Pasien itu pun menundukkan pandangannya dan mengusir Arvin,
"Pergi! Jangan dekati monster seperti ku!" Bentak pasien itu
Dokter Arvin pun mencoba menenangkannya, Ia tahu benar psikis pasiennya sedang benar benar terguncang,
"Tenanglah! Aku tahu ini tidak mudah, tapi cobalah untuk tenang,"
Namun pasiennya malah menangis histeris, ia mencoba untuk melukai dirinya sendiri dengan mencakar dirinya dengan kukunya,
Arvin pun menahan kedua tangan pasiennya itu,
"Tenanglah!"
Pasien itu masih saja menangis histeris,
"Lepas! Kenapa kau tidak membiarkanku mati saja!" Teriaknya
Arvin pun menatap lekat sang pasien,
"Dengar, Jika kau mati, apa kau pikir masalahmu akan selesai begitu saja? Apa kau tidak memikirkan bagaimana dengan perasaan orang orang yang kau tinggalkan?! Orang orang yang menyayangimu!" Bentak Arvin,
Pasien itu pun perlahan berhenti memberontak, hanya tangisan yang terus saja terdengar,
Semua kenangan orang orang yang menyayanginya terus berputar di otaknya,
Arvin yang merasa pasien sudah berangsur tenang pun melepas pegangannya,
Sejenak berpikir,
"Aku akan membantumu untuk memperbaiki lukamu, aku akan membantumu membuatkan wajah yang baru untukmu,"
Pasien itu pun langsung menatap ke arah Arvin,
"Aku berjanji, kau akan mendapatkan hidupmu kembali, Erina.."
Rupanya, Arvin menyadari jika pasien itu adalah Erina, saat perban itu dibuka, selama hampir dua tahun ini, Arvin yang tidak mengetahui jika wanita yang ia tolong adalah cinta pertama nya, merasa syok saat pertama kali mengetahui nya,
Banyak pertanyaan yang berputar di otak Arvin, Apa yang sebenarnya terjadi pada Erina? Dimana Billy? Dan siapa yang sudah melakukan hal sekejam itu pada Erina?
Namun, semua pertanyaan pertanyaan itu ia simpan, dan ia memfokuskan diri terlebih dahulu untuk kesembuhan Erina, terutama psikis Erina.
Erina pun mulai menjalani beberapa kali bedah plastik, karena luka Erina yang cukup parah, ia tidak bisa mengembalikan wajah lamanya, atas persetujuan Erina, Arvin dibantu oleh rekan ahli bedah plastik mengubah wajah Erina menjadi baru,
Selama operasi itu, Arvin terus menerima Erina, terkadang Arvin pun membawa erina ke taman rumah sakit untuk sekedar menghirup udara segar,
"Udaranya segar sekali, bukan?" Tanya Arvin setelah menarik nafas panjang,
Namun, tidak ada respon dari Erina.
Arvin pun berjongkok di hadapan Erina,
"Apa kau mau cerita?"
Erina pun menatap kosong ke arah Arvin,
Arvin pun tersenyum,
"Aku tidak akan memaksamu, tapi kau harus tau, banyak sekali yang menyayangimu disini, termasuk aku, jadi jangan pernah merasa sendirian."
Buliran bening itu pun kembali mengalir dari mata Erina, Arvin pun mengusap nya perlahan,
Ia kemudian berdiri dan mendorong pelan kursi roda yang Erina duduk,
"Ayo, kita jalan jalan!" Ajak Arvin
Erina pun mengangguk pelan,
****
Erina tengah bersiap menuju ke ruang operasi, Di hari terakhir Erina menjalani operasinya, Erina pun memutuskan untuk menceritakan apa yang telah terjadi pada dirinya,
"Arvin, Aku ingin menceritakan sesuatu,"
Arvin pun berjongkok dan menatap Erina,
"Ceritakan lah!"
Dengan sedikit keraguan, Erina pun mulai bercerita,
"Semua yang aku alami, bukanlah karena kecelakaan,"
Mata Arvin terbelalak mendengar pengakuan Erina,
"A-apa?"
"Saat itu, Aku sedang menunggu di ruangan Billy sendirian, karena Billy ada meeting penting yang harus dihadiri, Tiba tiba dua orang pria bertopeng masuk dan membekapku dengan sebuah kain yang sudah dibubuhi oleh obat tidur, Aku jatuh pingsan dan tidak mengingat apapun, saat aku tersadar, aku sudah berada di dalam sebuah koper, mereka membawaku ke sebuah gudang kosong, disana mereka menyekap ku, menyiksaku tanpa ampun,"
Derai air mata Erina kembali mengalir, mengingat kejadian menyakitkan itu,
Arvin pun menggenggam tangan Erina, berusaha untuk menguatkannya,
"Beberapa hari aku mendapatkan perlakuan seperti binatang oleh mereka, Mereka menyiksaku sampai aku tidak sadarkan diri, hingga pada puncaknya, mereka membawaku ke lautan, dan melakukan transaksi di atas perahu, Mereka menjual ku pada seseorang yang aku tidak bisa dengan jelas melihatnya, dan meninggalkan ku, orang yang membeliku, menyiksaku lebih kejam dari mereka, hingga tubuh dan wajahku hancur seperti ini, dengan sisa tenaga yang aku miliki, Aku nekad melompat dari perahu, dan mencoba untuk berenang ke permukaan, tapi setelah itu, aku tidak ingat apapun lagi,"
Arvin mendengarkan cerita Erina dengan seksama,
"Mungkin, Ombak mendorong tubuhmu menuju ke pantai, hingga aku menemukan mu di pinggir pantai," Imbuh Arvin.
Arvin pun tersenyum menatap Erina, dan menghapus air matanya,
"Sudahlah, Semua itu sudah berlalu! Kau benar benar seorang wanita yang kuat! Aku bangga padamu, Tapi… apa kau tau siapa pelaku yang menculikmu?"
Erina terdiam sejenak,
"Kedua kakak angkat ku,"
"Apa?"
Arvin nampak syok mendengar pengakuan Erina, Arvin memang mengetahui kekejaman yang dilakukan oleh kedua kakak angkatnya, tapi ia tidak menyangka jika kedua kakak angkat Erina, akan sekejam dan setega itu padanya,
****
Sementara itu,
Kevin dan Theo nampak sedang berolahraga di dalam sel mereka, dengan menggunakan benda benda yang ada, mereka melatih otot otot mereka selama mereka berada di balik jeruji,
"Hey! Untuk apa kalian berolahraga keras seperti itu? Benar benar kurang kerjaan!" Ledek seorang opsir penjaga.
Kevin dan Theo pun hanya terdiam dan terus melakukan aktivitasnya,
Tiba tiba Theo pun berhenti, Ia terlihat sangat kesal dan marah, sehingga ia memukul dinding sel dengan cukup keras, dan membuat tangannya sedikit terluka
"Berhenti melakukan hal bodoh!!" Teriak Kevin
Rahangnya Theo pun mengeras dan menatap tajam ke arah Kevin,
"Aku benar benar sangat membenci wanita licik itu! Rasanya, Aku ingin membunuhnya dengan tanganku! Gara gara dia, Tanganku ini sampai tega melukai adik kandung ku sendiri!" Ucap Theo dengan mata berkaca kaca, ia melihat kedua tangannya dan teringat bagaimana dengan kejamnya ia menyiksa Erina,
Kevin pun menepuk bahu Theo,
"Kita harus memikirkan cara untuk melarikan diri, Tujuan ku sekarang adalah mencari Erina, dan membunuh wanita iblis itu dengan tanganku sendiri! Aku siap Dihukum untuk itu, asal kan wanita itu sudah benar benar mati!" Ujar Kevin sambil mengepalkan kedua tangannya,
Terlihat bara api kebencian dan dendam di mata Kevin dan Theo,
Penyesalan mereka atas perbuatan mereka terhadap Erina, benar benar menyiksa mereka, mereka yang baru mengetahui kebenaran tentang Erina dari Lilian pun, menyusul rencana agar dendam mereka terbalaskan.
****
Hari ini, Billy berencana mengajak Kirana untuk berbelanja, Kirana yang awalnya menolak akhirnya mau menuruti permintaan Billy,
Mereka pun pergi bersama ke pusat perbelanjaan,
Billy membelikan beberapa baju untuk Kirana, setelah selesai, Billy pun mengajak Kirana untuk makan siang di restoran milik Ryan,
"Kau mau pesan apa?" Tanya Billy,
Kirana pun melihat lihat buku menu yang diberikan oleh pelayan disana,
"Aku, ingin yang ini."
Billy menatap heran ke arah Kirana,
"Itu makanan yang cukup pedas, apa kau yakin mau yang ini?"
Kirana pun mengangguk seraya tersenyum menatap ke arah Billy,
"Baiklah,"
Tak lama kemudian pesanan mereka pun datang,
Kirana terlihat sangat lahap memakannya, sedangkan Billy hanya menatap heran ke arah Kirana,
'Apa kesukaan seseorang bisa berubah karena kehilangan ingatannya?' Batin Billy.
Namun, Billy yang tidak mau ambil pusing pun menghiraukan rasa herannya,
Kirana berpamitan untuk pergi ke toilet, saat itu Ryan pun menghampiri Billy,
"Kau lihat? Bahkan makanan kesukaannya pun berubah, Apa kau tidak merasa aneh pada Kirana?" Tanya Ryan tiba tiba,
Billy pun menatap Ryan,
"Kesukaan itu bukanlah tolak ukur seseorang, karena kesukaan itu bisa saja berubah seiring waktu,"
Ryan pun tersenyum di sudut bibirnya,
"Bagiku, sesuatu yang sudah aku sukai, tidak akan dengan mudah bisa dihilangkan, apalagi itu adalah sebuah kebiasaan,"
Ryan pun melangkah pergi meninggalkan Billy yang terpaku,
****
Sesampainya di rumah, Kirana yang merasa kepanasan pun langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian yang terbuka, Billy yang masuk ke dalam kamar hanya terdiam,
"Kenapa, kau berdiri disitu?" Tanya Kirana yang tengah menyisir rambutnya.
'Degh'
Billy merasakan sesuatu yang janggal pada diri Kirana,
Erina dulu bisa sampai berteriak histeris jika dirinya masuk ke dalam kamar pada saat Erina menggunakan pakaian terbuka, tapi Kirana justru sebaliknya,
Billy memutuskan untuk melangkah keluar kamar,
"Kau mau kemana?" Tanya Kirana
"Emm, Aku haus, mau ke dapur dulu!"
Billy pun menutup pintu kamarnya, Ia tampak sedang berpikir, namun ia melanjutkan langkahnya menuju ke dapur,
Billy meneguk segelas air mineral yang ia ambil dari lemari pendingin, Ia pun bersender dan kembali memikirkan ucapan yang dilontarkan oleh Ryan,
Ia kemudian menyimpan gelas tersebut di wastafel, tiba tiba asisten rumah tangganya pun masuk sambil membawa keranjang cucian,
"Selamat malam Tuan,"
Billy hanya mengangguk, namun tiba tiba ia bertanya pada asistennya,
"Bi, Emm.. Selama ini bibi cukup dekat dengan Erina bukan?"
"I-iya Tuan, Lalu kenapa?"
"Bi, Apa menurut bibi, Kirana itu adalah Erina?" Tanya Billy langsung
"Emm, Menurut saya.. Tapi mohon maaf sebelumnya Tuan, saya tidak memiliki maksud apa apa, hanya saja saya rasa Nona Kirana bukanlah Nona Erina,"
Billy pun mengangguk pelan,
"Kenapa, Bibi bisa memiliki kesimpulan seperti itu?"
"Emm, Ada beberapa kebiasaan Nona Erina yang saya Tahu, tapi tidak ada pada diri Nona Kirana, Nona Erina sangat suka memasak, apalagi untuk makan siang Tuan, berbeda dengan Nona Kirana, Ia hanya…."
"Hanya apa?" Tanya Billy,
"Maaf, Nona Kirana lebih suka menghabiskan waktunya di dalam kamar, bahkan terkadang saya mendengar suara tawa cukup keras dari dalam kamar,"
Billy pun terdiam,
Asisten rumah tangga itu pun berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya,
Billy kembali termenung,
Semua orang terdekatnya, berpendapat jika Kirana bukanlah Erina yang ia yakini, Tapi… Apa itu benar?
Di tengah lamunannya, tiba tiba sepasang tangan mungil melingkar di pinggangnya,
"Kenapa melamun disini?"
Billy pun membalikkan tubuhnya, dan melihat Kirana yang kini berada di hadapannya,
Kirana mengelus lembut pipi Billy, sambil tersenyum ia pun mencoba untuk menggoda Billy,